Dekatkan Hubungan Indonesia dan Australia, Dubes Australia Kunjungi Jogja

KULIAH UMUM - Paul Grigson memberikan kuliah umum di R. Seminar Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Rabu (2/9/2015). (Foto: Humas UGM)
KULIAH UMUM – Paul Grigson memberikan kuliah umum di R. Seminar Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Rabu (2/9/2015). (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Selama ini, baik Australia maupun Indonesia, lebih banyak mengeksplorasi perbedaan. Padahal, di antara kedua belah pihak sebenarnya banyak memiliki kesamaan yang tidak banyak dimunculkan.

“Antara masyarakat Indonesia dan Australia tidak paham, sebenarnya mereka saling bekerja sama. Misalnya, dalam bantuan biaya pendidikan,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, saat berkunjung ke UGM, Rabu (2/9/2015), dirilis Humas UGM.

Menurutnya, secara geografis, Indonesia dan Australia lebih dekat jika dibandingkan dengan Amerika atau negara Asia lain. Namun kenyataannya, warga Indonesia lebih banyak melanjutkan studi ke negara-negara Asia. Sebaliknya, warga Australia lebih banyak memilih studi ke Amerika Serikat atau negara lain, daripada Indonesia.

“Saat ini, sudah ada beasiswa New Colombo Plan, sehingga memungkinkan kerja sama, terutama bidang pendidikan kian ditingkatkan,” terang Grigson.

Sementara itu, Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM, I Made Andi Arsana, mengatakan, kunjungan Dubes Australia untuk lebih mendekatkan hubungan Indonesia-Australia, khususnya bidang pendidikan.

Ia menjelaskan, UGM memiliki sejarah kerja sama panjang dengan berbagai universitas di Australia. Saat ini, UGM memiliki 16 kerja sama aktif dengan universitas-universitas di Australia. Bentuk-bentuk kerja sama tersebut, antara lain student exchange, double degree, dan kolaborasi riset.

“Beberapa universitas yang melakukan kerja sama dengan UGM baru saja berkunjung pada bulan Agustus, di antaranya Monash University, Flinders University, dan Australian National University (ANU),” terang Andi.

Bertemu Gubernur DIY

Pada hari yang sama, Dubes Grigson juga bertemu Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, di Gedhong Wilis Kepatihan Yogyakarta. Pertemuan mengeksplorasi hubungan kerja sama pendidikan dan kebudayaan.

Dilansir dari Humas DIY, dalam pembicaraan yang sangat antusias, keduanya tengah menjajaki kerja sama dalam berbagai hal, antara lain ekonomi kreatif berbasis kebudayaan, teknologi informasi proyek animasi (software developing), energi terbarukan surya dan angin, pengelolaan air, kemaritiman, dan lingkungan hidup.

Gubernur DIY telah berencana, pada akhir bulan ini segera ke Victoria untuk menindaklanjuti rencana kerja sama Sister City Yogyakarta-Victoria. Kedua daerah sama-sama memiliki kekayaan kebudayaan dan pendidikan tinggi.

“Khususnya dalam bidang pendidikan, Yogyakarta sedang mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan ilmu kemaritiman antara UGM dengan Tasmania,” ungkap Sultan.

Masalah kebutuhan air bagi 3,6 juta warga DIY juga dibicarakan. Pasalnya, pemenuhan kebutuhan air yang bersumber dari mata air kawasan Merapi diperkirakan akan semakin sulit.

Grigson menilai, Yogyakarta identik dengan Kota Batik. Dalam kesempatan itu, ia menghadiahi Sultan, Batik Aboriginal Yirrkala, merupakan kolaborasi antara Pusat Kebudayaan Yirrkala dari Bumi Arnheim Timur Laut dengan bisnis pembuatan batik tradisional di Pekalongan, Jawa Tengah.