Gandeng Belanda, BPTP Yogyakarta Gelar TOT Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir Cabai Merah

GANDENG BELANDA - TOT Budidaya Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir Cabai Merah Berdasarkan Konsepsi PHT. (Foto: BPTP Yogyakarta)
GANDENG BELANDA – TOT Budidaya Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir Cabai Merah Berdasarkan Konsepsi PHT. (Foto: BPTP Yogyakarta)

Gondokusuman, JOGJADAILY ** Sosialisasi teknologi budidaya bawang merah-cabai merah berdasarkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) kepada para petani melalui penyuluh sangatlah penting. Hal tersebut dapat meningkatkan produksi bawang merah dan cabai merah dengan biaya pemeliharaan yang rendah.

Demikian disampaikan Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Liferdi, dalam Training of Trainer (TOT) Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir Cabai Merah Berdasarkan Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), di Aula BPTP Yogyakarta, Selasa (15/9/2015), dirilis Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta.

TOT sebagai salah satu upaya strategis memenuhi ketersediaan sumberdaya manusia, khususnya penyuluh pertanian yang kompeten, dalam mendukung peningkatan produksi komoditas bawang merah dan cabai merah di wilayah DIY.

Acara digelar selama dua hari, 15-16 September 2015, serta diikuti 30 peserta, terdiri dari Petugas lapang (PPL) dari penyuluh 4 Kabupaten (Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul), Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), dan peneliti/penyuluh lingkup BPTP Yogyakarta.

BPTP Yogyakarta bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Sayuran dan Wegeningen University and Research Center The Netherlands untuk memaksimalkan TOT.

Materi disampaikan Herman dari Wegeningen University and Research Center The Netherlands, meliputi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir dengan Cabai Merah, Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir dengan Cabai Merah, Penggunanan Pestisida pada Budidaya Bawang Merah Tumpanggilir dengan Cabai Merah.

“Saya mengimbau agar peserta TOT dapat lebih memahami dan mengimplementasikan PHT, khususnya untuk komoditas bawang merah dan cabai merah. Selain itu, peserta TOT diharapkan dapat meneruskan inovasi teknologi bawang merah sesuai konsep PHT ke stakeholders dan petani,” tutur Kepala BPTP Yogyakarta, Sudarmaji.

Bawang Merah Pancasona Lebih Disukai

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dimanfaatkan sebagai bumbu dalam bentuk basah maupun bentuk olahan. Salah satu bentuk olahan yang sering digunakan sebagai aroma masakan berupa bawang merah goreng sering disebut bawang goreng.

DISUKAI - Jenis bawang merah varietas pancasona yang diminati masyarakat. (Foto: BPATP Litbang Pertanian)
DISUKAI – Jenis bawang merah varietas pancasona yang diminati masyarakat. (Foto: BPATP Litbang Pertanian)

Rasa bawang goreng memiliki rasa dan aroma yang berbeda tergantung jenis varietas yang digunakan. Hasil penelitian BPTP Yogyakarta menunjukkan bahwa bawang merah varietas Pancasona lebih disukai dibandingkan varietas lain, semisal varietas Bima, Katumi, Tiron, Crok Kuning, Super Philip, atau Biru.

Kesukaan bawang goreng diukur dengan kreteria aroma, rasa, tekstur dan warna, serta kesukaan terhadap lima jenis bawang goreng. Bawang goreng varietas katumi lebih disukai dibandingkan varietas lain berdasarkan warna, sedangkan varietas Super Philip disukai karena teksturnya. Bawang goreng Pancasona paling banyak disukai karena aroma dan rasa serta kesukaan secara keseluruhan terhadap lima bawang yang dilakukan penelitian melalui uji organoleptik.

Ciri varietas Bawang Merah Pancasona memiliki umur panen berkisar 75 hari dengan potensi hasil bawang berkisar antara 6,90 sampai dengan 23,70 ton/ha. Sementara masa simpan mampu bertahan antara 3 sampai dengan 4 bulan dalam keadaan normal.