Gladhen Karya Sastra Jawa 2015 Tahap II Diikuti 50 Penulis Sastra Jawa

TAHAP II - Gladhen Karya Sastra Jawa 2015 Tahap II digelar Dinas Kebudayaan DIY di Hotel Museum Batik, Rabu-Kamis (9-10/9/2015). (Foto: Arif Giyanto)
TAHAP II – Gladhen Karya Sastra Jawa 2015 Tahap II digelar Dinas Kebudayaan DIY di Hotel Museum Batik, Rabu-Kamis (9-10/9/2015). (Foto: Arif Giyanto)

Danurejan, JOGJADAILY ** Setelah sukses menggelar Gladhen Karya Sastra Jawa 2015 Tahap I, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar acara serupa Tahap II. Sekira 50 penulis Sastra Jawa yang hadir, antusias bertukar pikiran tentang pentingnya berbahasa Jawa.

“Mirip dengan Tahap I, Gladhen Karya Sastra Jawa 2015 Tahap II juga diikuti 50 peserta. Mereka adalah para penulis Sastra Jawa. Banyak dari mereka mengajar pelajaran Bahasa Jawa,” ujar Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dwiyanto Budi Utomo, kepada Jogja Daily, di Hotel Museum Batik, Rabu (9/9/2015).

Gladhen digelar dua hari, Rabu-Kamis (9-10/9/2015), menghadirkan dua narasumber mumpuni, Guru Besar Pendidikan Bahasa Jawa pada Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Suwardi Endraswara dan Sri Haryatmo dari Balai Bahasa DIY.

“Apabila digabungkan, dari dua Gladhen, telah terkumpul 100 Penulis Sastra Jawa. Mereka akan didorong menulis Sastra Jawa berupa Geguritan dan Cerkak untuk kemudian diseleksi bertahap, hingga kemudian diterbitkan dalam bentuk antologi,” tutur Dwi.

Jatidiri Jogja

Dwi menjelaskan, program penulisan Sastra Jawa dapat menguatkan jatidiri kejogjaan. Nilai moral dan etika Jawa dapat tertransformasi lebih baik, terutama kepada generasi penerus, dengan pelatihan dan lomba penulisan Sastra Jawa.

“Bagi saya, Sastra Jawa sangatlah penting. Karena, akar kebudayaan Jawa dapat dilihat dari sana. Melahirkan penulis Sastra Jawa dari waktu ke waktu menjadi prioritas utama untuk melestarikan kebudayaan Jawa,” tegasnya.

Serbuan kebudayaan asing saat ini, sambungnya, dapat dibentengi dengan mempertahankan dinamika Sastra Jawa. Karakter tersebut secara alamiah akan menolak kebudayaan non-Jawa yang tidak sesuai dengan kepribadian Jawa.

“Para leluhur telah memberikan fondasi Sastra Jawa yang perlu dijaga. Jatidiri Jawa yang direpresentasi Jogja dapat terus menguat, bila Sastra Jawa mendapat tempat yang layak dalam masyarakat,” terang Dwi.

Selama ini, pihaknya terus berkreasi untuk meluncurkan program berkala dan berkelanjutan, agar Sastra Jawa dapat terus dikenal oleh masyarakat luas, terutama generasi muda. Tidak hanya sekitar Jogja, tapi juga menggandeng Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Untuk menarik anak-anak muda agar mencintai kebudayaan dan Sastra Jawa, Dinas Kebudayaan DIY menggelar bermacam pelatihan dan lomba. Dengan demikian, kita tidak akan krisis penulis Sastra Jawa,” ucapnya.

Kalender Jawa

Pada kesempatan berbeda, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMA DIY, Setya Amrih Prasaja, berpendapat, bermacam faktor menyebabkan Jogja menjadi istimewa. Salah satunya, keberadaan Aksara Jawa sebagai pembentuk identitas kultural. Bahasa Jawa, selain merupakan peranti pokok transformasi keilmuan Jawa, juga pembentuk utama identitas Jogja.

“Budaya Jawa, salah satu pembentuknya adalah Bahasa Jawa. Sementara Bahasa Jawa tentu saja bertumpu pada Aksara Jawa. Hilangnya Aksara Jawa akan menghilangkan Bahasa Jawa, lantas selanjutnya menghilangkan kebudayaan Jawa,” ucapnya.

Ia menerangkan, Kebudayaan Jawa bukanlah produk peradaban kemarin sore. Ketuaan sejarah dan kedalaman filosofi menempatkan Jawa bukan hanya sebagai sentral peradaban, tapi juga pedoman laku yang tidak mengingkari agama.

“Orang Jawa sejak lama meyakini keesaan Tuhan, berperilaku ramah pada sesama, menjunjung tinggi keilmuan, dan rendah hati. Hal tersebut dapat dilihat dari peninggalan sejarah seperti candi dan keraton-keraton yang hingga kini masih eksis. Dapat pula dilihat dari cara berpakaian Orang Jawa, pun dengan Bahasa Jawa,” tutur Guru Bahasa Jawa SMAN 2 Bantul tersebut.

Karena meyakini peran Aksara Jawa sebagai pembentuk identitas, Setya terus berupaya memudahkan generasi penerus untuk belajar aksara-aksara yang hampir sebagian besar Suku Jawa hari ini tidak menguasainya.

“Saya mengkreasi Kalender Jawa. Setidaknya, hal tersebut menjadi upaya kecil saya untuk memperkenalkan khazanah keilmuan Jawa pada kadar sederhana, kepada khalayak, terutama generasi penerus. Kalau biasanya penanggalan Jawa menjadi pelengkap, dalam Kalender Jawa yang saya kreasi, justru penanggalan Masehi yang dijadikan pelengkap,” pungkas alumnus UGM itu.