Idul Adha 1436 H, Gubernur DIY Serahkan Tujuh Ekor Sapi Qurban

HEWAN QURBAN - Gubernur DIY diwakili Sekretaris Daerah, Ichsanuri, menyerahkan tujuh ekor sapi qurban di Kepatihan, Selasa pagi (22/9/2015). (Foto: Coki Anwar)
HEWAN QURBAN – Gubernur DIY diwakili Sekretaris Daerah, Ichsanuri, menyerahkan tujuh ekor sapi qurban di Kepatihan, Selasa pagi (22/9/2015). (Foto: Coki Anwar)

Kepatihan, JOGJADAILY ** Selasa pagi (22/9/2015), menyambut Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1436 H, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta diwakili Sekretaris Daerah, Ichsanuri, menyerahkan hewan qurban berupa tujuh ekor sapi. Acara digelar di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY.

Sapi-sapi qurban diterima Takmir Masjid Gede Kauman, Takmir Masjid Puro Pakualaman, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kabupaten Bantul, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, serta Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Bobor masing-masing ditaksir sekira 700 kilogram.

“Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, semua umat Islam yang tidak melaksanakan haji merayakan Hari Raya Idul Adha. Pada hari itu, mereka menyembelih hewan qurban untuk kemudian dibagi-bagikan kepada umat Islam yang lain. Dan bagi mereka yang mampu sangat dianjurkan untuk berqurban,” ujar Ichsanuri.

Sebagaimana diketahui, berqurban, di samping menunaikan perintah dalam syariat agama Islam, juga memberikan pesan moral yang baik. Hal tersebut merupakan salah satu upaya menghilangkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin di Hari Raya Idul Adha yang berbahagia.

“Pada akhirnya, kedua golongan ini akan hidup secara berdampingan, saling tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat dengan penuh kedamaian dan nuansa persaudaraan yang tinggi,” kata Ichsanuri.

Ia mengutip hadits yang diriwayatkan At-Tarmuzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim bahwa tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, yang lebih dicintai Allah selain daripada menyembelih hewan qurban.

“Sesungguhnya, hewan qurban itu pada Hari Kiamat kelak akan datang beserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah hewan qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu,” pungkasnya.

Muhammadiyah: Pemerintah Sangat Berkemajuan

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai, Pemerintah telah sangat berkemajuan dalam menyikapi perbedaan. Menurutnya, perbedaan penetapan waktu pada hari raya adalah murni karena masalah ijtihad dalam menentukan waktu-waktu Ibadah.

“Perbedaan, baik itu Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha sudah sering terjadi, baik di Tanah Air atau dalam pelaksaan wukuf ibadah haji. Seperti pada 2014 lalu, penetapan Idul Adha Muhammadiyah sama dengan Arab Saudi. Namun, pemerintah RI berbeda dengan Arab Saudi. Tahun ini, Pemerintah sama dengan Arab Saudi, dan Muhammadiyah berbeda,” terang Haedar saat Jumpa Pers PP Muhammadiyah tentang Penetapan Idul Adha 1436 H, di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat kemarin (18/9/2015).

Muhammadiyah meminta seluruh pihak untuk memberikan toleransi dalam melaksaakan ibadah Shalat Idul Adha pada 23 September 2015. Hal tersebut, kata Haedar, merupakan hak konstitusi warga negara Indonesia.

Ia mengatakan, pemerintah dan pemerintah daerah hendaknya mengizinkan dan mempermudah penggunaan fasilitas umum untuk pelaksanaan Shalat Idul Adha, karena melaksanakan ibadah merupakan hak asasi manusia dan hak warga negara yang dijamin dan dilindungi UUD 1945.

“Kami juga mengimbau warga Muhammadiyah agar dalam melaksanakan ibadah berkoordinasi dengan pihak yang berwenang, menjaga dan memelihara ukhuwah islamiyah, ketertiban umum, dan toleransi terhadap umat Islam yang melaksanakan shalat Idula Adha pada hari yang berbeda,” ucap Haedar.