Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram, Kebajikan Mataram Wujudkan Windu Kencana

KAWRUH JIWA - Akademisi Universitas Wahidiyah, Sunarno (kiri) tengah memberi penjelasan dalam Sekolah Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. (Foto: Arif Giyanto)
KAWRUH JIWA – Akademisi Universitas Wahidiyah, Sunarno (kiri) tengah memberi penjelasan dalam Sekolah Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. (Foto: Arif Giyanto)

Sewon, JOGJADAILY ** Anda pernah mendengar nama Ki Ageng Suryomentaram? Bagi Anda yang belum tahu, Ki Ageng Suryomentaram adalah putra ke-55 pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo, putri Patih Danurejo VI.

Ki Ageng Suryomentaram memiliki nama bangsawan Bendoro Raden Mas (BRM) Kudiarmadji dan setelah umur 18 tahun diberi nama kebangsawanan Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram.

Ia menjadi guru aliran kebatinan bernama Kawruh Begja atau Ilmu Begja (ilmu bahagia). Salah satu ajaran moral dari Ilmu Begja yang sangat populer pada masa itu adalah Aja Dumeh yang artinya jangan menyombongkan diri; jangan membusungkan dada; jangan mengecilkan orang lain karena diri sendiri lebih berpangkat tinggi, berkuasa, atau kaya raya. Sebab, manusia itu pada hakikatnya adalah sama.

Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menggelar Sekolah Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram 3, pada 3-6 September 2015, di UGM dan Dusun Balong, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

“Tujuan dari diuraikannya Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram adalah agar orang dapat hidup bahagia dalam situasi seperti apa pun,” ujar salah seorang pemateri, Sunarno, kepada Jogja Daily.

Ia menjelaskan, sederhananya, dalam konteks personal, bagaimana pribadi-pribadi yang mempelajari, mendalami, dan menerapkan ajaran-ajaran Kawruh Jiwa dapat hidup bahagia. Sementara dalam konteks kelompok, orang-orang yang ada di dalam satu kelompok juga dapat hidup dalam kebahagiaan. Artinya, kelompok tersebut adalah kumpulan orang-orang yang berbahagia.

“Jadi Presiden, dapat bahagia. Jadi rakyat, dapat bahagia. Jadi Kyai atau Ustadz, bisa bahagia. Jadi santri atau murid, juga bisa bahagia. Jadi bos perusahaan, bisa bahagia. Jadi kuli, juga bisa bahagia. Jadi apa pun dan siapa pun, dapat hidup bahagia. Inilah tujuan dari Kawruh Jiwa,” terang akademisi Universitas Wahidiyah Kediri tersebut.

Lebih global lagi,sambungnya, Kawruh Jiwa memiliki puncak tujuan, yaitu terwujudnya Windu Kencana, yakni sebuah zaman di mana orang-orang secara bersama-sama merasakan bahagia, tenteram, dan damai.

Rasa Persatuan

Sunarno menerangkan, rasa (raos) persatuan erat hubungannya dengan kelompok. Menurut Ki Ageng Suryomentaram, rasa bersatu mengandung ‘yang dibersatui’, yakni ‘yang dicintai’. Jadi, persatuan terjadi dari rasa cinta-mencintai atau dari rasa cinta dari segala pihak yang berinteraksi terhadap suatu hal. Contoh, persatuan Indonesia, berarti orang-orang bersatu dalam keindonesiaan; orang-orang mencintai Indonesia.

“Rasa pada diri manusia dibagi menjadi dua, rasa enak (sekeca) dan rasa tidak enak (mboten sekeca). Untuk merasakan enaknya dalam berinteraksi dengan orang lain (sesrawungan), seseorang sangat perlu mengerti rasanya orang lain. Kalau tidak mengerti rasanya orang lain maka ketika sesrawungan dengan orang lain pun juga tidak akan enak,” tutur alumnus pascasarjana Fakultas Psikologi UGM ini.

Rasa tidak enak ketika berinteraksi dengan orang lian inilah, lanjutnya, wujud dari sulaya (ketidakharmonisan). Sulaya dapat membuahkan pasulayan, maksudnya dapat berbuah perang; bedhil-bedhilan. Sementara buah dari raos persatuan adalah enak bersama (sekeca sesarengan).

Sunarno menandaskan, persatuan dalam konteks Pancasila ada pada sila ketiga, Persatuan Indonesia. Dengan demikian ada dalam kabangsan (kebangsaan). Hidup berbangsa berarti hidup mengelompok (bergerombol).

“Ki Ageng Suryomentaram menganalogikan hidup berkelompok itu sebagaimana hidupnya tawon dan semut yang cara hidupnya adalah alap ingalap paedah, saling memberikan manfaat. Inilah yang dinamakan gotong royong,” ucap penulis tesis ‘Pemahaman dan Penerapan Ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram tentang Raos Persatuan dalam Kehidupan Sehari-Hari’. Studi dilakukan di Dusun Balong, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

Ia mengatakan, demikianlah hendaknya cara hidup berbangsa, saling memberikan manfaat kepada siapa pun, meskipun berbeda. Cara hidup yang alap ingalap paedah akan melahirkan rasa menghormati dan menghargai terhadap sesama (liyan).

“Inilah sebenarnya kamanungsan, rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan berarti mengakui hak kemerdekaan orang lain. Bahwa kemerdekaan orang lain adalah sama dengan kemerdekaan dirinya sendiri. Sebab, kemerdekaan setiap orang itu sama,” kata budayawan kelahiran Mantingan, Ngawi, ini.

Dengan demikian, tambahnya, akan lahir sikap rasa adil kepada siapa pun dan rasa welas asih; tidak berperilaku yang menyakiti (mitunani) orang lain. Menurutnya, hal tersebut adalah raos Pancasila sila keempat, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Dusun Balong, Pembelajar Kawruh Jiwa

Adalah Dusun Balong, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Para warganya adalah para pembelajar Kawruh Jiwa dan menerapkan ajaran raos persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi warga Balong, rasa persatuan dipahami sebagai rasa sama (raos sami), tidak ada sekat di antara para warga, baik kaya-miskin, tua-muda, berpangkat-tidak berpangkat. Semua melebur dan luluh dalam rasa kekeluargaan.

Para warga hidup dalam keguyuban yang berarti keterpaduan di antara para warga. Rasa persatuan dipahami juga sebagai gotong-royong. Sejumlah 99 persen aktivitas sosial warga Balong dilakukan dengan gotong royong, sebagai rasa persatuan bagi mereka. Dengan rasa persatuan, hidup menjadi kaya (urip dadi sugih), hidup menjadi ringan (urip dadi entheng).

“Apa yang dilakukan oleh para warga Balong untuk mentransformasikan rasa persatuan tersebut kepada generasi muda bahkan generasi anak-anak? Para warga menggunakan kesenian sebagai media transformasi rasa persatuan, mulai dari Karawitan, Gejog Lesung, dan Sholawat Jawa,” papar Sunarno.

Ada dua kekhasan Dusun Balong. Pertama, kesenian kethoprak atau sandiwara. Para warga Balong mengadakan pentas Kethoprak Suryomentaraman yang melakonkan biografi Ki Ageng Suryomentaram. Biayanya, gotong royong para warga. Ada yang menyumbang beras satu kilogram, gula, pisang, dan lain-lain. Warga Balong pernah mementaskan sandiwara Raos Mlenet, salah satu ajaran memahami rasa manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram.

Kedua, Mars Balong Jaya, berbunyi Balong Timbulharjoku itu tempat tinggalku… Kawruh Jiwa landasanku… Untuk tingkatkan persatuanku, mari wargaku semua kita bersama-sama… Bersatulah dalam cita demi jaya Balong kita… Satukan tekad penuh semangat… Kawruh Jiwa etos kerja kita…Rahmat Tuhan jadi kekuatan… Dusunku pasti bisa… Rahmat Tuhan jadi kekuatan… Balong-ku pasti jaya.