Kelengkeng Super Sleman, Varietas Khusus Pengurang Dampak Pemanasan Global

PENYULUHAN - Fakultas Biologi UGM dalam Penyuluhan dan Penanaman Kelengkeng Super Sleman. (Foto: Humas UGM)
PENYULUHAN – Fakultas Biologi UGM dalam Penyuluhan dan Penanaman Kelengkeng Super Sleman. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Untuk mengurangi dampak pemanasan global, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar sosialisasi, penyuluhan, dan penanaman budidaya Kelengkeng Super Sleman. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaga keanekaragaman hayati.

“Budidaya kelengkeng yang dilakukan di Sleman saat ini diberi nama Kelengkeng Super Sleman. Kegiatan yang dilakukan Fakultas Biologi UGM bersama masyarakat merupakan salah satu bentuk kepedulian dalam melakukan penghijauan,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Budi Setiadi Daryono, di Gejayan Condong Catur, beberapa waktu lalu, dirilis Humas UGM.

Sementara itu, sambungnya, dari sisi bioteknologi lingkungan, sosialisasi dan penyuluhan budidaya kelengkeng diharapkan membantu pencegahan kerusakan lingkungan, konservasi tanah, air, udara dan lingkungan sekitar.

Karena, menurutnya, bioteknologi telah menjanjikan berbagai terobosan baru dan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam berbagai upaya peningkatan produksi pangan, perbaikan pelayanan kesehatan, perbaikan kualitas air minum, perbaikan efisiensi proses bioindustri, detoksifikasi limbah industri, dan perbaikan sistem reboisasi.

“Bioteknologi melalui modifikasi pemberian hormon dalam bidang pertanian tentu saja dapat meningkatkan produksi pangan yang lebih bermutu sebagai pemenuhan nilai gizi penduduk,” terang Budi.

Perubahan Iklim, Ancaman Serius

Sementara itu, Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof Suwarno, mengatakan, perkembangan jumlah penduduk dan industri di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung tinggi. Perkembangan tersebut tentu saja telah mengeksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan.

“Kondisi ini tentu menjadi ancaman serius terhadap ekosistem dan interaksi antara unsur biologis, yaitu mikroorganisme, tumbuhan dan hewan termasuk manusia serta unsur fisik, yakni tanah, air dan udara. Demikian juga dengan terjadinya perubahan iklim saat ini dan masa mendatang,” ucapnya.

Ia menjelaskan, perubahan iklim diperkirakan menjadi ancaman serius bagi biodiversitas yang ada, terutama pada aspek ketersediaan sumber pangan, akibat kenaikan suhu dan curah hujan, hingga mengganggu sistem perbungaan dan perbuahan pohon.

“Becermin dari masalah tersebut, kiranya diperlukan kesadaran bahwa keanekaragaman hayati bukan warisan nenek moyang, namun titipan anak cucu yang mesti dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Saat ini, kepedulian terhadap keberadaan keanekaragaman hayati sangatlah menurun. Karena itu, perlu upaya meningkatkan kepedulian dan pelestarian,” terang Suwarno.

Indonesia, sesungguhnya memiliki keragaman flora dan fauna. Meski begitu, lanjut Suwarno, tingginya keragaman diikuti pula dengan tingginya ancaman yang menyebabkan krisis keanekaragaman hayati. Padahal, seluruh lingkungan biosfer merupakan penunjang kehidupan di bumi, mulai dari laut dalam, daratan dan perairannya, serta lingkungan udara di atmosfer.

“Semua makhluk hidup bergantung pada lingkungan kehidupannya di biosfer, sehingga salah satu hal yang menjadi dasar pengetahuan biologi adalah keterkaitan organisme dengan lingkungan hidup dan habitatnya,” katanya.