Kelompok Tani Sido Makmur III, Empat Tahun Lampaui Target Produktivitas Jagung Bantul

LOMBA JAGUNG - Kunjungan tim penilai Kelompok Tani Berprestasi Komoditas Jagung Tingkat Nasional 2015 ke Bambanglipuro. (Foto: Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul)
LOMBA JAGUNG – Kunjungan tim penilai Kelompok Tani Berprestasi Komoditas Jagung Tingkat Nasional 2015 ke Bambanglipuro. (Foto: Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul)

Bambanglipuro, JOGJADAILY ** Selama empat tahun, Kelompok Tani Sido Makmur III, Dukuh Derman, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, berhasil melampaui target produktivitas jagung.

Kelompok tani ini memiliki produktivitas rata-rata di atas target produktivitas kabupaten, provinsi maupun nasional. Produktivitas mereka mencapai 103,37 ku/ha pada 2011; 108,21 ku/ha pada 2012; 106,42 ku/ha pada 2013; dan 135,64 ku/ha pada 2014.

Target produktivitas jagung nasional pada 2015 sebesar 50,39 ku/ha sedangkan sasaran DIY sebesar 46,43 ku/ha. Dari sasaran tersebut, Kabupaten Bantul menetapkan sasaran produktivitas sebesar 61,33 ku/ha pipil kering.

Kelompok Tani Sido Makmur III telah berkontribusi dalam pencapaian sasaran produktivitas yang ditetapkan. Dalam menjalankan usaha taninya, kelompok tersebut telah menjalin kemitraan dengan beberapa pihak, baik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) maupun pihak swasta.

Oleh karena itu, Kelompok Tani Sido Makmur III berhasil mewakili DIY dalam Lomba Kelompok Tani Berprestasi Komoditas Jagung Tingkat Nasional 2015 melalui.

Rabu (16/9/2015), tim penilai Kelompok Tani Berprestasi Komoditas Jagung Tingkat Nasional 2015 berkunjung ke Bambanglipuro.

Jagung sebagai Biofuel

Pada kesempatan itu, Penjabat Bupati Bantul, Sigit Sapto Raharjo, mengatakan, dewasa ini, jagung tidak hanya digunakan sebagai bahan baku pakan dan industri, bahkan mulai dilirik sebagai bahan bakar alternatif (biofuel).

“Kebutuhan jagung dunia maupun nasional yang semakin meningkat, terutama untuk kebutuhan bahan energi alternatif biofuel, akan menimbulkan dampak lain,” ungkap Sigit, dirilis Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul.

Dampak yang dimaksud, terutama pada krisis pangan berkepanjangan dibarengi terjadinya krisis keuangan global, meningkatnya harga energi, serta ketersediaan kebutuhan pangan maupun pakan ternak.

“Krisis pangan bisa jadi akan terus berlangsung, karena terjadi perebutan komoditas untuk melayani banyak permintaan, yaitu industri makanan, pakan, dan industri biofuel,” tutur Sigit.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut, sambungnya, upaya yang bisa dilakukan adalah memacu peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas, mengingat perluasan areal di Kabupaten Bantul sangat sulit dilakukan.