Kemampuan Linguistik, Potensi Perguruan Tinggi Indonesia Tingkatkan Riset dan Publikasi

PENTINGNYA RISET - Associate Professor University of California, Muhammad Ali, saat Public Lecture, Senin (28/9/2015), di Ruang Ampitheater Gedung Pascasarjana UMY. (Foto: Humas UMY)
PENTINGNYA RISET – Associate Professor University of California, Muhammad Ali, saat Public Lecture, Senin (28/9/2015), di Ruang Ampitheater Gedung Pascasarjana UMY. (Foto: Humas UMY)

Kasihan, JOGJADAILY ** Dalam beberapa hal, Indonesia memiliki kekurangan kekurangan dalam hal publikasi. Pada sisi lain, ada kelebihan strategis yang dimiliki perguruan tinggi di Indonesia, yakni dalam segi linguistik.

“Dalam segi linguistik, Indonesia memiliki kemampuan yang baik dibandingkan dengan orang Amerika. Orang Amerika hanya memahami 1 bahasa, tapi orang Indonesia memiliki kemampuan 4 bahasa, antara lain Indonesia, Arab, Inggris, dan bahasa daerah,” ujar Muhammad Ali, Associate Professor University of California saat Public Lecture, Senin (28/9/2015), di Ruang Ampitheater Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Dalam forum akademis bertema ‘How to Develop Research and Publication’ tersebut, Ali menjelaskan, dalam level aktif, kemampuan linguistik akademisi Indonesia masih baik, namun dalam level pasif, khususnya academic writing, masih kurang.

Menurutnya, dari segi SDM, Indonesia sangat kaya, dibandingkan dengan Amerika yang masih sangat kurang jumlah SDM. Dari segi topik, Indonesia memiliki banyak isu yang bisa diangkat untuk bahan penelitian menarik.

“Dan yang paling menarik adalah dari segi manuskrip tua yang ada di beberapa daerah. Tapi masih banyak peneliti di Indonesia yang kurang memberikan ketertarikan pada sejarah,” terang Ali, dirilis Humas UMY.

Masalah yang sering muncul, sambung lelaki asal Bandung ini, terkait dengan publikasi. Sebenarnya, banyak makalah yang dibuat, namun yang dipublikasikan sangat sedikit. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, Indonesia memiliki banyak hal yang bisa dibahas atau isu yang bisa dijadikan penelitian, sehingga akan ada isu-isu baru yang sangat menarik.

“Jika dari segi kuantitas, Indonesia sangat kalah jauh dibanding dengan negara ASEAN lain. Namun, dalam segi kualitas, paper di Indonesia masih dikatakan baik dan masih bisa diperdebatkan. Bahkan di Malaysia, kualitasnya tidak begitu baik, tapi mereka mampu memublikasikan papernya dalam jumlah banyak,” ungkap Ali.

Saat ini, katanya, banyak universitas di Indonesia yang mampu me-manage penelitiannya sendiri. Selain itu, banyak yang melakukan program exchange dengan universitas luar negeri. Kemajuan teknologi di Indonesia juga membantu penelitian.

Perbaikan Birokrasi Sistem Pendidikan

Untuk mempermudah akademisi di Indonesia bisa menerbitkan dan memublikasikan hasil penelitiannya, menurut Ali, universitas di Indonesia harus memperbaiki sistem birokrasi yang ada.

“Bukan hanya universitasnya, namun birokrasi sistem pendidikan di Indonesia harus diperbaiki; terlalu berbelit-belit. Seharusnya, jika ingin melakukan penelitian itu dipermudah, bukan dipersulit, sehingga tidak ada hambatan,” tegasnya.

Selanjutnya, membangun mentalitas ilmiah. Karena, sifat masyarakat Indonesia yang konsumtif dan user oriented akan mengurangi mentalitas ilmiah. Lebih lanjut, memperluas dan menambah jaringan riset untuk mempermudah penelitian. Terakhir, memperkuat kolaborasi antar-mahasiswa dan dosen untuk saling melakukan pendampingan dalam riset atau pembuatan paper.