Krisis Air Bersih Saat Kemarau, Pemkab Sleman Kembangkan Swakelola Jaringan Air Bersih Desa

KRISIS AIR - Penjabat Bupati Sleman, Gatot Saptadi, saat memberikan bantuan air bersih di Padukuhan Dlingosari Klumprit I Wukirharjo Prambanan, Rabu (2/9/2015). (Foto: Pemkab Sleman)
KRISIS AIR – Penjabat Bupati Sleman, Gatot Saptadi, saat memberikan bantuan air bersih di Padukuhan Dlingosari Klumprit I Wukirharjo Prambanan, Rabu (2/9/2015). (Foto: Pemkab Sleman)

Prambanan, JOGJADAILY ** Setiap kali datang musim kemarau, sebagian warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dirundung persoalan krisis air bersih. Masyarakat Kecamatan Prambanan menyiasatinya dengan membangun Jaringan Air Bersih Desa.

“Penyediaan air bersih melalui Paguyuban Pengelola Air Minum Perdesaan atau disingkat Perpamdes lebih murah dibandingkan dengan dropping air dari bawah ke atas,” ujar Penjabat Bupati Sleman, Gatot Saptadi, saat memberikan bantuan air bersih di Padukuhan Dlingosari Klumprit I Wukirharjo Prambanan, Rabu (2/9/2015), dirilis Pemkab Sleman.

Ia menjelaskan, penanganan krisis air di musim kemarau memerlukan komitmen dan langkah bersama, antara Pemkab Sleman, swasta, dan masyarakat.

“Langkah tersebut tidak sekadar pemberian bantuan berupa dropping air, tetapi lebih dititikberatkan pada upaya bagaimana menjaga kesinambungan jaringan air bersih yang mampu menjangkau masyarakat sepanjang waktu,” terang Gatot.

Menindaklanjuti minimnya sumber air bersih di Kecamatan Prambanan yang selalu terjadi ketika musim kemarau, sejumlah upaya dilakukan Pemkab Sleman. Salah satunya, pengembangan Jaringan Air Bersih Desa yang dikelola oleh masyarakat (swakelola).

“Jaringan air tersebut sudah terpasang di 5 desa di wilayah Prambanan, yaitu di Sambirejo, Gayamharjo, Wukirharjo, Sumberharjo, dan Bokoharjo. Namun demikian, infrastruktur tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan air ketika musim kemarau panjang seperti ini,” ungkap Penjabat Bupati Sleman.

Air merupakan kebutuhan pokok semua makluk hidup. Gatot berharap, masyarakat di Kecamatan Prambanan dapat mengelola pemakaian air dengan hemat dan tidak berebut air dengan sesama warga.

“Peran organisasi pengelola pemakai air harus lebih dioptimalkan. Jika terjadi permasalahan hendaknya dapat diselesaikan dengan cara baik-baik, di-rembug, dan diupayakan secara musyawarah kekeluargaan,” kata Gatot.

Ia menambahkan, hal yang perlu diwaspadai wilayah Prambanan adalah potensi kekeringan, angin ribut, tanah longsor, dan bahaya kebakaran. Masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati, terutama di musim kemarau, untuk tidak membakar sampah sembarangan; meminimalisasi bahaya kebakaran.

Bantuan Bank BPD DIY

Bantuan 150 tangki air untuk warga Prambanan didukung oleh Bank BPD DIY dalam program Corporate Social Responsibility (CSR). Bantuan diserahkan oleh Direktur Utama Bank BPD DIY, Bambang Setiawan, dan diterima Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi. Selanjutnya, bantuan diserahkan kepada masyarakat.

Bambang berharap, bantuan dapat dimanfaatkan dengan baik. Paling tidak, kebutuhan air dalam jangka pendek dapat terpenuhi.