Pilkada 2015, Hengki Purwoto: Pemimpin Daerah Harus Inovator yang Merakyat

JELANG PILKADA - Board of Researcher Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto. Ia berharap, Pilkada 2015 melahirkan pemimpin daerah yang inovatif dan merakyat. (Foto: Akun Facebook Hengki Purwoto)
JELANG PILKADA – Board of Researcher Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto. Ia berharap, Pilkada 2015 melahirkan pemimpin daerah yang inovatif dan merakyat. (Foto: Akun Facebook Hengki Purwoto)

Mlati, JOGJADAILY ** Sejumlah 263 provinsi, kota, dan kabupaten akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada Rabu (9/12/2015), termasuk Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul. Diharapkan, muncul pemimpin daerah yang inovatif dan merakyat.

“Kalau mau maju, daerah harus dipimpin seorang inovator yang merakyat. Kira-kira kombinasi antara Bu Risma (Walikota Surabaya) dan Ridwan Kamil (Walikota Bandung),” ujar salah satu Board of Researcher Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto, kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu.

Meski DIY tidak perlu meniru gaya Risma, sambungnya, karena masing-masing kota memiliki karakter yang berbeda, Hengki menggarisbawahi pentingnya pemimpin dan kepemimpinan.

“Saat ini di Indonesia sudah terbukti bahwa maju tidaknya kota sangat tergantung pada pemimpinnya. Pemimpin DIY saat ini tidak ada inovasi. Lebih parahnya, masyarakat melihatnya sebagai hal yang biasa,” tuturnya.

Ia mengatakan, Walikota Risma, misalnya, telah menunjukkan prestasi gemilang dan layak diteladani para pemimpin pemerintahan di daerah.

“Gaya kepemimpinan yang ikhlas dan menyatu dengan rakyatnya seperti yg dipraktikkan Bu Risma agaknya semakin jarang ditemukan di Indonesia,” ucap Hengki.

Ia juga menyayangkan para pemimpin daerah di DIY yang enggan mengambil risiko sosial, bersinggungan dengan pihak terdampak.

“Barangkali ke depan, ketika Pilkada, perlu ada debat publik yang gaduh untuk kriteria pemimpin yang bisa mengubah wajah daerah di DIY menjadi lebih baik. Sudah terlalu lama para pemimpin daerah di DIY bergaya birokrat,” pungkasnya.

Undang Walikota Risma

Selasa (25/8/2015), Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, memberikan kuliah perdana mahasiswa baru program pascasarjana UGM, di Grha Sabha Pramana UGM . Ceramahnya di hadapan sekira 3000 mahasiswa, Risma memaparkan berbagai program yang telah berhasil diimplementasikannya dalam kurun waktu 2010-2015.

Risma mengaku, membangun sumberdaya manusia bukanlah hal yang mudah. Tidak seperti membangun fasilitas fisik yang hasilnya bisa terlihat dengan cepat, pembangunan SDM membutuhkan proses panjang dan memakan waktu.

“Membangun SDM susah terlihat secara fisik, namun ini harus dilakukan untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik,” tandasnya, seperti dirilis Humas UGM.

Untuk menyukseskan implementasi program kebersihan, ia tidak segan-segan turun langsung ke lapangan, membersihkan lingkungan. Setiap hari, Risma berkeliling ke kampung-kampung di Kota Surabaya untuk mengajari warga menjaga kebersihan.

“Saya selalu bawah sapu dan tempat sampah di mobil. Begitu lihat sampah saya bersihkan sendiri. Warga pun jadi sungkan, akhirnya ikut membersihkan, karena merasa malu,” ungkapnya.

One thought on “Pilkada 2015, Hengki Purwoto: Pemimpin Daerah Harus Inovator yang Merakyat

  1. Justru undang2 ASN yg memperpanjang batas USIA pensiun yg memperkuat wajah pemerintah tetap mbirokratis. Boleeh saja tp begitu USIA 50thn mestinya ads test kompetensi wajib tiap 3 tahun. Gak lulus lsg pensiun

Comments are closed.