Rupiah Melemah, Pameran Mandiri Dekranasda Kota Yogyakarta Bangun Optimisme

RAMAI - Pameran Mandiri ke-10 Dekranasda Kota Yogyakarta di Atrium Utama Malioboro Mall, 23-27 September 2015. (Foto: Marlina Giyanto)
RAMAI – Pameran Mandiri ke-10 Dekranasda Kota Yogyakarta di Atrium Utama Malioboro Mall, 23-27 September 2015. (Foto: Marlina Giyanto)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Merespons rupiah yang melemah, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta menggelar Pameran Mandiri ke-10 bertema ‘Semangat Kreatif Jogja menuju MEA 2016’ di Atrium Utama Malioboro Mall, 23-27 September 2015.

“Sudah saatnya UMKM, khususnya member Dekranasda Kota Yogyakarta naik kelas, meski nilai rupiah sedang terpuruk,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya UMKM Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto, kepada Jogja Daily, semalam, Sabtu (26/9/2015), di Malioboro Mall.

Menurut Totok, begitu ia biasa disapa, melemahnya perekonomian tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi hampir semua Negara ASEAN. Momentum Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 atau ASEAN Economic Community (AEC) dapat memberi peluang strategis bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Yogyakarta, khususnya.

“Melalui momentum MEA, kita ambil kesempatan untuk maju beberapa langkah dengan memanfaatkan keistimewaan Jogja, berikut keistimewaan produk serta karakteristik dan nilai lebih SDM, yang bisa jadi tidak dimiliki daerah lain atau pun negara lain,” terang Totok.

Ia menegaskan, pameran kali ini mengirim pesan optimisme kepada pelaku usaha Kota Yogyakarta. Situasi perekonomian dunia yang memburuk, bukan hambatan untuk terus berkarya dan eksis. Dengan bergandeng tangan, semua masalah akan dapat dihadapi.

“Mundur satu langkah untuk maju beribu langkah, menggapai kesempatan emas,” pungkas Totok.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta, dalam sambutannya mengatakan, setiap penyelenggaraan pameran Dekranasda Kota Yogyakarta di Malioboro Mall selalu mendulang sukses.

Pada 2010, omset penjualan mencapai Rp128.042.800, lalu meningkat sebesar Rp240.996.500 pada 2011. Tahun 2014, dengan target Rp300 juta, hasil yang dicapai ternyata melampaui target, yakni sebesar Rp317.547.000.

Sejumlah 28 stand pameran menjajakan produk-produk unggulan Dekranasda Kota Yogyakarta, seperti batik, suvenir, kerajinan, bahan jumputan, busana etnik, kerajinan logam, aksesoris, handycraft, daur ulang sampah, tenun sutera alam, dan masih banyak lagi.

Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya UMKM Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto. (Foto: Marlina Giyanto)
Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya UMKM Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto. (Foto: Marlina Giyanto)

Rabu (23/9/2015), digelar Fashion Show Local dan Talkshow Pengrajin Batik. Hari kedua, Kamis (24/9/2015), diadakan Fashion Show Hijab, Talkshow Hijab, dan Enterntainment Show.

Memasuki hari ketiga, Jumat (25/9/2015), ada Peace Poster Contest, Talkshow Fashion, Entertainment Show. Sabtu (26/9/2015), ditampilkan Fashion Show Local, Talkshow UMK, dan Entertainment Show.

Pada hari terakhir, Minggu (27/9/2015), pameran diramaikan dengan Fashion Show Anak serta Traditional and Modern Dance.

Peningkatan Kapasitas SDM

Sebelumnya, tokoh Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, juga berseru optimisme. Kang Herry berkicau dalam akun twitter @herry_zudianto seputar peningkatan kapasitas SDM dan membangun loyalitas terhadap perusahaan.

“Giatkan kepedulian sosial dilingkungan kita ditengah tengah situasi ketidak pastian ekonomi,krn kesetiakawanan itu tdk bisa hanya dgn slogan.”

“Ujian kwalitas komitmen dan nilai integritas seseorang adlh saat ditawari jabatan berani mengatakan TIDAK krn tdk memberikan kebaikan.”

“Disaat lesunya ekonomi saat ini,pengusaha2 informal kuliner (warung2 kaki lima) menolong tingkat daya beli masy ekonomi bawah.”

“Disaat kelesuan ekonomi,teman2 pengusaha hendaknya memanfaatkan waktu utk peningkatan kapasitas SDM nya dan bangun loyalitas thdp perusahaan.”