Saling Menguntungkan, Kerja Sama DIY dengan Provinsi Gyeongsangbuk-Do Berlanjut

BERLANJUT - Penandatanganan Letter of Intent DIY dan Provinsi Gyeongsangbuk-Do, di Gedhong Jene, Kraton Yogyakarta, Selasa (1/9/2015). (Foto: Humas DIY)
BERLANJUT – Penandatanganan Letter of Intent DIY dan Provinsi Gyeongsangbuk-Do, di Gedhong Jene, Kraton Yogyakarta, Selasa (1/9/2015). (Foto: Humas DIY)

Kraton, JOGJADAILY ** Setelah berjalan 10 tahun, kerja sama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Gyeongsangbuk-Do, Korea Selatan, di bidang seni, budaya, pendidikan, dan pertanian-perikanan, terus berlanjut. Gerakan membangun desa ala Korsel (Saemaul-Undong) adalah salah satu sebabnya.

“Penandatanganan letter of intent (LOI) ini merupakan tindak lanjut kerja sama yang sudah berjalan 10 tahun, sama halnya kerja sama dengan Pemerintah Kyoto Jepang,” ujar Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, di Gedhong Jene, Kraton Yogyakarta, usai menandatangani berita acara kerjasama kedua belah pihak, Selasa (1/9/2015), dirilis Humas DIY.

Menurut Sultan, kerja sama berlanjut, salah satunya, karena karakteristik khusus Saemaul-Undong, yakni gerakan pembangunan desa menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik.

“Tujuan gerakan ini lebih dimaksudkan untuk mengubah pola pikir dan pilihan tindakan masyarakat desa dalam memperbaiki nasibnya. Saemaul-Undong didasari oleh disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab,” terang Gubernur.

Saemaul-Undong mengajak masyarakat untuk membangun kemampuan diri sendiri, sehingga menumbuhkan kepercayaan akan potensi yang dimiliki. Selain itu, membangun mentalitas bekerja dan memiliki etos kerja keras sebagai budaya baru bagi kehidupan yang lebih baik.

“(Dalam konteks ini), masyarakat diharapkan mampu bekerja sama secara baik dengan lingkungan internal dan eksternal untuk mewujudkan masyarakat desa yang maju, mandiri, dan sejahtera, sebagaimana yang dimaksudkan dalam tujuan didirikan Negara Republik Indonesia,” tutur Sultan.

Ia berharap, kerja sama ini tidak hanya melalui pemerintahan, tetapi dapat melibatkan kesenian sebagaimana kerja sama dengan Kyoto, seperti tarian, tukar menukar delegasi olahraga, sehingga terjadi akulturasi budaya.

“Kimono dari bahan batik, misalnya, sementara batiknya dibuat di Jogja,” ucap Sultan.

Menyinggung dimungkinkannya peningkatan kerja sama di bidang perekonomian, Gubernur mengatakan, hal tersebut sangatlah mungkin.

“Pabrik-pabrik besar memang ada di Gyeongsangbuk-Do, seperti LG. Bisa dimungkinkan, LG brtinvestasi di Jogja. Ini telah mulai dibicarakan, tetapi mestinya antar-pemerintah,” kata Sultan.

Rombongan Gubernur Gyeongsangbuk-Do, Kim Kwan Yong, berjumlah 15 orang. Selain bertemu Gubernur DIY, rombongan menyaksikan pentas Seni Jogja- Gyeongsangbuk-Do di Purna Budaya semalam, dan berkunjung ke UGM dan Borobudur pada hari ini.

KKN dan Gula Semut

Ketertarikan Pemerintah Korea Selatan untuk bekerja sama dengan DIY juga dalam bidang pendidikan dan investasi. Praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan investasi gula semut adalah beberapa contohnya.

Korean University Council for Social Service (KUCSS) berkunjung ke Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat (16/1/2015). Kunjungan dilakukan dalam rangka mengetahui mekanisme pelaksanaan pelayanan sosial atau sering disebut juga dengan pengabdian masyarakat di UII atau KKN, sekaligus membuka kemungkinan kerja sama, khususnya dalam hal pengabdian masyarakat berskala internasional.

Selanjutnya, pada Rabu (6/5/2015), Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, HE Mr Taiyoung Cho, dan sang istri, Gyeyoung Cho, serta Atase Kedutaan Besar Korea di Jakarta Lee Bang-Moo, berkunjung ke Yogyakarta.

Sepuluh desa di Indonesia dipilih Pemerintah Korea Selatan sebagai pilot project One Village One Product. Salah satunya, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo penghasil gula semut.