Sastra Peranakan Tionghoa, Sastra Indonesia tentang Moralitas Keseimbangan dan Harmonisasi

PBTY - Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2015 dibuka Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, Minggu (1/3/2015), di Kawasan Titik 0 Yogakarta.(Foto: Jia-Xiang)
PBTY – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2015 dibuka Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, Minggu (1/3/2015), di Kawasan Titik 0. (Foto: Jia-Xiang)

Depok, JOGJADAILY ** Gagasan moralitas untuk mencapai keseimbangan dan harmonisasi dengan lingkungan diusung Sastra Peranakan Tionghoa. Struktur teks karya sastra ini memperlihatkan gagasan mengenai konstruksi manusia ideal yang digambarkan mampu melakukan harmonisasi dan keseimbangan dengan alam.

“Seperti dalam struktur teks Lo Fen Koei (1930) karya Gouw Peng Liang yang memunculkan gagasan moralitas untuk mencapai keseimbangan dan harmonisasi dengan lingkungan,” ujar Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret (UNS), Dwi Susanto Jumat (4/9/2015), saat ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), dirilis Humas UGM.

Dalam mencapai moralitas tersebut, sambungnya, perempuan pribumi dijadikan simbol tradisi lokal atau adat pribumi yang harus diluruhkan identitasnya melalui penyatuan yang kurang baik adatnya dengan yang baik adatnya agar menjadi baik. Hal ini disimbolkan dalam perkawinan antara perempuan pribumi dengan laki-laki Tionghoa.

“Justru penyatuan tradisi ini tidak menunjukkan keseimbangan, karena meniadakan dan cenderung memandang yang lain tidak baik tradisi dan adatnya. Teks ini cenderung mengingkari persatuan yang sejajar antara yag dipandang kurang baik dengan yang dianggap baik,” terang Doktor kelahiran Tulungagung, 34 tahun lalu ini.

Ia mengatakan, dalam struktrur teks Sastra Peranakan Tionghoa menunjukkan adanya oposisi, seperti Barat versus Timur, global versus lokal, materialisme versus spiritualisme, perubahan versus anti-perubahan, liberalisme dan sosialisme versus ruh Dunia Timur, serta hal lainnya.

“Sastra peranakan Tionghoa merupakan salah satu karya sastra Indonesia. Seperti kebanyakan karya sastra pada umumnya, karya sastra peranakan Tionghoa sangat dipengaruhi oleh latar kehidupan para pengarangnya. Karya sastra ini memiliki keragaman topik, materi teks, sumber cerita, dan isu sebagai wujud atau simbol reaksi sosial suatu kelompok masyarakat,” jelas Dwi.

Resisten terhadap Konstruksi Identitas Dunia Barat

Dari penelitian yang dilakukan Dwi pada struktur teks Drama di Boven Digoel (1929-1932) karya Kwee Tek Hoay, terdapat resistensi terhadap konstruksi identitas subyek yang diungkapkan Dunia Barat, yaitu manusia sebagai pusatnya.

Kendati begitu, kata Dwi, teks ini tidak bersifat anti-Barat, namun oposisi antara keduanya didamaikan dan diharmonisasikan dengan gagasan spiritualitas. Spiritualitas yang digagas teks dijadikan sebagai penyeimbang dan harmonisasi keberadaan etnis dan keragaman di Indonesia.

“Gagasan yang dikemukakan sama halnya dengan gagasan kebangsaan atau nasionalisme dan menunjukkan penolakan terhadap ide yang dibawa oleh sturuktur masyarakat kolonial,” ungkapnya.

Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Dwi Susanto. (Foto: Humas UGM)
Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Dwi Susanto. (Foto: Humas UGM)

Selanjutnya, struktur teks Berdjoeang (1934) karya Liem Khing Hoo dibangun berdasar pada gagasan bahwa konstruksi identitas manusia dan tatanan masyarakat peranakan Tionghoa harus dikembalikan pada tradisi leluhur sebagai wujud keseimbangan dalam menghadapi berbagai perjumpaan tradisi. Melalui kontekstualisasi tradisi ini, gagasan keharmonisan dan keseimbangan dalam menentukan posisinya bisa tercapai.

“Seperti halnya dalam teks-teks sebelumnya, RA Moerhia (1934) karya Njoo Cheong Seng mengusung gagasan untuk kembali kepada lokalitas. Berbeda pada struktur teks Nona Tjoe Joe (1903) karya Tio Ie Soei justru memperlihatkan pilihan ambigu antara Barat dan Timur dengan memunculkan gagasan untuk hidup harmonis di antara kedua tradisi tersebut,” ucap Dwi.

Relasi antara struktur teks dengan struktur sosial, lanjutnya, dapat dilihat dari pola-polanya. Struktur teks memperlihatkan gagasan penolakan atau reinterpretasi terhadap manusia modern versi Dunia Barat. Sementara struktur yang berkembang mengemukakan pembentukan subyek sesuai cita rasa Dunia Barat.

“Sehingga dalam meresponsnya, melalui teks Sastra Peranakan Tionghoa melakukan destrukturisasi dengan penciptaan ulang manusia ideal sebagai cara bertahan dan mengamakan posisi. Sekaligus mendefinisikan ulang keadaannya saat dihadapkan pada gagasan manusia modern versi Dunia Barat,” tutur Dwi.

Ia menambahkan, hal utama yang dijadikan perjuang para pengarang Sastra Peranakan Tionghoa adalah cara menempatkan diri atau mengamankan posisi mereka. Upaya membela dan mempertahankan diri agar tetap aman dilakukan dengan mengembangkan strategi internalisasi nilai-nilai lokal, meresistensi gagasan kultural dan pembentukan subyek manusia Barat, serta mereaktualisasi tradisi leluhur yang disesuaikan perkembangan realitas.