Air dan Jalan, Solusi Optimalisasi Lahan Pertanian Bulak Srikayangan Kulon Progo

PANEN - Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, saat panen raya bawang merah di Bulak Srikayangan, Minggu (11/10/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)
PANEN – Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, saat panen raya bawang merah di Bulak Srikayangan, Minggu (11/10/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Sentolo, JOGJADAILY ** Untuk mengoptimalkan lahan pertanian Bulak Srikayangan di Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, dibutuhkan pengupayaan air dan jalan lebih baik. Masih banyak petani yang melakukan pengairan dengan pompanisasi dan mengandalkan air bawah tanah atau sumur bor.

“Ada dua permasalahan besar yang dialami oleh petani Srikayangan, yaitu air dan jalan,” ungkap Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, saat panen raya bawang merah di Bulak Srikayangan, Minggu (11/10/2015), dirilis Pemkab Kulon Progo.

Ia menjelaskan, untuk jalan, diharapkan ada saling koordinasi dengan SKPD terkait, sehingga bisa mempermudah petani menjual hasil pertaniannya.

Sementara untuk air, sambung Dokter Hasto, pada 2016 akan dibangun saluran sekunder. Meski demikian, saluran tersier belum bisa segera terpenuhi, sehingga masih perlu berkoordinasi dengan Dinas PU dan kebutuhan warga serta kejelasan pembebasan lahan.

“Diharapkan jika saluran air sudah bagus, petani bisa menekan pemakaian bahan bakar solar yang saat ini sudah menghabiskan biaya sekitar Rp40 juta. Dengan irigasi yang baik diharapkan petani juga bisa memanfaatkan potensi pertanian sampai 120 ha lahan,” tutur Bupati.

Kadispertahut Kulon Progo, Bambang Tri Budi Harsono, menambahkan, para petani sebaiknya bisa menjaga kekompakan untuk menjaga hasil panen yang bagus.

“Kemudian mohon pengawalan kondisi pertanaman, karena bawang merah adalah komoditas yang investasinya cukup besar, risikonya juga besar. Kuncinya adalah pengawalan,” terangnya.

Untuk menghadapi hama penyakit, lanjutnya, penyiraman diharapkan bisa dilakukan setiap hari, sebelum pukul 07.00, supaya jamurnya turun ke tanah. Sementara untuk pengendalian ulat diperlukan kekompakan.

“Jika ada permasalahan, mohon disampaikan ke kecamatan atau kabupaten,” kata Bambang Tri.

Terkait saluran tersier sepanjang 1,4 kilometer, Bambang meminta masyarakat untuk menyiapkan tanah, sehingga ketika hendak dibangun saluran tersier, sudah siap.

Didominasi Petani Bawang Merah

Sementara itu, Kades Srikayangan, Aris Puryanto, mengatakan, pada musim tanam ketiga untuk palawija, sebagian besar petani menanam bawang merah. Ada yang menanam secara tumpang sari dengan palawija lain.

Menurutnya, banyak hambatan pada musim tanam ketiga. Salah satu sebabnya berkaitan dengan pengairan. Sebagian wilayah tidak membuat sumur bor, karena jika dibuat sumur, proses pembuatannya memerlukan banyak biaya.

“Kondisi tanah di wilayah ini kering, sehingga tanah membengkah. Untuk ditanami bawang merah atau palawija yang lain perlu menggunakan air yang banyak. Untuk mengairi lahan 1000 meter persegi memakan waktu 3 hari 3 malam baru bisa basah, dan ini membutuhkan bahan bakar yang banyak. Ada yang menghabiskan BBM 50 liter atau lebih,” kata Aris.

Kades menyampaikan permasalahan ini kepada pejabat berwenang untuk diatasi. Setelah rehabilitasi jaluran irigasi, mulai 11 Agustus 2015, air mulai mengalir ke Srikayangan.

Selama 3 tahun terakhir, petani menggunakan saluran irigasi untuk pengairan sawah dengan pompanisasi. Pada 2014, pompanisasi baru mampu memanfaatkan lahan sekitar 20 ha. Pada tahun ini, dengan bantuan pompa dari Pemkab Kulon Progo, 40 hektar lahan dapat terairi.

Aris memandang pentingnya saluran irigasi secara gravitasi, sehingga akan sangat membantu petani, terutama pada saat pembasahan tanah.

Para petani memilih pipa untuk irigasi dibanding membuat sumur bor. Karena membuat sumur bor berbiaya Rp2-3 juta dan belum tentu bisa mendapatkan air.

“Dengan berbagai pertimbangan daripada membuat sumur bor, lebih baik untuk beli pipa menyalur dari saluran drainase,” ujar Kades.

Ada petani yang membutuhkan pipa hingga 100 batang. Pipa per batang berukuran 4 meter. Masyarakat agak khawatir, karena dengan luasan 230 ha sawah, saat ini ditanami bawang merah sekitar 100 ha, dan pompanisasi bisa mencakup 40 ha. Jadi, yang masih menggunakan sumur bor seluas 60 ha.

215 Ha

Desa Srikayangan memiliki lahan pertanian cukup luas, yaitu sekitar 215 hektar di Bulak Srikayangan. Para petani di tempat ini biasanya mematuhi penanaman pada tiga musim tanam (MT) dengan urutan padi-padi palawija.

Untuk tahun ini, Pemkab Kulon Progo mengharapkan petani Srikayangan menunda penanaman padi. Namun, karena saat MT 2 masih musim hujan, musyawarah petani di tingkat desa menyepakati tetap menanam padi.

Ternyata, dengan adanya rehabilitasi saluran irigasi, air tidak bisa dialirkan ke Bulak Srikayangan, sehingga banyak petani yang melakukan pengairan dengan pompanisasi dan mengandalkan air bawah tanah atau sumur bor. Pada MT 2, banyak padi yang puso.