Biodisel Minyak Jelantah, Bahan Bakar Alternatif Murah Meriah

JELANTAH - Minyak jelantah dihasilkan dari bermacam sumber, salah satunya penjual gorengan. (Foto: Wikimedia)
JELANTAH – Minyak jelantah dihasilkan dari bermacam sumber, salah satunya penjual gorengan. (Foto: Wikimedia)

Ngaglik, JOGJADAILY ** Setiap tahunnya, rata-rata konsumsi minyak goreng sawit di Indonesia mencapai 5,5 juta ton, atau 24 persen dari total produksi minyak goreng sawit per tahun sebesar 23 juta ton.

Berdasar fakta tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil memproduksi biodosel dari minyak goreng habis pakai atau biasa disebut jelantah.

“Hampir semua jenis makanan di sini pasti diproses memakai minyak goreng. Dari situ bisa kita tahu jika banyak minyak jelantah sisa produksi yang dapat dimanfaatkan untuk membuat biodisel,” ujar salah satu anggota tim, Kharis Pratama, dirilis Humas UII, Senin (19/10/2015).

Menurutnya, salah satu bahan bakar alternatif ramah lingkungan adalah biodisel yang terbuat dari minyak nabati atau hewani. Biodisel minyak jelantah diklaim memiliki kualitas tinggi karena kandungan airnya rendah, yakni kurang dari 1 persen.

Bersama empat orang rekannya, yakni Muhammad Idris, Yudi Antono, Jumardin Rua, dan Hikmat Ramdhani, Kharis mulai sibuk mencari metode yang tepat untuk memproses minyak jelantah menjadi biodisel.

“Tidak mudah karena dengan metode yang biasa kendalanya biodisel masih memiliki kadar air yang tinggi sehingga kurang berkualitas,” ungkap mahasiswa Ilmu Kimia UII tersebut.

Setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing, ia menemukan metode tepat, yakni dengan memanfaatkan reaksi transesterifikasi untuk mengkonversi minyak jelantah.

Proses konversi dilakukan dengan memberikan aliran listrik (elektrolisis) ke dalam larutan minyak jelantah dengan variasi waktu tertentu. Elektroda atau batang logam yang digunakan untuk mengaliri listrik telah dilumuri larutan khusus yang disebut kitosan gel.

“Reaksi transesterifikasi selama elektrolisis mengubah minyak jelantah ke dalam dua lapisan, yang berwarna coklat merupakan lapisan gliserol, sedangkan lapisan atas berwarna kuning keruh merupakan lapisan biodisel,” ucapnya.

Tahap akhir proses ini yaitu mencuci lapisan biodisel dari residu hingga menghasilkan biodisel murni yang siap pakai.

Kontribusi Positif

Kharis Pratama optimis jika proses penelitiannya akan berkontribusi positif pada pengembangan bahan bakar alternatif di Indonesia.

Seperti diketahui, tingginya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia menjadi permasalahan yang belum terpecahkan. Konsumsi BBM terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Indonesia yang dulunya dikenal sebagai negara produsen minyak kini justru beralih menjadi negara pengimpor minyak. Bahan bakar alternatif dapat dikenalkan ke publik untuk menjadi solusi persoalan tersebut.