Krisis Penduduk Usia Muda, Peluang Bekerja di Jepang Terbuka Luas

SISTER CITY - Jogja-Japan Week 2015 di Grha Sabha Pramana UGM. (Foto: Humas UGM)
SISTER CITY – Jogja-Japan Week 2015 di Grha Sabha Pramana UGM. (Foto: Humas UGM)

Kasihan, JOGJADAILY ** Untuk memperbaiki sumberdaya manusia (SDM) yang saat ini sedang mengalami krisis penduduk usia muda, Pemerintah Jepang membuka peluang besar bagi warga negara lain yang ingin mencari pekerjaan di Jepang.

“Hal ini turut membantu pengembangan industri di Jepang yang cukup membutuhkan SDM dalam hal pengembangan industri. Di luar ketenagakerjaan, Pemerintah Jepang juga membuka peluang dalam hal pendidikan,” ujar Konsultan Jepang untuk Indonesia, Yasuyuki Miyashita.

Ia menyampaikannya dalam Seminar Intercultural Understanding Melalui Student Mobility Program yang diselenggarakan Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/10/2015) di Mini Teater Gedung D Lantai 4.

Miyashita mengungkapkan, kondisi di Jepang saat ini sangatlah memprihatinkan. Angka hidup orang tua lebih tinggi daripada angka hidup usia muda. Pencari kerja di Jepang rata-rata berusia lanjut dan kurang produktif dalam hal pembangunan serta inovasi berbagai bidang pun kurang.

“Hal tersebut membuat Pemerintah Jepang membuka peluang kerja besar bagi siapa saja yang berkeinginan mencari pekerjaan di Jepang. Salah satunya, masyarakat Indonesia yang berkeinginan untuk mencari pekerjaan di Negara Sakura,” tuturnya, dirilis Humas UMY.

Pada bidang pendidikan, sambung Miyashita, Jepang sangat membuka peluang besar, baik melalui beasiswa maupun pribadi, untuk menuntut ilmu di Jepang.

Sejauh ini, kendala warga negara asing dalam mencari pekerjaan maupun kuliah di Jepang adalah faktor bahasa. Penguasaan bahasa asing bagi penduduk Jepang masih minim. Warga negara asing pun kesulitan dalam berkomunikasi dengan penduduk Jepang.

“Bagi warga negara asing yang ingin bekerja dan kuliah di Jepang, menguasai Bahasa Jepang merupakan sebuah kebutuhan utama, karena komunikasi yang terjalin antara pendatang dengan penduduk setempat mengutamakan Bahasa Jepang,” ucap Miyashita.

Ia menambahkan, hal yang harus diperhatikan saat kuliah di Jepang, yaitu kemauan dan kerja keras tinggi. Selain itu, rasa percaya diri tinggi.

“Tidak hanya untuk melanjutkan kuliah di Jepang, untuk kuliah atau pun bekerja di negara mana pun, rasa percaya diri dan kemauan tinggi sangat dibutuhkan. Selain itu, mengetahui dan memahami kultur budaya juga menjadi hal penting. Karena, dengan kita memahami budaya setempat, dapat memudahkan kita dalam beradaptasi,” katanya.

Sister City Jogja-Kyoto

September lalu, digelar Jogja-Japan Week (JJW 2015) di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada. Selama 30 tahun, Jogja dan Kyoto membangun kerja sama budaya dalam bentuk sister city. Misi utamanya, mempertahankan kebudayaan masing-masing di tengah kemajuan teknologi.

JJW 2015 berlangsung selama 4 hari, yakni 3-6 September 2015, diawali kirab budaya Bregada Prajurit Ganggang Samudra dari Langenastran, cospiayer, serta Grup Taiko asal Indonesia yang telah memiliki prestasi internasional, dan Umaku Eisa Shinka Indonesia.

Jogja-Japan Week merupakan acara dua tahunan sebagai wujud apresiasi masyarakat Jogja terhadap jalinan hubungan kerja sama dengan masyarakat Jepang yang telah terbina 30 tahun.

Selain seremonial, JJW menggelar berbagai workshop yang dapat diikuti masyarakat umum, di antaranya Workshop Cha no Yu atau tata cara minum teh ala Jepang, hasil kerja sama PT Pagilaran dan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY).

Digelar pula Workshop Pewarnaan Alam Indigo oleh master dr. Kyoto Nakanishi Hidenori, Workshop Membatik untuk anak-anak sekolah. Di samping itu, diadakan pula pemutaran film dan festival Wii Game dan Playstation (PS).

JJW 2015 pun diisi dengan seminar ‘Youth in Action, making Indonesia WOW’ oleh guru marketing Indonesia, Hermawan Kertajaya. Pameran dan lomba-loba, di antaranya lomba kaligrafi Jawa, Workshop Kerajinan Oshie, menggambar komik, Workshop Ikebana, serta lomba karaoke Jawa dan Indonesia.

Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta mencatat, hingga kini, lebih dari 870 ribu masyarakat Indonesia mempelajari Bahasa Jepang dan kebudayaan Jepang. Demikian pula sebaliknya, banyak warga Jepang yang mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia.