Miliki Geo-Keragaman, Kawasan Karst Gunungsewu Termasuk Global Geoparks Network

GEOPARK - Satu sudut lembah kering di Kawasan Gunungsewu. (Foto: UNESCO/C. Carvalho)
GEOPARK – Satu sudut lembah kering di Kawasan Gunungsewu. (Foto: UNESCO/C. Carvalho)

Wonosari, JOGJADAILY ** Kawasan karst Gunungsewu merupakan kawasan paling istimewa di Jawa, karena berbentuk conical hills, serta terdiri dari sekitar 40 ribu bukit karst. Panjang kawasan ini mencapai 85 kilometer dengan luasan endapan gampingnya mencapai 1.300 kilometer persegi, mencakup Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah), dan Pacitan (Jawa Timur).

Pada 21 September 2015, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) atau biasa disingkat UNESCO, memasukkan Gunungsewu dalam Global Geoparks Network.

Global Geoparks adalah wilayah yang mempromosikan geo-keragaman melalui inisiatif yang dipimpin oleh masyarakat untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan daerah. Wilayah ini meningkatkan kesadaran bahaya geologi dan banyak membantu masyarakat setempat dalam mempersiapkan strategi mitigasi bencana.

Global Geoparks telah menjadi bagian dalam sejarah 4,6 miliar tahun planet bumi dengan geo-keragamannya yang telah membentuk setiap aspek kehidupan masyarakat.

Masuknya sembilan situs baru tersebut merupakan hasil keputusan Simposium Geoparks Network Asia-Pasifik yang ke-4, di San’in, pada 15-20 September 2015.

“Alhamdulillah, akhirnya Gunungsewu masuk dalam Global Geopark Network (GGN) pada Sidang Biro GGN/UNESCO, 19 September 2015, di San’in, Kaigan, Jepang,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Gunungkidul, Budi Martono, dirilis Pemkab Gunungkidul.

Sembilan situs baru yang ditambahkan ke dalam Global Geoparks Network adalah Gunungsewu (Indonesia), Dunhuang (Tiongkok), Zhijindong Cave (Tiongkok), Troodos (Siprus), Sitia (Yunani), Reykjanes (Islandia), Pollino (Italia), Gunung Apoi (Jepang), serta Lanzarote dan Kepulauan Chinijo (Spanyol).

Kekayaan Geologi

Bentang alam karst tumbuh melalui pembubaran, ketika batu kapur itu terangkat dari dasar laut sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Uplift kemudian menyebabkan pembentukan teras pantai dan sungai serta singkapan batu pasir.

Batu-teras yang mengelilingi hampir setiap bukit di Gunungsewu menjadi saksi lokal bagaimana pengetahuan diwariskan dari generasi ke generasi untuk mempertahankan tanah yang relatif tipis untuk pertanian.

Gunungsewu menyimpan kekayaan geologi, salah satunya gua. Gua paling panjang di kawasan ini adalah Luweng Jaran di Pacitan dengan panjang 25 kilometer. Sementara gua paling dalam adalah Luweng Ngepoh dengan kedalaman 200 meter.

Gunungsewu menyimpan kehidupan yang khas, seperti serangga, ikan, dan krustasea gua, sekaligus menghidupi wilayah sekitarnya. Sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul mendapatkan air dari sungai yang mengalir di dalam gua. Kotoran kelelawar gua pun bermanfaat untuk mendukung pertanian.