Peluang Strategis, Seaweed International Bussiness Forum and Exhibition Digelar di Jogja

KALI KELIMA - Pembukaan Seaweed International Bussiness Forum dan Exhibition (SEABFEX) kelima, di Pendopo Royal Ambarrukmo, Senin (28/9/2015). (Foto: P2HP KKP)
KALI KELIMA – Pembukaan Seaweed International Bussiness Forum dan Exhibition (SEABFEX) kelima, di Pendopo Royal Ambarrukmo, Senin (28/9/2015). (Foto: P2HP KKP)

Depok, JOGJADAILY ** Indonesia memiliki Sumber Kekayaan Alam Laut (SKAL) yang menjanjikan untuk dieksplorasi dan dieksploitasi sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan nasional. Laut luas merupakan potensi pengembangan sumberdaya laut, ditambah letak strategis Indonesia di daerah tropis.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Andung Prihadi Santoso, mewakili Gubernur DIY, saat pembukaan Seaweed International Bussiness Forum dan Exhibition (SEABFEX), di Pendopo Royal Ambarrukmo, Senin (28/9/2015), dirilis Humas DIY.

Acara berlangsung pada 28-30 September 2015, dihadiri para pemangku kepentingan dan pelaku usaha rumput laut, dalam dan luar negeri; pelaku industri rumput laut, dalam dan luar negeri; para asosiasi dan komisi rumput laut; pembudidaya dan UMKM; serta para peneliti dan akademisi.

“Menjadi suatu keharusan memiliki kedaulatan sebagai produsen terkemuka rumput laut, tidak hanya pada level nasional dan regional, namun juga internasional. Terlebih jika melihat perkembangan produksi rumput laut yang sampai dengan saat ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif,” ujar Gubernur.

Selain itu, sambungnya, antusiasme masyarakat terhadap budidaya rumput laut sangat tinggi, karena terbukti tidak dipengaruhi oleh dampak krisis ekonomi global serta mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara siginifikan.

SEABFEX digelar Direktorat Pengembangan Investasi, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, untuk kelima kalinya. SEABFEX sebelumnya digelar di Nusa Tenggara Barat.

45 Persen Spesies Rumput Laut Ada di Indonesia

Sementara itu, Dirjen Peningkatan Daya Saing Kementerian Kelautan Republik Indonesia, Nilanto Wibowo, mengatakan, Indonesia merupakan produsen terbesar rumput laut jenis Cottonii dan sangat berpotensi untuk pengembangan jenis rumput laut lain, karena 45 persen spesies rumput laut dunia ada di sini.

“Beberapa keunggulan rumput laut, di antaranya adalah dalam pengembangannya cukup menggunakan teknologi yang sederhana, kebutuhan modal dan biaya operasional yang relatif lebih ringan, serta produk olahannya relatif beragam dan menguntungkan,” tutur Nilanto.

Ia menjelaskan, pihaknya terus berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Rumput laut memiliki posisi strategis dalam menopang perekonomian nasional melalui peningkatan penerimaan devisa negara, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan masyarakat sekitar lingkungan budidayanya.

Gunungkidul, Potensial Kembangkan Rumput Laut

Studi berjudul ‘Pengembangan Usaha Produksi Rumput Laut di Kabupaten Gunungkidul’ oleh dua peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2010, menyampaikan, kawasan pantai dan laut di pesisir Selatan Gunungkidul berpotensi menjadi tumpuan perekonomian warga Kabupaten Gunungkidul. Kekayaan laut seperti ikan, terumbu karang, rumput laut, belum termanfaatkan secara maksimal.

Selama beberapa tahun terakhir, terdapat kenaikan permintaan cukup signifikan terhadap komoditas rumput laut Indonesia, terutama dari Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa. Permintaan tinggi, karena rumput laut merupakan bahan baku industri pakan dan makanan, serta industri kosmetik dan farmasi.

Salah satu Unit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pengolah rumput laut Gunungkidul adalah UD Rumput Laut Mandiri di Dunggubah Karangrejek. Produk olahan rumput laut berupa rumput laut kering bersih, agar-agar kertas, jelly, dan tepung rumput laut dengan wilayah pemasaran hingga Surabaya, Jakarta, Lampung, dan Bogor.

Walaupun telah tiga dekade berkarya, UD Rumput Laut Mandiri masih menerapkan teknologi dan peralatan sederhana untuk berproduksi, karena keterbatasan modal dan informasi mengenai teknologi pengolahan rumput laut.