Pemerintah Gandeng UGM Kembangkan Peternakan Desa Berbasis Pertanian Terpadu

KERJA SAMA - Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar, bersepakat mengembangkan Peternakan Desa Berbasis Pertanian Terpadu. (Foto: Humas UGM)
KERJA SAMA – Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar, bersepakat mengembangkan Peternakan Desa Berbasis Pertanian Terpadu. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada telah menjalankan pengembangan peternakan desa berbasis pertanian terpadu. Melalui pendampingan peternak tersebut diharapkan bisa menghasilkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Ternak berperan penting dalam menghasilkan pupuk padat dan pupuk cair yang bisa menyuburkan lahan.

Pengenalan limbah ternak untuk konsep pertanian terpadu diharapkan menghasilkan produk pertanian yang ramah lingkungan karena berpotensi mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia. Produk pangan yang dihasilkannya pun halal dan baik.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus, saat Seminar Internasional Pengembangan Peran Peternakan dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Daerah Perdesaan, Selasa (20/10/2015) di Auditorium Fakultas Peternakan, dirilis Humas UGM.

Sementara itu, Prof John K. Bernard dari College of Agricultural and Environmental Science University of Georgia Amerika Serikat, mengatakan, salah satu persoalan pengembangan peternakan di daerah tropis adalah tingkat stres pada suhu panas yang menyebabkan produksi ternak kurang optimal.

“Perlu ada modifikasi lingkungan kandang dengan memasang kipas angin berukuran besar. Selain itu, melakukan seleksi genetik pada jenis ternak yang tahan terhadap kondisi stres tersebut sangat diperlukan,” kata Bernard.

Menurutnya, kebutuhan terhadap produk peternakan akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan naiknya jumlah kelompok kelas menengah. Kebutuhan pangan harus dibarengi dengan riset dan manajemen ternak yang semakin baik.

Pengembangan 15 Kabupaten

Pada kesempatan itu, Fakultas Peternakan UGM bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi melakukan program pengembangan peternakan modern berbasis pertanian terpadu di 15 kabupaten yang memiliki desa rawan pangan.

Kegiatan tersebut melibatkan para sarjana peternakan untuk melakukan pendampingan, budidaya ternak, transfer teknologi, dan pemanfaatan limbah ternak untuk pertanian ramah lingkungan.

“Realitasnya, peternakan kita masih tradisional. Saya sudah keliling ke berbagai daerah. Yang modern biasanya proyek percontohan yang dibuat oleh perguruan tinggi,” ujar Menteri Marwan Jafar.

Meski dikelola secara tradisional, sambungnya, tidaklah buruk. Namun, apabila memanfaatkan teknologi modern, akan lebih baik.

“Bila dikolaborasi teknologi modern dari perguruan tinggi tentu akan lebih baik, namun kapasitas SDM peternaknya perlu ditingkatkan dulu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, peternakan berpotensi menjadi sumber mata pencarian masyarakat yang tinggal perdesaan. Namun, sulitnya akses pelayanan, investasi untuk wilayah pinggiran di banyak desa menyebabkan pengembangan potensi peternakan menjadi lambat.

“Perlu ada upaya mendesak membangun masyarakat dari perdesaan dengan dukungan pengembangan dan ilmu pengetahuan serta inovasi tepat guna di perdesaan untuk mewujudkan kemandirian pangan dan pilar ekonomi,” pungkas Marwan.