Antisipasi Kurang Pangan Masa Paceklik, Gapoktan Patalan Jetis Bangun Lumbung Pangan

PANEN RAYA - Penjabat Bupati Bantul, Sigit Sapto Raharjo, saat panen raya di Klomtan 'Randu Gumbolo II'. Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan, Rabu (30/9/2015). (Foto: TNI AD)
PANEN RAYA – Penjabat Bupati Bantul, Sigit Sapto Raharjo, saat panen raya di Klomtan ‘Randu Gumbolo II’, Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan, Rabu (30/9/2015). (Foto: TNI AD)

Jetis, JOGJADAILY ** Solusi brilian diupayakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Patalan, Jetis, Bantul, untuk mengantisipasi kekurangan pangan pada masa paceklik. Mereka membangun lumbung pangan. Kreasi masa depan dengan referensi masa lalu yang patut ditiru.

“Lumbung pangan milik Gapoktan Patalan ini didirikan di Dusun Jetis, Desa Patalan, Kecamatan Jetis, dengan ukuran bangunan seluas 120 meter persegi,” ujar Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Patalan, Supriyono, saat peresmian lumbung pangan, Rabu (18/11/2015), dirilis Pemkab Bantul.

Dengan adanya lumbung pangan, sambungnya, para petani dapat menyimpan sebagian hasil panen sebagai cadangan ketika musim paceklik atau saat gagal panen.

“Kami berharap para petani dapat menyimpan sebagian dari hasil panennya sebagai cadangan pangan yang sewaktu-waktu bisa digunakan saat gagal panen atau paceklik,” tutur Supriyono.

Lumbung pangan diresmikan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dengan menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian lumbung Gapoktan Patalan. Dengan penandatanganan tersebut, lumbung pangan secara resmi mulai digunakan.

Dalam sambutannya, ia mengatakan, bahan pangan beras merupakan kebutuhan pokok, terutama di wilayah DIY, khususnya Bantul. Namun, cuaca yang sering berubah terkadang membuat panen gagal, sehingga persediaan gabah terganggu.

“Pangan merupakan barang strategis, karena menjadi penentu pertahanan dan keamanan sosial dan politik, sehingga tidak heran jika pangan menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi di semua negara,” terang Gubernur.

Untuk mewujudkan ketercukupan pangan bagi seluruh penduduk, menurut Sultan, diperlukan usaha peningkatan produksi dan manajemen cadangan pangan yang efektif dan efisien. Perubahan iklim yang tidak menentu dan masa panen yang tidak merata membuat masyarakat harus menyediakan bahan pangan yang cukup.

“Pada saat-saat panen raya menyebabkan harga gabah jatuh, sehingga mengurangi keuntungan usaha tani, sebaliknya, jika gagal panen harga pangan meningkat tajam, sehingga keberadaan lumbung pangan diharapkan menjadi solusinya,” ucapnya.

Swasembada Pangan

Dalam rangka swasembada, pada 2015, Indonesia menargetkan produksi padi hingga 73,4 juta ton, dengan produktivitas nasional rata-rata sebesar 52,09 ku/ha. Produktivitas rata-rata baru mencapai 50,82 ku/ha, sedangkan potensi hasil beberapa varietas padi yang telah tersebar produktivitasnya mencapai lebih dari 7 ton/ha.

Menurut Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Bantul, target produksi yang harus dicapai Kabupaten Bantul pada 2015 untuk komoditas padi adalah 198.959 ton gabah kering giling (GKG) dengan luas sawah 15.453 ha, luas panen 29.698 ha, produktivitas 67,08 kuintal/ha

Selanjutnya, untuk jagung sebesar 23.668 ton pipil kering dengan produktivitas 59,50 kuintal/ha pipil kering, luas panen 2.300 ha. Sementara kedelai sebesar 3.557 ton wose kering dengan produktivitas 15,47 kuintal/ha, luas panen 2.300 ha.

Sasarannya, produktivitas padi meningkat 0,3 ton/ha gabah kering pungut (GKP), produktivitas jagung meningkat sebesar 1 ton /ha, dan produkivitas kedelai meningkat 0,2 ton /ha.