Hari Guru Nasional 2015, Setya Amrih Prasaja: Guru Kudu Bisa Basa Jawa

PUNCAK ACARA - Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun PGRI tingkat DIY dilangsungkan di Lapangan Ganjuran Sleman. (Foto: Dikpora DIY)
PUNCAK ACARA – Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun PGRI tingkat DIY dilangsungkan di Lapangan Ganjuran Sleman. (Foto: Dikpora DIY)

Bantul, JOGJADAILY ** Memperingati Hari Guru Nasional 2015, guru Bahasa Jawa SMAN 2 Bantul, Setya Amrih Prasaja, mengatakan, saatnya guru di Yogyakarta bisa berbahasa Jawa. Hal tersebut dirasa penting untuk mempertahankan keistimewaan Jogja.

Guru kudu bisa Basa Jawa (Guru harus bisa berbahasa Jawa), meskipun bukan guru Bahasa Jawa. Paling tidak harus bisa berbahasa Jawa, minimal ngoko alus,” ujar abdidalem rèh Kaprajan Kasultanan Ngayugyakarta Hadiningrat tersebut, Rabu (25/11/2015).

Ia menjelaskan, guru yang bisa berbahasa Jawa akan mampu mengawal keistimewaan Yogyakarta.

“Dengan adanya Perda 68 tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Nilai-nilai Luhur Budaya dalam Pengelolaan dan Penyelenggaraan, serta Perda 66 tahun 2013 tentang Kurikulum Pendidikan Berbasis Budaya, guru harus bisa berbahasa Jawa,” tuturnya.

Setya juga berharap, guru diberi kesempatan untuk bersosialisasi di masyarakat.

“Sekarang waktu guru habis di sekolah. Kalau pun nanti di rumah, waktunya juga bakal habis untuk menggarap administrasi perangkat pembelajaran,” ungkapnya.

Ditanya tentang apakah ada perundangan yang perlu diubah, ia menuturkan, belumlah perlu.

Setya Amrih Prasaja. (Foto: Twitter @Setyawara)
Setya Amrih Prasaja. (Foto: Twitter @Setyawara)

“Mungkin kalau undang-undang belum. Mungkin di Permen. Tapi saya juga tidak begitu concern, wong mikir menyelesaikan perangkat pembelajaran,” kata alumnus UGM itu.

Tentang pentingnya sosialisasi guru di masyarakat, menurutnya, banyak guru yang mengeluhkannya, tapi tidak terucapkan.

Tingkatkan Pengabdian dan Dedikasi

Sementara itu, puncak peringatan Hari Guru Nasional dan peringatan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tingkat DIY dilangsungkan di Lapangan Ganjuran Sleman. Upacara diikuti ratusan guru dari lima kabupaten/kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, R. Kadarmanta Baskara Aji, yang bertindak sebagai pembina upacara berharap, para guru bisa bersinergi dan bersatu di bawah naungan PGRI.

“Yang paling penting dan harus ada dalam jiwa para guru adalah memberikan layanan terbaik sepenuh hati untuk mencerdaskan kehidupan bersama. Para guru harus memiliki integritas demi menghasilkan didikan yang berkualitas. Para guru harus terus-menerus menjadi panutan dan teladan,” tegasnya, dirilis Dikpora DIY.

Ia menambahkan, para guru telah dimuliakan oleh segenap peserta didik, dijunjung oleh masyarakat, dan dihargai oleh negara. Oleh karena itu, para guru harus senantiasa meningkatkan pengabdian dan dedikasi seutuhnya untuk bangsa dan negara, demi mencerdaskan para generasi muda bangsa. Di tangan para guru nasib masa depan suatu bangsa dipertaruhkan.

Aji mengingatkan supaya para guru tidak bosan-bosan meningkatkan kapasitas dan kualitas dalam prosesi belajar mengajar, serta semakin kreatif dan disenangi para peserta didik.

“Pendidikan di masa lalu tentu jauh berbeda dengan pendidikan hari ini. Menghadapi anak-anak pada hari ini tentu harus dengan pendekatan dan metode yang lebih bisa diterima dan sesuai dengan kebutuhan,” pungkasnya.