Maudesa, Program Bina Desa Kopertis V Dorong Mahasiswa Berwirausaha

BINA DESA – Koordinator Kopertis Wilayah V, Bambang Supriyadi, saat menjadi narasumber Pelatihan Kewirausahaan Mahasiswa yang diselenggarakan SEBI UMY, Rabu (25/11/2015), di gedung AR Fachruddin A Lantai 5 Kampus Terpadu UMY. (Foto: Humas UMY)
BINA DESA – Koordinator Kopertis Wilayah V, Bambang Supriyadi, saat menjadi narasumber Pelatihan Kewirausahaan Mahasiswa yang diselenggarakan SEBI UMY, Rabu (25/11/2015), di gedung AR Fachruddin A Lantai 5 Kampus Terpadu UMY. (Foto: Humas UMY)

Mlati, JOGJADAILY ** Kini, Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V telah memiliki wadah bagi mahasiswa yang ingin belajar dan memulai usaha, yaitu Mahasiswa Kewirausahaan Bina Desa (Maudesa).

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah V, Yun Widiati, saat menjadi narasumber Pelatihan Kewirausahaan Mahasiswa yang diselenggarakan Student Entrepreneurship Business Incubator Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (SEBI UMY), Rabu (25/11/2015), dirilis Humas UMY.

Pelatihan Kewirausahaan diikuti mahasiswa dari 50 perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY dan bertempat di gedung AR Fachruddin A Lantai 5 Kampus Terpadu UMY.

Yun lalu menjelaskan sasaran Maudesa. Pertama, meningkatkan kemitraan PTS dengan suatu desa binaan melalui pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi. Kedua, memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang memiliki minat dan motivasi berwirausaha.

Ketiga, meningkatkan kinerja pelaku bisnis kecil, menengah, dan koperasi atau kelompok untuk menumbuhkan unit bisnis baru di perdesaan.

“Tahun 2015 saja sudah ada 22 kelompok yang kita bina. Kami terus berharap program ini terus berjalan dan menjadi aktivitas lanjutan,” ujar Yun.

Menurutnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, bahkan ada di urutan ke-3 setelah Rusia dan Tiongkok.

“Karena jumlah penduduk yang banyak, jangan sampai ini menjadi bumerang bagi kita sendiri. Dengan jumlah penduduk yang banyak, kita bisa mengambil peluang. Masyarakat Indonesia perlu melakukan tranformasi pendidikan agar nantinya, ke depannya, di tahun 2025, penduduk Indonesia lebih kompeten di usia produktifnya. Ada banyak tantangan yang akan dihadapi oleh penduduk Indonesia, khususnya oleh generasi muda,” terang Yun.

Peran Perguruan Tinggi

Sementara itu, Koordinator Kopertis Wilayah V, Bambang Supriyadi, mengungkapkan, perlu dukungan Perguruan Tinggi untuk bisa menciptakan lulusan mahasiswa yang kreatif, imajinatif, dan berani berisiko.

“Pola pikir mahasiswa masih ter-mindset untuk menjadi seorang karyawan yang bekerja di kantoran atau perusahaan besar. Mereka cenderung memiliki rasa gengsi yang jauh lebih tinggi seiring dengan semakin tinggi pendidikannya. Semakin tinggi pendidikannya, semakin rendah pula kemandiriannya dan semangat kewirausahaannya. Padahal, dalam kondisi semacam inilah perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menciptakan peluang kewirausahaan bagi mahasiswanya,” ucapnya.

Bambang menjelaskan, jumlah wirausahawan di Indonesia jauh dari cukup, yaitu hanya 0,18 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Padahal, pemerintah berharap hingga 2 persen.

“Nah, dari sinilah PT memiliki peran penting untuk mendorong dan meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia. Jadi, lulusan PT itu harus disiapkan menjadi job creator bukan job seeker,” paparnya.

Perguruan tinggi, sambungnya, merupakan wadah tepat untuk menjadikan generasi muda yang cerdas komprehensif.

“Untuk menciptakan itu semua, PT perlu memberikan mata kuliah tentang kewirausahaan yang bukan sebatas teori, tapi juga praktik. Cara lainnya, bisa mengundang para praktisi kewirausahaan yang disisipkan ke mata kuliah kewirausahan,” katanya.

Rektor UMY, Bambang Cipto, menambahkan, mahasiswa sebaiknya tidak berpikir menjadi seorang PNS, meskipun memiliki banyak penghasilan, bahkan dijamin hingga pensiun.

“Dengan begitu (menjadi PNS), kita tidak bisa menjadi pribadi yang berani dan berani menerima tantangan apa pun. Jadi, kalian sebagai mahasiswa harus lebih kreatif dan jangan kalah dengan gengsi,” tegasnya.