Napak Tilas Petilasan Kulon Progo, Kebudayaan untuk Kesejahteraan

MASLAHAT - Selokan Mataram terbukti sangat maslahat bagi kesejahteraan warga DIY. (Foto: Alfian Widi/alfianwidi.com)
MASLAHAT – Selokan Mataram terbukti sangat maslahat bagi kesejahteraan warga DIY. (Foto: Alfian Widi/alfianwidi.com)

Kalibawang, JOGJADAILY ** Perspektif kebudayaan bisa digunakan untuk mencapai kesejahteraan dengan cara meleburkan aktivitas budaya masyarakat dengan aktivitas pelestarian lingkungan dan aset-aset ekologis.

Aspek ekologi merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Pada akhirnya, budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan hidup masyarakat Yogyakarta pada umumnya.

Pesan tersebut terangkai dalam event Napak Tilas Petilasan Kulon Progo, Jumat (13/11/2015), yang rencananya akan digelar di Kompleks Bendungan Ancol, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo. Agenda Kenang Karya Besar Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini mengusung tema ‘Nandur Banyu Panguripan, Ngrabuk Paseduluran’.

Bendungan Ancol Kulon Progo adalah tempat awal saluran Selokan Mataram, salah satu karya besar Sri Sultan Hamengku Buwono IX, hingga pertanian di Yogyakarta dapat tercukupi.

Dirilis Pemkab Kulon Progo, Napak Tilas bertujuan untuk memberi informasi kepada publik, baik masyarakat Kulon Progo maupun Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya, tentang peran Lembaga Pelestari, yakni Kraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman, dalam menyejahterakan masyarakat yang dinaunginya.

Kegiatan dilaksanakan atas kerja sama Dinas Kebudayaan DIY bersama Pussaka Institute serta warga masyarakat Desa Banjaroya. Napak Tilas dapat menghidupkan kembali memori kolektif publik dengan perayaan syukur atas keberadaan lokasi yang berdampak besar bagi sistem irigasi di Yogyakarta.

Turut memeriahkan acara, kirab budaya, pentas jathilan, ritual dan penanaman pohon, macapatan, pelepasan ikan, penyerahan pohon, doa, dhahar kembul, pengukuhan Bregada Menoreh, pentas kesenian strek, sarasehan napak tilas situs budaya, pentas kesenian soreng, dan pentas wayang orang.

Selokan Mataram

Selokan Mataram dikenal sebagai kanal irigasi yang menghubungkan Kali Progo di barat dan Sungai Opak di timur. Memiliki panjang 31,2 km, Selokan Mataram dibangun pada masa romusha Jepang.

Ketika itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berpikir cerdik untuk menyelamatkan warga Yogyakarta dari kekejaman romusha, dengan melapor kepada Jepang bahwa Yogyakarta adalah daerah minus dan kering, serta hasil buminya hanya singkong dan gaplek.

Sri Sultan mengusulkan agar warga diperintahkan untuk membangun sebuah selokan saluran air, agar lahan pertanian yang kebanyakan tadah hujan dapat diairi, sehingga mampu menghasilkan padi dan bisa memasok kebutuhan pangan tentara Jepang. Usulan Sri Sultan pun disetujui. Warga Yogyakarta terbebas dari romusha, dan saluran air untuk kemakmuran warga dapat dibangun.

Konon, Sunan Kalijaga pernah berujar bahwa Yogyakarta bisa makmur, apabila Kali Progo dan Sungai Opak bersatu.