Ngayogjazz 2015, Pesan Kebhinnekaan di Desa Budaya Pandowoharjo

MERAKYAT - Ngayogjazz 2015 mendapat antusiasme masyarakat. Selain menampilkan musik jazz, Ngayogjazz juga memberdayakan warga desa. (Foto: Akun Twitter @ngayogjazz)
MERAKYAT – Ngayogjazz 2015 mendapat antusiasme masyarakat. Selain menampilkan musik jazz, Ngayogjazz juga memberdayakan warga desa. (Foto: Akun Twitter @ngayogjazz)

Sleman, JOGJADAILY ** Gelaran pertunjukan musik tahunan Ngayogjazz resmi dibuka. Digelar di Desa Budaya Pandowoharjo Sleman, Ngayogjazz 2015 hadir mengusung tema ‘Bhinneka Tunggal Jazz’, sebuah pelesetan dari kalimat dalam Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular.

“Situasi negeri Ngayogjazz yang kian panas satu tahun ini akibat intoleransi yang semakin sering terjadi membuat jajaran pemerintah negeri Ngayogjazz merasa perlu untuk mengangkat Bhinneka Tunggal Jazz sebagai tagline,” papar pejabat ‘tinggi’ yang menjadi maskot pembuka Ngayogjazz saat pembukaan, Sabtu (21/11/2015).

Berangkat dari ide untuk melihat keberagaman sebagai pemersatu, Ngayogjazz mengajak para pengunjung untuk menikmati jamming session dan merayakannya dalam satu momentum kebersamaan.

“Keberagaman yang ada saat ini bukan menjadi pemisah bagi tiap kelompok atau pun insan manusia, tetapi justru seperti sebuah kesatuan yang bisa saling melengkapi,” papar Master of Ceremony (MC), Lusy Laksita.

Tercatat, 26 musisi Jazz papan atas Indonesia tampil dalam Ngayogjazz 2015. Selain itu, 9 komunitas musik dan dan 3 kesenian tradisional turut memeriahkan acara.

Untuk tahun ini, selama sehari, pengunjung tidak hanya dihibur oleh musisi jazz. Ada 3 kegiatan yang dibuat panitia, yaitu Panggung Permainan Musik Jazz, Pasar Jazz, Festival Foto, dan Permainan Tradisional.

Untuk pertunjukan musik dibagi ke enam panggung dan menjadikan panggung Puntadewa sebagai panggung utama. Demi mempermudah akses pengunjung, penyelenggara menyediakan Shuttle Bus yang bisa digunakan secara gratis dan akan mengantar hingga tempat pertunjukan.

Melibatkan Desa

Setiap tahun, Ngayogjazz selalu memilih tempat penyelenggaraan di perdesaan sekaligus melibatkan masyarakatnya. Pemilihan dan pengaturan tempat membuat masyarakat sekitar bisa menikmati dan berpartisipasi langsung.

Selain kesenian tradisional setempat, akan selalu ada pasar tiban bernama Pasar Jazz yang mayoritas diikuti penduduk setempat, sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ngayogjazz tetap akan bisa disaksikan, diikuti, dan dinikmati secara gratis tanpa pungutan tanda masuk dan tanpa pungutan stand di Pasar Jazz. Bahkan berbagai komunitas di luar komunitas jazz akan berpartisipasi, semisal komunitas fotografi, komunitas otomotif, hingga komunitas film.

Ngayogjazz terselenggara sejak 2007 dan selalu melibatkan komunitas serta para musisi muda, untuk lebih membuka ruang ekspresi beragam dan luas. Workshop digelar sebagai ajang bertukar dan berbagi pengalaman antara musisi senior dengan generasi di bawahnya.

Jarak antara panggung dan penonton yang dekat serta tanpa sekat menjadi ciri tersendiri di Ngayogjazz. Interaksi yang hangat selalu terjadi antara musisi dengan penonton. Tanpa disadari, jazz semakin bisa berinteraksi, baik dengan kesenian lain dan juga dengan masyarakat yang lebih luas.