Penuhi Permintaan Pasar, Bantul Bangun Rumah Produksi Gula Jawa di Butuh Kidul

BIMTEK - Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Gula Kelapa, di Kelompok Tani Ngudi Mulyo Butuh Kidul. (Foto: Dipertahut Bantul)
BIMTEK – Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Gula Kelapa, di Kelompok Tani Ngudi Mulyo Butuh Kidul. (Foto: Dipertahut Bantul)

Pajangan, JOGJADAILY ** Salah satu sentra penghasil kelapa Kabupaten Bantul, yakni Dukuh Butuh Kidul, Desa Triwidadi, Kecamatan Pajangan diharapkan mampu memfasilitasi kelompok dan industri rumah tangga pengolah gula kelapa (gula jawa), hingga menghasilkan produk berkualitas untuk memenuhi permintaan pasar.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Bantul berhasil mengupayakan pembangunan 1 unit rumah produksi senilai Rp140 juta dan pemberian 1 paket peralatan gula kelapa senilai Rp40 juta. Selain itu, fasilitasi pengurusan ijin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal oleh MUI.

“Dengan adanya rumah produksi yang difasilitasi dana APBN ini, diharapkan akan ada nilai tambah dari produk kelapa, diversifikasi produk baik bentuk dan rasa, serta pengemasan,” ujar Kepala Seksi Perkebunan Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dipertahut Bantul, Ishartati, saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Gula Kelapa, di Kelompok Tani Ngudi Mulyo Butuh Kidul.

Dirilis Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul, Bimtek yang didanai APBN Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) tersebut digelar 16 -19 November 2015 dengan peserta 30 orang.

Narasumber yang hadir adalah Dipertahut Bantul, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishutbun DIY), Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Bantul, dan Dinas Kesehatan Bantul.

Selama tiga hari, peserta disuguhi teori, dan hari terakhir, dilaksanakan studi lapangan ke Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tiwi Manunggal, Kokap, Kulon Progo.

Produksi Gula Jawa Mengkhawatirkan

Dispertahut mencatat, pada 2014, luas tanaman kelapa di Kabupaten Bantul mencapai 10.675,86 Ha dan merupakan tanaman kelapa rakyat.

“Hampir semua pekarangan rumah keluarga tani di Kabupaten Bantul ada tanaman kelapanya. Hal ini mengingat buah kelapa merupakan bahan dalam membuat sayur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” terang Penyuluh Pertanian Madya BKP3 Bantul, Wahyu Setyadi.

Dalam laporan berjudul ‘Pembuatan Gula Kelapa di KUB Sari Kelapa Ngincep, Triwidadi, Pajangan Bantul, DIY’, ia menjelaskan, tanaman kelapa berfungsi ganda, yaitu sebagai tanaman serbaguna karena memiliki kegunaan yang luas dan menyangkut kehidupan jutaan petani.

Menurutnya, pengolahan semua bagian tanaman kelapa dapat dilakukan, baik secara sederhana maupun dengan teknologi tinggi yang padat modal. Sedangkan bagian nira kelapa merupakan cairan dari sayatan pada bagian tandan bunga (manggar) yang dapat menghasilkan gula kelapa. Nira kelapa diolah sedemikian rupa sebagai bahan utama pembuatan gula kelapa atau sering disebut gula jawa.

“Oleh karena sebagian besar rumah tangga di Jawa membutuhkan gula jawa untuk pembuatan sayur, kebutuhan gula jawa semakin lama semakin bertambah, seirama dengan pertambahan jumlah penduduk,” ucapnya.

Untuk mendapatkan nira pohon kelapa, sambungnya, harus dipanjat dengan tenaga manusia. Permasalahannya, tenaga pemanjat untuk ‘menderes’ semakin lama semakin berkurang. Selain itu, penurunan produksi nira yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti teknik budidaya tanaman, tidak sesuai baku teknis, musim kemarau panjang, dan lainnya.

“Petani telah banyak yang melakukan pembuatan gula jawa dengan menambahkan atau mencampurkan gula pasir yang berlebihan. Ketika harga gula jawa di atas harga gula pasir, terkadang pengrajin mencampurkan gula pasir lebih banyak, sehingga kualitas gula yang dihasilkan kurang baik,” ungkap Wahyu.