Baron Technopark, Rekreasi Masa Depan Energi Terbarukan

Desain Baron Technopark di masa depan. (Foto: BPPT)
Desain Baron Technopark di masa depan. (Foto: BPPT)

Saptosari, JOGJADAILY ** Rabu (27/10/2010), Baron Technopark mulai dibangun di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Kawasan ini direncanakan menjadi pusat pengkajian dan pelatihan teknologi pembangkit listrik energi terbarukan sekaligus sarana edukasi teknologi yang rekreatif dan informatif.

Dana pembangunan Baron Technopark berasal dari hibah The Norwegian Agency for Development Cooperation (Norad) tahun 2009, sebesar NOK 6,5 juta atau setara US$1,18 juta.

Ketika itu, Baron Technopark digadang-gadang menjadi solusi akan tingginya peningkatan biaya operasional pembangkit listrik tenaga diesel konvensional, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Karena terbatasnya sarana transportasi, pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah perdesaan dan wilayah terpencil tidak menguntungkan secara finansial.

Selain itu, melimpahnya potensi sumberdaya energi terbarukan, seperti energi matahari, angin, dan biomassa, dirasa menjadi peluang besar untuk menggantikan penggunaan BBM yang tidak terbarukan.

Baron Technopark pun didesain dengan menggabungkan pembangkit listrik konvensional dan pembangkit listrik bersumberdaya energi terbarukan yang dikenal dengan pembangkit hibrida.

Pembangkit hibrida merupakan gabungan pembangkit diesel konvensional yang andal, namun berbiaya operasional mahal dengan pembangkit listrik bersumberdaya energi terbarukan seperti fotovoltaik, turbin angin, mikrohidro atau biomassa yang biaya operasionalnya murah.

Tujuan penggabungan adalah meningkatkan keandalan pembangkit listrik serta mereduksi biaya operasional pembangkit listrik akibat terbatasnya sarana transportasi BBM serta mahalnya harga BBM di wilayah-wilayah tertentu.

Baron Technopark saat ini. (Foto: BPPT)
Baron Technopark saat ini. (Foto: BPPT)

Dalam kondisi normal, energi listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik dan turbin angin akan disimpan ke dalam bank baterai melalui perangkat kontroler. Selanjutnya, tegangan searah dari bank baterai diubah oleh inverter menjadi tegangan bolak-balik yang siap disalurkan ke pelanggan.

Dalam kondisi tertentu, saat energi matahari maupun angin relatif kecil akibat cuaca buruk yang menyebabkan pasokan energi listrik ke bank baterai berkurang maka pembangkit diesel akan diperintahkan oleh perangkat kontroler beroperasi sesaat untuk mengisi bank baterai.

Sayangnya, setelah bantuan Norad dihentikan, pembangunan Baron Technopark juga menghadapi sejumlah persoalan.

Program Lanjutan

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, menjelaskan rencana pengembangan Kawasan Baron dalam 4 tahun ke depan, yaitu dibangunnya beberapa fasilitas penunjang di sekitar Baron Technopark, seperti kawasan Agro Technopark, fasilitas penginapan, serta kawasan wisata Pantai Baron.

“Sebagai bagian dari program 100 technopark dari Bappenas, pembiayaan akan dilakukan untuk membangun Baron Technopark menjadi sarana edukasi, riset, pelatihan dan diseminasi teknologi pemanfaatan energi baru terbarukan mulai dari tahun 2015 hingga 2019 nanti,” jelasnya.

Dirilis Humas UGM dan Humas DIY, Kepala BPPT bersama Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, dan Penjabat Bupati Gunung Kidul, Budi Antono, mendampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam kunjungan kerja ke Baron Technopark, Kamis (3/12/2015).

Sultan menyatakan, Baron Technopark harus berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah DIY akan memberikan bantuan kepada warga sekitar untuk membangun rumah mereka agar dapat dimanfaatkan sebagai homestay bagi wisatawan yang datang.

“Pembangunan Baron Technopark juga diharapkan dapat memberikan akses jalan yang lebih mudah bagi warga sekitar. Saya meminta UGM menjadi mitra BPPT dalam menjalankan riset dan mengaplikasikannya kepada masyarakat,” kata Sultan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berkunjung ke Baron Technopark, Kamis (3/12/2015). (Foto: Humas DIY)
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berkunjung ke Baron Technopark, Kamis (3/12/2015). (Foto: Humas DIY)

Sementara itu, Dwikorita menyatakan komitmen UGM untuk berperan dalam pembangunan sosial ekonomi, melalui pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Dalam konteks pengembangan kawasan selatan DIY, kami sedang menyiapkan masterplan serta studi kelayakan ekonomi. Bagi kami, kelayakan ekonomi sangat penting karena menjamin keberlanjutan dan kemandirian dari program yang sedang kami siapkan,” jelasnya.

Ada dua riset yang dikembangkan UGM dan yang akan segera diterapkan kepada masyarakat, yaitu biodiesel yang dikembangkan dengan Micro Algae, serta budidaya lobster dan kerapu.

Penjabat Bupati Gunungkidul, Budi Antono, menambahkan, banyak manfaat yang dapat dikembangkan untuk menyejahterakan masyarakat, seperti peningkatan ekonomi di bidang wisata minat khusus berbasis teknologi, juga sebagai laboratorium terbarukan.

“Demikian pula dilaporkan bahwa Geopark yang ada di Gunungkidul tercatat dalam Guinnes Book yang dikeluarkan UNESCO, sekarang menjadi Global Geopark Gunung Sewu. Diharapkan ini dapat dipertahankan. Jangan sampai terdegradasi, mengingat UNESCO setiap 4 tahun sekali melakukan kajian,” pungkasnya.