Benang Lusi, Inovasi Tiada Henti Tenun Lurik Ikat Celup

Salah satu produk busana karya Benang Lusi. (Foto: Pumyangka)
Salah satu produk busana karya Benang Lusi. (Foto: Pumyangka)

Mantrijeron, JOGJADAILY ** Bagi pencinta busana tradisional, kain tenun lurik tentu saja menempati posisi terhormat. Bukan hanya keberadaannya sejak zaman prasejarah, kain jenis ini juga merepresentasi kebudayaan Jawa, meski tak sepopuler batik.

Alkisah tentang seorang pekerja keras, Lusi Anjar Ekawati. Sejak 2009, ia merintis usaha pembuatan produk fashion dan handycraft dari tenun lurik dan kain katun ikat celup (tie dye).

“Saya mengembangkan tenun lurik dan ikat celup menjadi produk kreatif dan inovatif, sebagai salah satu upaya melestarikan budaya. Terutama kain tenun lurik,” ujar Lusi, pemilik brand Benang Lusi, Jumat (4/12/2015).

Ia menuturkan, awalnya Benang Lusi membuat busana kasual dari tenun lurik berpadu dengan kain katun yang diwarnai dengan teknik ikat celup.

Seiring waktu, untuk memenuhi permintaan pelanggan, inovasi produk pun dilakukan dengan mengembangkan desain dan model, mulai dari sepatu, tas, dompet, hingga produk handicraft, seperti tempat pensil, pigura, dan lainnya.

Pengerjaan produk kreatif yang beralamat di Jalan DI Panjaitan 44 Yogyakarta tersebut dijamin berkualitas tinggi. Bahan kain tenun lurik dan kain katun ikat celup dapat pula dipadukan dengan kulit atau bahan anyaman serat alam, seperti pandan. Selain itu, Benang Lusi juga memiliki berbagai model, warna, dan ukuran produk. Anda tinggal memilihnya.

“Pelanggan tidak hanya dari DIY, juga berasal dari kota-kota lain di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Semarang, dan Bandung. Beberapa produk kami diminati orang Jepang, Eropa, dan beberapa kali dipesan,” ungkap Lusi.

Produk Benang Lusi, sambungnya, dikerjakan dengan kualitas tinggi dan berkapasitas besar hingga 1000 pcs/bulan. Untuk memenuhi permintaan, kerja sama dengan pengrajin tenun di Pedan Klaten dan Bantul pun dilakukan. Para pengrajin menyuplai hasil tenunannya.

“Sedang untuk produksi menjadi bahan jadi, kami memberdayakan beberapa ibu rumah tangga dan anak jalanan yang telah mengikuti pelatihan kerajinan,” ucap alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Jurusan Komposisi Tari itu.

Kecuali busana, Benang Lusi menerima order private label untuk pemesanan dengan volume besar, minimal 500 pcs.

Bersiap Ekspor

Benang Lusi kini tengah bersiap menembus pasar ekspor. Produk handmade dengan desain unik, produksi kapasitas besar, serta sumberdaya manusia dan produk berkualitas menjadi kekuatan yang terus dipupuk.

Selain itu, Benang Lusi juga pernah berkesempatan turut dalam pameran dagang, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk pameran luar negeri, Belanda, Australia, Tiongkok telah disambangi. Beruntung, order dari Jepang dan Malaysia pun datang.

Owner Benang Lusi, Lusi Anjar Ekawati. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Owner Benang Lusi, Lusi Anjar Ekawati. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kesempatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pun membesar. Dengan tetap menjaga kualitas dan terus menaikkan kemampuan, bukan mustahil, MEA justru menjadi momentum invasi pasar yang menguntungkan. Benang Lusi tengah berupaya membidiknya.

“Saya ingin memperkenalkan produk fashion dan handycraft dari kain tenun lurik menjadi produk kreatif di seluruh dunia,” tekad Lusi mantap.