Festival Seni Tradisi 2015, Perkokoh Jatidiri Budaya dengan Kesenian Tradisi

Festival Seni Tradisi 2015. (Foto: Humas DIY)
Festival Seni Tradisi 2015. (Foto: Humas DIY)

Kraton, JOGJADAILY ** Kesenian tradisional merupakan kekayaan daerah sekaligus kekayaan bangsa yang bernilai amat tinggi. Karena merupakan aset daerah, kekayaan tersebut harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi baru agar tetap terjaga dan memberi manfaat.

“Seni dan tradisi merupakan sarana komunikasi yang efektif. Jika generasi muda terus dilatih maka akan menjadikan jatidiri bagi generus bangsa,” sambut Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, dibacakan Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY Hendar Hidayati, saat pembukaan Festival Seni Tradisi 2015, Rabu (2/12/2015) di Plasa Pasar Ngasem Tamansari.

Harapannya, pengembangan kesenian tradisi di DIY dapat terus lestari dan menjadi daya tarik wisatawan, baik dari Nusantara atau mancanegara.

Kasi Rekayasa Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Agus Amarullah, menyampaikan maksud dan tujuan diselenggarakannya gelar Festival Seni Tradisi se-DIY.

“Festival ini memberi ruang ekspresi dan budaya bagi berbagai organisasi kesenian tradisi yang ada di DIY, sebagai sarana mengasah kreativitas para seniman tradisi dalam memajukan kesenian tradisi yang ada di masyarakat,” tutur Agus.

Selain itu, sambungnya, menumbuhkan jatidiri dan kecintaan nilai-nilai kearifan lokal yang ada pada kesenian tradisi, sehingga dapat memperkokoh jatidiri budaya masyarakat.

“Nilai-nilai budaya dari tradisi seni banyak mengandung nilai kearifan lokal yang perlu tetap dipertahankan,” pungkasnya.

Dirilis Humas DIY, Festival Seni Tradisi 2015 berlangsung selama 3 hari hingga Jumat (4/12/2015), diikuti 30 kontingen organisasi kesenian utusan kabupaten/kota se-DIY. Masing-masing kelompok diberi kesempatan tampil 15 menit dan mendapatkan penilaian dari Dewan Juri.

Revitalisasi

Pelestarian seni tradisi menjadi isu krusial DIY, karena erat kaitannya dengan jatidiri. Banyak kesenian tradisional yang hendak punah, dan membutuhkan revitalisasi.

Revitalisasi bermaksud meningkatkan peran dan fungsi unsur-unsur budaya lama yang masih hidup di masyarakat dalam konteks baru. Revitalisasi tetap mempertahankan keaslian dengan esensi mengangkat kembali kesenian yang hampir punah, agar terjaga kelestariannya dengan cara, minimal mendokumentasikan secara tekstual dan visual.

Misalnya, kesenian wayang topeng pedalangan. Menurut kajian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, hanya ada satu kesenian jenis wayang topeng pedalangan di Sleman. Kesenian ini termasuk langka dan sangat dikhawatirkan punah. Wayang topeng pedalangan memiliki keunikan tersendiri serta layak dilestarikan.

Saat ini, pengelola Topeng Pedalangan Gondo Wasitan di Dusun Ngajeg Tirtomartani adalah Ki Sugeng Cermohandoko dan Ki Suparno.

Dinas Budpar Sleman meminta masyarakat untuk proaktif melapor, bila ada kesenian lokal yang layak dilestarikan atau hampir punah. Hasil laporan masyarakat akan ditindaklanjuti tim yang telah disiapkan Dinas Budpar Sleman untuk mengkaji kesenian tersebut.