Melalui Program KKN, UGM dan Balilatfo Kemendes Komitmen Makmurkan Desa

MoU UGM dan Balilatfo Kemendes untuk mengentaskan desa. (Foto: Humas UGM)
MoU UGM dan Balilatfo Kemendes untuk mengentaskan desa. (Foto: Humas UGM)

Jetis, JOGJADAILY ** Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (Balilatfo) berkomitmen untuk memakmurkan desa.

Kepala Penelitian dan Pengembangan Kementerian Desa, Nora Ekalina Hanafie, mengatakan, tujuan strategis kerja sama pihaknya dengan UGM adalah sama-sama memiliki tugas untuk mengentaskan desa menjadi berkembang dan mandiri.

“Balilatfo bersama UGM, UNDIP, dan Universitas Negeri Sebelas Maret ingin bersama-sama mewujudkan bagaimana dapat mengentaskan 5000 desa menjadi desa berkembang, dan 2000 desa berkembang menjadi desa mandiri. Semoga ini adalah awal untuk bisa memberikan kemanfaatan untuk negeri,” katanya saat penandatanganan MoU, di Hotel 101 Jetis, Minggu (6/12/2015).

Dirilis Humas UGM, pihak UGM diwakili Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof Suratman.

Prof Suratman menerangkan, tantangan terbesar saat ini adalah menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sebentar lagi berlangsung. Untuk itu, masyarakat Indonesia dituntut berlomba-lomba menciptakan inovasi baru.

UGM sebagai kampus berbasis research excellence, sambungnya, menciptakan penelitian-penelitian untuk masyarakat Indonesia, untuk kemakmuran bersama, serta untuk kesejahteraan bersama.

“Penelitian itu merupakan jelajah manusia itu sendiri untuk menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran. Untuk itu, perlu sinergi antara perguruan tinggi dengan pemerintah maupun pihak lainnya,” tutur salah satu Board of Expert Jogja Daily tersebut.

Ia juga menuturkan peran transmigrasi sebagai ‘akar bangsa’. UGM sebagai kampus pelopor dan penguat transmigrasi telah menyentuh desa-desa sejak 1971. Menurutnya, transmigrasi sejatinya adalah kebutuhan harian yang tidak disadari.

“Secara tidak disadari kita itu sudah bertransmigrasi. Artinya, transmigrasi sudah menjadi kebutuhan harian, namun kita tidak sadar. Tinggal bagaimana kita memberikan pengaruh untuk tempat asal dan tempat tujuan,” ucapnya.

Peternakan Desa

Sebelumnya, bersama Kementerian Desa, Fakultas Peternakan UGM melakukan program pengembangan peternakan modern berbasis pertanian terpadu di 15 kabupaten yang memiliki desa rawan pangan.

Kegiatan tersebut melibatkan para sarjana peternakan untuk melakukan pendampingan, budidaya ternak, transfer teknologi, dan pemanfaatan limbah ternak untuk pertanian ramah lingkungan.

Peternakan berpotensi menjadi sumber mata pencarian masyarakat yang tinggal perdesaan. Namun, sulitnya akses pelayanan, investasi untuk wilayah pinggiran di banyak desa menyebabkan pengembangan potensi peternakan menjadi lambat.

Membangun masyarakat dari perdesaan dengan dukungan pengembangan dan ilmu pengetahuan serta inovasi tepat guna akan dapat mewujudkan kemandirian pangan dan pilar ekonomi.