Melon Tacapa, Varietas Unggul dengan Penggunaan Pestisida Minimal

Melon Tacapa Silver. (Foto: Humas UGM)
Melon Tacapa Silver. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Umumnya, petani melon menggunakan pestisida untuk mencegah kerusakan atau pembusukan buah pada tanaman. Tujuannya, mendapatkan hasil panen yang baik.

Namun, penggunaan pestisida pada komoditas pertanian yang berlebihan menimbulkan potensi bahaya bagi kesehatan petani dan konsumen, yakni risiko kanker, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak, gangguan sistem saraf, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Kini, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan varietas melon dengan penggunaan pestisida minimal, bernama Melon Tacapa.

Menteri Pertanian melalui Direktur Jenderal Hortikultura mengeluarkan SK Pemberian Tanda Daftar Varietas Tanaman Holtikultura untuk Melon Unggul Tacapa tersebut.

“Ketahanan Melon Tacapa, khususnya terhadap jamur tepung, dapat meminimalkan penggunaan pestisida selama proses penanaman,” ujar pengembang Melon Tacapa, Budi Setyadi Daryono, Senin (21/12/2015), dirilis Humas UGM.

Melon Tapaca memiliki dua varietas, yaitu Tacapa Green Black dengan ciri warna kulit hitam gelap dan Tacapa Silver dengan ciri warna kulit putih keperakan. Disebut unggul, karena buahnya berukuran besar dengan berat sekitar 1,7-3,2 kilogram.

Selain itu, memiliki rasa manis, tahan terhadap jamur tepung penyebab powdery mildew dan potensial untuk dikembangkan di lahan kritis karst dalam upaya konservasi lahan, serta dapat dibudidayakan menggunakan media tanam abu vulkanik.

Kedua varietas berhasil didaftarkan sebagai tanaman hortikultura pada 18 November 2015, setelah melewati uji multilokasi dan berhasil dipanen di beberapa tempat.

Selanjutnya, Melon Tacapa masih akan terus dikembangkan untuk komersialisasi, sebagai benih unggul melon Indonesia.

“Akhirnya, Melon Tacapa berserta benihnya sudah legal diperdagangkan di Indonesia, dan melon ini harus terus dikembangkan untuk memperkuat kedaulatan benih Indonesia,” ungkap Budi.

Ia berharap, Melon Tacapa dapat menjadi salah satu produk melon Indonesia yang unggul dengan daging buah hijau, sehingga dapat mengurangi ketergantungan benih impor.

Bebas Ethrel

Budi menjamin, Melon Tacapa minim residu pestisida dan bebas ethrel. Melon ini tidak membutuhkan intensitas penyemprotan fungisida yang tinggi, karena sudah memiliki gen ketahanan terhadap jamur tepung.

Secara alami, tumbuhan menghasilkan etilen pada proses respirasi buah, daun, dan jaringan lainnya di dalam tanaman, sehingga hormon ini dapat mempercepat pemasakan buah. Saat ini, etilen hasil sintetis buatan manusia banyak yang beredar dan diperdagangkan bebas dalam bentuk larutan ethrel. Ethrel inilah yang dalam praktik sehari-hari banyak digunakan oleh petani melon untuk mempercepat proses pemasakan buah.

Melon Tacapa juga memiliki daya simpan cukup lama, yaitu 15 sampai dengan 30 hari. Proses pemasakan yang alami dan warna daging buah melon Tacapa yang menarik membuat melon ini tidak memerlukan ethrel untuk mempercepat proses pemasakan, sebagaimana yang umumnya terjadi pada melon varietas lain.

“Penggunaan ethrel pada melon dapat mengurangi lamanya daya simpan dan dapat mengecewakan pembeli karena terkecoh oleh warna yang menarik, tetapi buah melonnya sendiri kurang umur atau kurang masak, sehingga rasanya tidak manis,” pungkas Budi.