Mengimpikan Taman Bunga Puspa sebagai Agrowisata Unggulan Gunungkidul

Camat Patuk Gunungkidul, Haryo Ambar Suwardi. (Foto: akun Instagram @Yosafatyeka)
Camat Patuk Gunungkidul, Haryo Ambar Suwardi. (Foto: akun Instagram @Yosafatyeka)

Patuk, JOGJADAILY ** Camat Patuk Gunungkidul, Haryo Ambar Suwardi, berencana, taman bunga puspa akan dijadikan lokasi wisata unggulan. Hal tersebut disampaikannya saat berkunjung ke Taman Bunga puspa (amaryllis) milik Wartini di Duren, Salam, Patuk.

Informasi ini dirilis akun Instagram @Yosafatyeka beberapa hari lalu. Sebelumnya, ramai diberitakan tentang indahnya taman bunga puspa milik Sukadi di Patuk. Saking ramainya didatangi pengunjung, taman bunga itu pun rusak diinjak-injak.

Setelah melihat langsung kondisi taman bunga puspa milik Sukadi, peneliti hortikultura dan desain taman Fakultas Pertanian UGM, Siti Nurul Rofiqo Irwan, mengatakan, taman bunga ini memang tidak disiapkan sebagai obyek wisata yang bisa dikunjungi para wisatawan.

“Meskipun dikelola dalam skala rumah tangga, taman bunga yang dikelola sejak 2006 tersebut, apabila dijadikan lokasi agrowisata oleh pemerintah kabupaten, harus disediakan jalur bagi pedestrian serta fasilitas pendukung lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah perlu menangkap peluang banyaknya minat anak muda terhadap keindahan bunga amaryllis. Hal ini cukup beralasan dengan banyaknya pengunjung yang datang menikmati keindahan bunga tersebut saat mekar.

“Sakura di Jepang hanya mekar satu minggu. Kita bisa menjadikan amaryllis sebagai daya tarik untuk Gunungkidul. Bisa juga bunga lain yang bisa tumbuh di daerah lain,” terang Siti.

Tidak sekadar sebagai agrowisata, sambungnya, taman bunga puspa bisa didesain sebagai arena edukasi bagi pengunjung,

“Aktivitas bisa ditingkatkan. Mereka bisa belajar menanam dan bisa membeli bibitnya,” kata Siti.

Desain Landscape

Beberapa dosen UGM yang tergabung dalam UGM Guyub Rukun tergerak untuk membuat desain landscape taman milik Sukadi, sehingga pada musim bunga para pengunjung akan menikmati keindahan taman dan mekarnya bunga tanpa merusak tanaman.

Selain membuat landscape, para dosen UGM ini juga memberikan bantuan uang senilai Rp5 juta dari hasil patungan, yang rencananya digunakan untuk pembuatan jalan setapak bagi jalur para pengunjung.

“Kita buat desain landscape. Nanti ada jalan kecil, pakai batu, konblok atau semen. Musim bunga tahun depan, pengunjung bisa berjalan-jalan tanpa menginjak puspa itu,” kata perwakilan UGM Guyub Rukun, Heru Marwoto, saat menyerahkan bantuan, Senin (30/11/2015), dirilis Humas UGM.

Menurut Heru, taman bunga amaryllis di Gunungkidul bisa didesain layaknya obyek wisata bunga tulip di Belanda serta beberapa taman bunga di Eropa yang bisa dinikmati tanpa mengalami kerusakan saat dikunjungi.

Meski demikian, untuk mengerjakan landscape, pihaknya menggandeng beberapa ahli dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian UGM agar benar-benar memperhitungkan aspek estetika serta agronomi.

Kisah Sukadi dan Taman Puspa Miliknya

Satu pekan lalu, taman milik Sukadi ramai didatangi pengunjung. Karena belum dikelola dengan baik dan tidak difasilitasi jalur pedestrian, tanaman indah milik Sukadi pun rusak, terinjak-injak pengunjung.

Padahal, bunga yang lebih dikenal sebagai lili hujan atau bunga bakung ini hanya mekar di awal musim penghujan. Sayang, apabila keindahan bunga ini tidak bisa dinikmati, sementara waktu mekarnya bisa satu minggu.

Meskipun ditanam di area kurang dari satu hektar, menurut Sukadi, bibitnya diambil dari para petani yang biasanya membuang tanaman tersebut karena dianggap sebagai tanaman pengganggu. Oleh Sukadi, tanaman amaryllis diambil dan dipelihara. Bahkan ia terbiasa membeli tanaman itu dari petani dalam jumlah banyak.

Setelah itu, bibit tanaman ditanam di pekarangan rumahnya. Setelah tumbuh dan mekar, tanaman tersebut dijual dengan harga Rp7 ribu hingga Rp10 ribu per pot tanaman.

“Dari dulu saya memang suka kembang. Saya sering beli kiloan ke petani, lalu saya tanam lagi,” kisahnya.