Otonomi Desa, UGM Kuatkan Aparatur dan Ekonomi Desa Wukirsari Cangkringan

EXPO - Wukirsari Expo di Pasar Cokrokembang Bubur, Selasa (24/11/2015). (Foto: Pemkab Sleman)
EXPO – Wukirsari Expo di Pasar Cokrokembang Bubur, Selasa (24/11/2015). (Foto: Pemkab Sleman)

Cangkringan, JOGJADAILY ** Sejak Juli 2015, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Desa Binaan Fisipol UGM menyelenggarakan pengabdian di Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Program mengambil tema, ‘Penguatan Aparatur dan Ekonomi Desa Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Beberapa kegiatan yang dilakukan, yakni sosialisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pelatihan kewirausahaan dan penguatan kelembagaan ekonomi desa, pelatihan aparatur desa, pembuatan website desa, pelatihan penggunaan dan pengelolaan website, serta fasilitasi pemasaran produk Usaha Kecil Menengah (UKM) desa.

Dengan berbagai program ini, diharapkan masyarakat Desa Wukirsari mampu mengembangkan taraf perekonomiannya dengan langkah yang lebih terorganisasi dan mampu bersaing lebih baik.

Puncaknya, pada Selasa (24/11/2015), digelar Wukirsari Expo, bertempat di Pasar Cokrokembang, Bubur. Expo diawali dengan senam massal, penampilan drumband TK Aisyiyah Bustanul Atfal Kregan, dan pembagian doorprize.

Selanjutnya, transaksi jual beli di pasar desa, dilanjutkan dengan sarasehan pedagang pasar.

“Kami support keberadaan pasar desa ini. Kita tunggu masukan untuk program kegiatan tahun 2016. Mari kita bangun bersama,” ujar Kepala Desa Wukirsari, Fuad Jauhari, dirilis Pemkab Sleman.

Sekretaris Dinas Perindagkop Sleman, Pustopo, menyampaikan, banyak sekali fasilitasi yang disediakan pihaknya, mulai dari pelatihan hingga bantuan modal.

Kepala Bagian Pemerintahan Desa Kabupaten Sleman, Mardiyana, berharap masyarakat terus mengembangkan pasar desa sebagai salah satu usaha rakyat, terlebih pada era otonomi desa.

“Diharapkan pasar desa ini dapat terus berjalan, ajek, dan semakin baik lagi,” tuturnya.

Desa Wukirsari terpilih, karena merupakan desa termiskin di Kecamatan Cangkringan, padahal berpotensi kuat mengembangkan sektor pertanian, peternakan, dan agrowisata.

Program pengabdian masyarakat dalam bentuk penguatan aparatur dan ekonomi desa menghadapi MEA dimaksudkan sebagai salah satu upaya membangun desa. Tujuannya, memberi bekal pengetahuan dan keterampilan, baik aparat desa maupun pelaku ekonomi, agar siap menghadapi persaingan di Asia Tenggara.

Seperi diketahui, sekitar 60 persen penduduk Indonesia tinggal di desa. Desa adalah ujung tombak identifikasi persoalan kemasyarakatan, terkait dengan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Oleh karena itu, membangun desa berarti membangun Indonesia.

Potensi

Sumberdaya air di Desa Wukirsari terdiri dari air tanah, termasuk mata air permukaan. Ditinjau dari geohidrologi dan meterologi, daerah endapan vulkanik Merapi merupakan salah satu bagian dari cekungan air bawah tanah yang disebut cekungan Yogyakarta.

Desa Wukirsari merupakan daerah tangkapan hujan (catchment area) yang akan meresap menjadi air bawah tanah. Sedangkan jumlah mata air sebanyak 26 buah dengan debit rata-rata pada musim hujan sebesar 1 l/dt sedangkan pada musim kemarau sebesar 0,3 /dt.

Sungai-sungai di Desa Wukirsari, yaitu Sungai Tepus, Asin, Sriwil, Opak, Bendo, Soko, merupakan sub-subsistem dari subsistem Sungai Opak. Semua sungai tersebut merupakan sungai perenial yang disebabkan curah hujan tinggi. Sifat tanahnya pun permiable dan aktifernya tebal, sehingga aliran dasar pada sungai-sungai tersebut cukup besar.

Sumberdaya hutan Desa Wukirsari termasuk klasifikasi hutan rakyat seluas 86 Ha dengan jenis tanaman Sengon, Mahoni, Mindi, Jati, dan Akasia. Selain sebagai fungsi penghijauan, sumberdaya tersebut berfungsi mendukung pendapatan masyarakat.