Pensil Terbang, Lilin Hias Inspiratif Citarasa Seni Rupa

Lilin silinder karya Pensil Terbang. (Foto: Pensil Terbang)
Lilin silinder karya Pensil Terbang. (Foto: Pensil Terbang)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Anda pasti tahu, lilin bukan sekadar solusi penerangan saat listrik padam. Pada momen-momen khusus, lilin memberi nuansa keakraban dan kebersamaan mendalam. Kini, lilin-lilin hias tersebut terus dikreasi menjadi gift spesial untuk orang-orang spesial.

“Lilin tidak sekadar untuk cadangan mati lampu, tetapi perkembangannya dapat digunakan untuk gaya hidup, seperti dekorasi, koleksi, dan elemen prestise image,” ujar pemilik usaha kerajinan lilin hias Pensil Terbang, Andi Purnawan Putra, Jumat (4/12/2015).

Ia menjelaskan, tiap saat, lilin hias tersebut terus berkembang bentuknya. Ada lebih dari 500 bentuk yang pernah dihasilkan Pensil Terbang.

“Lilin kami tidak pasaran, tidak biasa, sungguh luar biasa. Karena, Pensil Terbang yakin, pembeli bukanlah manusia biasa yang mau disamakan dengan kebanyakan orang,” terang Andi.

Mengapa Pensil Terbang?

Usaha kerajinan yang beralamat di Prawirodirjan GM II/673 RT 53 RW 16 Gondomanan tersebut eksis sejak 1997. Produk lilin karya Pensil Terbang berbentuk makanan, buah, bunga yang merupakan kategori artifisial (tiruan), piramid, kerucut, dan lain sebagainya.

Nama Pensil Terbang dilahirkan sekelompok mahasiswa IKIP Seni Rupa hobi menggambar. Ketika itu, Tugas Akhir mereka berupa pameran kartun jenaka yang mengkritik masalah-masalah kampus mendapat tanggapan serius.

Menurut Andi, logo pensil kecil terbang merentangkan sayap kecil merupakan penggambaran upaya sosok lugu gemar menggambar atau berkesenirupaan dengan banyak keinginan yang mendapat karunia sepasang sayap kecil untuk terbang mengarungi angkasa.

Setelah lulus kuliah, Andi beranggapan, berkomik di Indonesia tidak bisa dijadikan profesi menjanjikan, bila hanya berbekal modal cekak. Untuk tetap eksis, Pensil Terbang mengkreasi komik indie.

Pemilik usaha kerajinan lilin hias Pensil Terbang, Andi Purnawan Putra. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Pemilik usaha kerajinan lilin hias Pensil Terbang, Andi Purnawan Putra. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Urung melanjutkan usaha komik, Andi berniat menjadi usahawan agar dapat merekrut tetangganya yang saat itu banyak menganggur. Pada 1998, ia menjajal produk daur ulang olah kertas dan kerajinan. Karena pesaing menghancurkan harga dan Pensil Terbang jatuh merugi, Andi pun melirik usaha lain.

Ia lantas memulai usaha yang belum memiliki pesaing, yaitu candle handmade. Andi berkisah, lilin hias yang ia produksi terinspirasi mainan lilin buatan ibunya, seorang pembatik Kraton Yogyakarta.

“Ibu mengajarkan saya membuat lilin dari bahan batik (parafin) yang diaduk, sehingga liat, dan ditempelkan pada tiap sisi dalam kulit kacang. Lilin kacang pun tercipta saat usia saya 6 tahunan. Ide kreatif dari seorang ibu kreatif,” kenangnya.

Inspirasi Bisnis Rumahan

Dua tahun berjalan, lilin hias yang dibuat Andi bersama adik tidak laku di pasaran. Pasalnya, lilin serupa tidak dijumpai di toko mana pun. Hingga pada 2003, lilin Pensil Terbang laris manis, setelah dipajang sebagai dekorasi beberapa stasiun televisi.

“Ternyata, harus ada promosi untuk dapat dikenal banyak orang,” kata Andi.

Cerita unik tentang Pensil Terbang, baik produk dan lokasi produksi terus berkembang dari mulut ke mulut, menjadi promosi yang tidak disadari.

“Kebodohan kami, terkadang justru merupakan keunikan yang sering dipahami orang lain sebagai kecerdasan berkonsep,” ucap Andi.

Pensil Terbang berlokasi di kampung urban yang sangat padat. Pengunjung harus berjalan kaki sekira 400 meter dari ujung gang. Andi bertutur, hal tersebut sengaja dilakukan untuk menginspirasi setiap orang yang datang agar tak ragu memulai bisnis rumahan.

Tempat produksi Pensil Terbang bahkan tersebar di berbagai rumah hingga kampung lain.

Seiring waktu, karena banyaknya peminat, Pensil Terbang juga membuka kelas kursus lilin di Kotagede, di bawah pohon sawo. Lokasi sangat luas dan eksotis itu mampu menampung 100 orang sekaligus.

Anda tertarik? Mulailah dengan datang ke Jogja.