Tio Handycraft, Pesona Tas Kulit Lukis Kota Jogja yang Laris Manis

Tas kulit lukis Tio Handycraft. (Foto: Arif Giyanto)
Tas kulit lukis Tio Handycraft. (Foto: Arif Giyanto)

Mergangsan, JOGJADAILY ** Boleh dibilang, harganya tak murah. Kualitasnya pun tak murahan. Fanatik pada produksi yang super-telaten, Tio Handycraft menghadirkan tas-tas kulit lukis menarik. Meski mahal, jangan heran, tas-tas itu laris manis di pasaran.

“Awalnya memang saya penyuka tas. Bertahap saya mulai kulakan tas-tas unik untuk saya pasarkan. Lama-lama saya mulai tertarik pada (bahan baku) kulit (hewan). Mengapa tidak kemudian saya membuat dan menjualnya?” ujar pemilik Tio Handycraft, Eka Kusuma Dewi, Rabu (2/12/2015), di Galeri Nyutran, tepatnya Jalan Tamansiswa Nyutran MG II/189 Yogyakarta.

Eka berkisah, bermula dari pameran tingkat kecamatan, ia mulai mengembangkan bisnisnya. Satu per satu, orang mulai mengenal tas kulit yang ia buat. Lama-kelamaan, Tio Handycraft mulai turut dalam pameran berskala nasional.

“Peran pendampingan Pemerintah Kota sangatlah besar. Ada petugas yang melakukan survei ke tempat saya. Setelah dipastikan bahwa saya memang pengrajin dan layak, saya diberi kesempatan untuk ikut pameran,” terangnya.

Terutama kualitas, sejak berdiri 2011, Eka memang tak tanggung-tanggung. Mulai dari desain hingga finishing ia kawal quality control-nya. Bila pun melibatkan orang lain, ia memastikan bahwa kualifikasi orang tersebut telah teruji, baik skill maupun loyalitas.

“Selain memilih dan memproses bahan kulit kelas satu, saya juga berimprovisasi dengan menambahkan seni lukis pada tas kulit. Produk ini diminati pembeli, karena bisa dipesan sesuai keinginan dan hanya satu-satunya di dunia,” jelas alumnus kampus pariwisata tersebut.

Menurutnya, tas kulit lukis kemudian menjadi produk unggulan Tio Handycraft dan mulai dikenal hingga luar Pulau Jawa.

Eka mengaku, ada beberapa detail yang harus dijelaskan kepada pemesan tas-tas Tio Handycraft. Misal, soal warna kulit dan ketebalan yang tidak presisi samanya. Ia berusaha menjelaskan terlebih dahulu hal tersebut sebelum memenuhi permintaan, karena tidak semua pembeli mengetahuinya.

“Meski terbilang mahal, saya yakin tas kulit lukis saya dapat diterima pasar, meski relatif khusus. Karena, pembeli fanatik biasanya dapat membedakan, mana tas kulit yang benar-benar bagus dan mana yang tidak. Selain pembuatan tas yang membutuhkan waktu tidak sebentar,” ungkapnya.

Klasik dan Kreatif

Eka berbagi soal formula bisnis. Selama ini, ia meyakini bahwa setiap produk yang memiliki nilai klasik dan kreatif dapat berpeluang besar. Walaupun produk tidak diproduksi massal, pembeli akan datang dengan sendirinya, karena tidak ditemukan di pasaran.

Pemilik Tio Handycraft, Eka Kusuma Dewi. (Foto: Koleksi Pribadi)
Pemilik Tio Handycraft, Eka Kusuma Dewi. (Foto: Koleksi Pribadi)

“Saya meminati barang-barang kuno. Dengan sentuhan kreativitas, barang-barang kuno dapat kita hadirkan dalam bentuk berbeda. Unik dan inovatif,” ucapnya.

Menyoal pemasaran, sambungnya, pameran-pameran yang ada sangat membantu pertumbuhan usaha kecil. Ia berharap, upaya menggelar pameran dapat terus dilakukan agar usaha mikro kecil menengah (UMKM) Kota Yogyakarta semakin eksis.

“Promosi dan penjualan online juga sangat bagus. Karena pada zaman ini, telah terbukti, banyak bisnis berkembang melalui website dan media sosial,” pungkasnya.