Triple Win, FAO: Mina Padi Sleman Potensial Dikembangkan

Panen Perdana Budidaya Mina Padi di Desa Kadangan Seyegan Sleman, Rabu (16/12/2015). (Foto: Pemkab Sleman)
Panen Perdana Budidaya Mina Padi di Desa Kadangan Seyegan Sleman, Rabu (16/12/2015). (Foto: Pemkab Sleman)

Seyegan, JOGJADAILY ** Sejak 24 September 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY maupun Kabupaten Sleman yang didukung Food and Agriculture Organization (FAO) telah mengembangkan budidaya ikan di lahan sawah padi atau biasa disebut Mina Padi (Fish Farming).

Mina Padi yang dibangun dalam skala massal seluas 25 Ha di Kabupaten Sleman tersebut dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Selain itu, meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan kesejahteraan masyarakat yang mampu menjadi pencegah terjadinya urbanisasi.

Program dijalankan Kelompok Pembudidayaan Ikan (Pokdakan) Mina Makmur, Kandangan, Margodadi, Seyegan.

Representative Indonesia, Mark Smulders, menilai, Mina Padi potensial dikembangkan.

Menurutnya, Mina padi adalah program Triple Win (Tiga Kemenangan), karena adanya peningkatan produksi padi dan ikan. Selain itu, meningkatnya pendapatan dan kehidupan bagi para pembudidaya yang melaksanakan Mina Padi. Win ketiga, tersedianya nutrisi dan gizi bagi masyarakat untuk meningkatan protein dari ikan.

“FAO menggarisbawahi Triple Win ini supaya bisa dikembangkan di masa mendatang,” ujar Mark saat Panen Perdana Budidaya Mina Padi di Desa Kadangan Seyegan Sleman, Rabu (16/12/2015), dirilis Humas DIY dan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Ia menerangkan, kegiatan ini melebar ke 15 negara Asia Pasifik. Ia berharap Mina Padi dapat dikembangkan di berbagai negara.

“Program ini bisa meningkatkan semangat petani untuk menggunakan inovasi teknologi seperti yang diperkenalkan oleh Gubernur DIY, yaitu Among Tani,” tutur Mark.

Kekuatan Baru DIY

Sementara itu, Gubernur DIY Sultan HB X mengemukakan bahwa Fish Farming merupakan kekuatan baru masyarakat DIY. Karena, Mina Padi tidak sekadar meningkatkan keterampilan petani, namun juga menambah pendapatan.

Dalam menambah pendapatan, sambungnya, multikultur bisa dilakukan dengan teknologi, baik pembibitan dalam aspek padi hingga produktivitasnya tinggi, maupun Nilasa (ikan nila hasil pemberian nama oleh Sultan HB X) yang bisa dibesarkan hingga bobot 0,8 kg, hingga petani akan mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi.

“Pendapatan petani jangan sampai terpinggirkan. Namun, industri yang berbasis teknologi juga bisa menjadi pendapatan yang baru bagi petani,” tegas Sultan.

Gubernur DIY mengingatkan, lahan DIY cukup sempit. Belum lagi, menurutnya, tiap tahun sekira 200 Ha berubah fungsi menjadi lahan non-pertanian.

“Kondisi ini harus disikapi terutama di Sleman, jangan sampai ada pembebasan tanah pertanian lagi untuk kepentingan pembangunan. Dalam konsep pembangunan juga harus direncanakan bertingkat, sehingga tidak terlalu banyak memakan lahan,” kata Gubernur.

Kepemilikan lahan yang sempit dari para petani, lanjut Sultan, harus disikapi dengan kreativitas petani untuk tidak hanya menggarap pertanian, tetapi industri berbasis pertanian yang bisa menjadi kekuatan baru bernilai lebih.

Ketua Kelompok Tani Mina Makmur, Ariyanto, menambahkan, kerja sama dimulai awal Oktober 2015. Setelah dilakukan ubinan, Mina Padi menghasilkan padi hingga 8-9 ton/Ha, meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya 6 ton/Ha.

“Ada kenaikan 20 persen,” ucapnya.

Selain itu, menurut Ariyanto, keunggulan Mina Padi adalah mengurangi serangan hama, terutama hama tikus. Pemupukan cukup sekali pada awal tanam. Karena, kotoran ikan bisa menjadi pupuk organik dan tidak perlu penyiangan rumput pengganggu tanaman, karena rumput tidak tumbuh pada lahan Mina Padi.