Among Tani Dagang Layar, Affrio Sunarno: Prioritaskan Kesejahteraan Nelayan

Affrio Sunarno. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Affrio Sunarno. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Umbulharjo, JOGJADAILY ** Pemerhati masalah kejogjaan, Affrio Sunarno, berpandangan, indikator utama keberhasilan Visi Pemerintah DIY 2012, yakni Among Tani Dagang Layar, adalah kesejahteraan nelayan. Sementara infrastruktur, hanya salah satu prasyaratnya.

“Nelayan makmur dulu, baru kita bicarakan hal lain. Kalau nelayan saja masih miskin, anak-anaknya tidak lagi tertarik menjadi nelayan, dan pemerintah masih setengah hati dalam memperhatikan kesejahteraan nelayan, Dagang Layar seperti apa yang hendak kita perjuangkan?” ujarnya saat ditemui di kantornya, Balai Kota Yogyakarta, Selasa (26/1/2016).

Ia berpendapat, Among Tani Dagang Layar yang kemudian disusul Poros Maritim Dunia, tidak kemudian didominasi upaya industrialisasi yang berujung pada kekuatan ekonomi besar, tapi juga diselaraskan dengan pemenuhan hajat hidup orang banyak dengan pengolahan sumberdaya hayati kelautan.

“Rakyat akan kesulitan menangkap maksud pemerintah, atau bahkan tidak mau peduli, karena yang mereka butuhkan adalah keberlangsungan hidup, terutama makan. Larangan ekspor, perang terhadap illegal fishing, konflik perbatasan perlu diterjemahkan dalam bahasa sederhana, yakni kesejahteraan rakyat,” papar pria yang sehari-hari bekerja sebagai Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta itu.

Kemaritiman, sambungnya, tidak lagi bermakna, sebelum mampu menyentuh persoalan-persoalan prioritas, yakni nelayan, sebelum mampu menghidupi bangsa dan negara.

Ia khawatir, sebentar lagi akan bermunculan pengusaha besar di sektor perikanan. Ketika itu, tidak ada lagi nelayan tradisional. Anak-anak nelayan bekerja di kapal pengusaha besar, bahkan disekolahkan untuk meng-up grade kemampuan mereka. Sementara negara masih larut dalam setting megaproyek prestisius kemaritiman.

“Pada saat seperti itu, kita tidak lagi dapat memaksakan kehendak, karena para nelayan akan mencari lahan yang cepat menghasilkan, untuk penghidupan mereka. Jangan sampai kita terlambat antisipasi,” ungkapnya.

Megaproyek Prestisius

Sementara ini, ulas Affrio, pemerintah relatif berorientasi pada megaproyek prestisius di sektor kemaritiman, seperti Tol Laut, pembangunan infrastruktur pelabuhan, dan industri kemaritiman. Sementara kebutuhan mendesak yang harus segera diselesaikan adalah solusi untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat.

Menurutnya, ketertinggalan Indonesia atas teknologi dan infrastruktur maritim dibandingkan negara lain tidak lantas terburu-buru dikejar, sebelum menyelesaikan problem nyata yang sehari-hari dihadapi masyarakat pesisir miskin.

“Final dari Among Tani Dagang Layar adalah kesejahteraan rakyat. Saya setuju itu. Meski demikian, visi jangka panjang tersebut harus dibarengi dengan kebijakan taktis yang langsung bersentuhan dengan kesejahteraan nelayan dalam jangka pendek,” tutur alumnus Fisipol UGM tersebut.

Lebih lanjut, Affrio mengemukakan pentingnya peran ahli ekonomi dan para wirausaha. Mereka dapat bersinergi dengan pemerintah dalam memanajemeni potensi sumberdaya hayati kelautan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir, yang pertama-tama.

“Saya berharap banyak pada para ekonom dan wirausaha untuk mengkreasi banyak hal agar pranata dapat terjaga. Mereka harus mampu memberi solusi taktis, cara nelayan mencari makan dan memenuhi kebutuhan pokok, sementara di sisi lain, megaproyek prestisius kemaritiman tetap terus berlangsung,” jelasnya.