Bila Siswa-siswi Polandia Tertarik Belajar Aksara Jawa

Pelajar Kota Kielce Warsawa Polandia berpose bersama Aksara Jawa karya mereka. (Foto: Akun Instagram @rosakhirunnisa)
Pelajar Kota Kielce Warsawa Polandia berpose bersama Aksara Jawa karya mereka. (Foto: Akun Instagram @rosakhirunnisa)

Warsawa, JOGJADAILY ** Bagi Anda yang pernah ke Polandia, Kielce tentu sangat familier. Kota berpenduduk tak sampai 200 ribu tersebut ternyata memberi kesan luar biasa bagi Rosa Akhirunnisa, mahasiswi program studi Akuntansi International Program Universitas Islam Indonesia (UII).

Ketika itu, Rosa turut dalam program Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC), sebuah organisasi internasional untuk pemuda yang mengembangkan potensi kepemimpinan serta partisipasi di Global Learning Environment.

Selama hampir dua bulan, Rosa termasuk rombongan pertukaran pelajar internasional ke Warsawa Polandia bersama rekan-rekannya dari Jepang, Tiongkok, dan Georgia.

Siapa sangka, siswa-siswi Kota Kielce yang ia kunjungi ternyata tertarik belajar Aksara Jawa.

“Saya mengarahkan mereka untuk menulis nama mereka dengan Aksara Jawa pada sebuah kertas. Buat mereka, Aksara Jawa unik, karena tidak seperti alfabet yang biasa mereka pergunakan,” kenang Rosa, dirilis Humas UII.

Tidak hanya Aksara Jawa, Rosa berkesempatan memperkenalkan gamelan Jawa kepada siswa-siswi Kielce. Gamelan mini yang ia bawa membuat antusiasme para pelajar di sana semakin tinggi. Rosa tak lupa memberi waktu anak-anak usia 4-16 tahun itu untuk mencoba memainkannya.

Aksara Jawa, Pembentuk Identitas Kultural

Pada kesempatan berbeda, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMA DIY, Setya Amrih Prasaja, mengatakan, Aksara Jawa adalah pembentuk identitas kultural. Bahasa Jawa, selain merupakan peranti pokok transformasi keilmuan Jawa, juga pembentuk utama identitas Jogja.

“Budaya Jawa, salah satu pembentuknya adalah Bahasa Jawa. Sementara Bahasa Jawa tentu saja bertumpu pada Aksara Jawa. Hilangnya Aksara Jawa akan menghilangkan Bahasa Jawa, lantas selanjutnya menghilangkan kebudayaan Jawa,” terang Setya.

Ia menjelaskan, Kebudayaan Jawa bukanlah produk peradaban kemarin sore. Ketuaan sejarah dan kedalaman filosofi menempatkan Jawa bukan hanya sebagai sentral peradaban, tapi juga pedoman laku yang tidak mengingkari agama.

“Orang Jawa sejak lama meyakini keesaan Tuhan, berperilaku ramah pada sesama, menjunjung tinggi keilmuan, dan rendah hati. Hal tersebut dapat dilihat dari peninggalan sejarah seperti candi dan keraton-keraton yang hingga kini masih eksis. Dapat pula dilihat dari cara berpakaian Orang Jawa, pun dengan Bahasa Jawa,” tutur Guru Bahasa Jawa SMAN 2 Bantul tersebut.

Karena meyakini peran Aksara Jawa sebagai pembentuk identitas, Setya terus berupaya memudahkan generasi penerus untuk belajar aksara-aksara yang hampir sebagian besar Suku Jawa hari ini tidak menguasainya.

“Saya mengkreasi Kalender Jawa. Setidaknya, hal tersebut menjadi upaya kecil saya untuk memperkenalkan khazanah keilmuan Jawa pada kadar sederhana, kepada khalayak, terutama generasi penerus. Kalau biasanya penanggalan Jawa menjadi pelengkap, dalam Kalender Jawa yang saya kreasi, justru penanggalan Masehi yang dijadikan pelengkap,” jelas alumnus UGM itu.