Cetak 50 Ha Sawah Baru, Pemerintah Kulon Progo Dorong Petani Produksi Beras Premium

KETAHANAN PANGAN - Bupati Hasto saat pencetakan sawah baru di Dusun Donomerto, Donomulyo, Nanggulan, Rabu (30/12/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)
KETAHANAN PANGAN – Bupati Hasto saat pencetakan sawah baru di Dusun Donomerto, Donomulyo, Nanggulan, Rabu (30/12/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Nanggulan, JOGJADAILY ** Bersama warga Kulon Progo, Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil membuka 50 Ha sawah baru. Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, berharap, petani lebih sejahtera dengan nilai jual hasil sawah yang lebih baik.

“Jika kelompok tani sudah maju, akan dibimbing supaya nilai jual padi lebih baik. Artinya, jangan dijual dalam bentuk gabah, tetapi padi. Lebih bagus lagi kalau kualitas berasnya yang bagus,” ujar Bupati Hasto saat pencetakan sawah baru di Dusun Donomerto, Donomulyo, Nanggulan, Rabu (30/12/2015), dirilis Pemkab Kulon Progo.

Ia menegaskan, apabila perlu, petani akan dibimbing Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan (KP4K) Kabupaten Kulon Progo untuk membuat beras premium.

Menurut Dokter Hasto, persawahan di Nanggulan bisa menjadi contoh bagi petani se-Kabupaten Kulon Progo. Apalagi, jumlah masyarakat miskin di kecamatan ini, paling sedikit.

“Dengan dicetaknya sawah baru ini, masih harus menambah irigasi 300 meter untuk mengairi lahan 50 Ha tersebut. Irigasi nantinya akan dibuat talang di Pedukuhan Lengkong. Air yang ditalang berasal dari Selokan Kalibawang,” tuturnya.

Bupati sadar, sebelum melaksanakan pembukaan sawah baru ini, masyarakat tentu sudah direpotkan dengan pertimbangan berbagai hal, seperti adanya pepohonan kayu keras dan status sertifikat tanah yang tanah pekarangan.

“Untuk itu, warga masyarakat tidak perlu khawatir, karena warga akan kita dampingi dalam urusan administrasinya supaya nantinya bisa ditindaklanjuti dengan baik,” tutur Bupati.

Dengan potensi sawah yang masih besar, sambungnya, perlu dipelajari, berapa banyak lahan yang masih memerlukan tambahan irigasi. Jika saluran talang tambahan 300 meter masih kurang, perlu dipikirkan, bagaimana potensi sawah baru di Donomulyo dapat terkover air, seluruhnya.

“Dengan demikian, perlu pemetaan lahan untuk sawah baru yang bukan tadah hujan,” ucap Dokter Hasto.

TNI dan Rakyat

Camat Nanggulan, Jazil Ambar Was’an, semula sebagian masyarakat pesimis, karena waktu pengerjaan sawah yang relatif pendek. Namun, setelah dikerjakan bersama-sama TNI, warga menjadi senang, bahkan ikut mendaftarkan diri agar lahannya dijadikan sawah.

“Ada beberapa lahan Desa Donomulyo yang berpotensi menjadi sawah baru sekitar 60 Ha. Dari 34 Ha sawah baru ini, yang bisa tergarap baru 2 Ha. Selanjutnya, bertahap 34 Ha akan bisa ditanami, sehingga bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ungkap Jazil.

Sementara itu, Dandim 0731/Klp Letkol Czi Cornelis Rompas memaparkan bahwa kegiatan ini masih terkait dengan tindak lanjut MoU dalam mendukung upaya ketahanan pangan.

Ia menerangkan, pembukaan sawah baru berada di 3 lokasi, yaitu Dusun Gedangan Sentolo seluas 9 Ha, Paingan Sendangsari Pengasih seluas 7 Ha, dan Donomulyo seluas 34 Ha, sehingga total 50 Ha.

“Mulai kerja tanggal 1 Desember, khususnya untuk land clearing dan land leveling. Di samping masyarakat dan TNI dibantu mesin buldozer dan excavator. Hingga saat ini, sudah mencapai 100 persen,” papar Rompas.

Beberapa hambatan yang ditemui, antara lain saluran irigasi yang kurang maksimal, sehingga menjadi evaluasi, supaya diantisipasi. Selain itu, beberapa petak lahan yang berbatu-batu keras. Hambatan diatasi dengan berkoordinasi bersama tim asistensi.

Pupuk Organik

Kepala Dinas pertanian DIY, Sasongko, menambahkan, dengan dicetaknya sawah baru, perlu diikuti dengan upaya budidaya yang baik. Apalagi Nanggulan termasuk kecamatan PHT (Pengendalian Hama Terpadu), sehingga diharapkan tidak banyak menggunakan insektisida kimia, tetapi bahan organik.

“Saat ini, sawah di DIY sudah banyak beralih fungsi menjadi perumahan, namun di Kulon Progo perlu disyukuri, karena bisa berubah dari tegalan menjadi sawah. Dengan perubahan ini diharapkan bisa memberi hasil yang lebih baik,” kata Sasongko.

Ia berharap, petani terus berusaha mengupayakan perbaikan kondisi tanah dengan pupuk organik. Karena, karakter kesuburan sawah bekas tegalan, berbeda dengan sawah dari hutan. Sawah yang dibuka dari hutan, memiliki kesuburan baik.

“Jangan sampai sawah yang sudah dibuka ini, menjadi tegalan lagi. Untuk membantu masyarakat, instansi saya, secara administratif, akan membantu sertifikasi lahan sawah,” pungkasnya.