Dukung Poros Maritim Dunia, CLDS Fakultas Hukum UII Bahas Pemberdayaan Desa Pesisir

SANDAR – Perahu-perahu nelayan tampak berjejer di Pantai Depok Bantul. Pada waktu-waktu tertentu, pantai ini penuh transaksi jual beli ikan laut. (Foto: Arif Giyanto)
SANDAR – Perahu-perahu nelayan tampak berjejer di Pantai Depok Bantul. Pada waktu-waktu tertentu, pantai ini penuh transaksi jual beli ikan laut. (Foto: Arif Giyanto)

Depok, JOGJADAILY ** Center for Local Law Development Studies (CLDS) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Seminar Nasional bertema ‘Memberdayakan Desa Pesisir Melalui Penguatan Budaya Bahari Guna Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’ di University Hotel Yogyakarta, Kamis (28/1/2016).

Kasubid Pengembangan Gugus Pulau Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ahmad Aris, menyampaikan, sejumlah 23.690 desa terletak di pesisir dan pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia. Desa-desa tersebut dihuni oleh 60.194.496 jiwa. Sebanyak 54.175.046 orang tergolong masyarakat berpenghasilan rendah.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mengupayakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana di daerah-daerah pesisir tersebut, sehingga masyarakat di desa-desa tersebut dapat berkembang lebih baik,” ujar Ahmad Aris, dirilis Humas UII.

Perbaikan-perbaikan meliputi transportasi atau konektivitas, pos jaga, pendidikan, kesehatan, ekonomi produktif, air minum, listrik, dan telekomunikasi.

Sementara Rektor UII, Harsoyo, memaparkan, Indonesia merupakan Negara Maritim terbesar di dunia. Secara geografis, lndonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, terletak di antara Benua Asia dan Australia, serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

“Sebagai konsekuensi dari posisi lndonesia yang sangat strategis tersebut adalah perairan lndonesia menjadi sangat penting bagi masyarakat dunia pengguna laut. Hal tersebut memberi arti bahwa manakala bangsa lndonesia mampu memanfaatkan peluang dan tantangan maka akan dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa lndonesia,” terangnya.

Ia mengingatkan, begitu strategis dan tingginyanya potensi bahari yang dimiliki Indonesia, menjadi hal penting, bagaimana negara ini dapat memberdayakan desa pesisir yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

“Sebagaimana kita ketahui, saat ini perkembangan masyarakat pesisir di Indonesia dinilai masih belum sebagus masyarakat yang tinggal di daratan, atau bahkan perkotaan. Hal itu bisa terlihat dengan belum tercukupinya fasilitas infrastruktur yang ada di pulau-pulau pesisir di Tanah Air,” ungkapnya.

Visi pemerintahan Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Maritim terbesar di dunia, dinilai Harsoyo sebagai langkah tepat. Indonesia merupakan negara yang kaya laut, tapi potensi kelautannya belum dimanfaatkan secara maksimal. Potensi ekonomi maritim Indonesia sangat besar, yakni diperkirakan mencapai Rp7.200 triliun per tahun.

“Dengan memaksimalkan sektor kelautan, manfaat lain yang diperoleh adalah terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Ditaksir, sekitar 30 juta tenaga kerja dapat terserap jika potensi kelautan dapat dimaksimalkan,” pungkasnya.

Desa Wisata Pesisir

Pada kesempatan berbeda, peneliti Pusat Kewirausahaan (Puswira) Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Anna Purwaningsih, menjelaskan konsep desa wisata ideal di kawasan pesisir. Menurutnya, desa wisata pesisir menjual kehidupan masyarakat pantai sehari-hari. Pantai merupakan anugerah yang sudah ada sejak mereka dilahirkan, berbeda dengan masyarakat di pedalaman yang harus bersusah payah mengkreasi tempat agar menarik.

“Desa wisata pesisir bukan hanya tempat beraktivitas tapi juga berekreasi. Modal alam yang luar biasa dapat ‘dijual’ apabila masyarakatnya terbuka dan mau berubah. Biasanya masyarakat pesisir, terutama tujuan obyek wisata sering berpikir, tanpa pendampingan saja sudah laku, buat apa didampingi,” terangnya ditemui di UAJY.

Untuk memaksimalkan desa wisata pesisir, sambungnya, dibutuhkan kewirausahaan pesisir. Mengkreasi aktivitas rekreasi menyenangkan bagi wisatawan.

“Kewirausahaan jangan dipandang hanya sebagai bertemunya penjual dan pembeli kemudian melahirkan transaksi. Kewirausahaan adalah kemampuan melihat hal yang biasa menjadi sesuatu bernilai tambah,” tutur Anna.

Masyarakat pesisir, sambungnya, tidak hanya memanfaatkan laut sebagai sumber matapencarian sehari-hari, tapi juga mampu melihat banyak peluang pengembangan bisnis sebagai sumber pendapatan baru agar lebih sejahtera.

“Misalkan membuat ajang voli pantai. Biayanya murah, dan wisatawan dapat menyewanya per jam. Asalkan dikelola berkelanjutan, hal-hal kecil tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir,” pungkasnya.