Kabulog DIY: Kandungan Gizi Raskin Tinggi dan Layak Konsumsi

Pendistribusian Raskin Wilayah Kota Yogyakarta di Kelurahan Patehan. (Foto: Coki Anwar)
Pendistribusian Raskin Wilayah Kota Yogyakarta di Kelurahan Patehan. (Foto: Coki Anwar)

Kraton, JOGJADAILY ** Kepala Perum Bulog Divre DIY M. Sugit Tedjo Mulyono mengatakan, raskin berkandungan gizi tinggi dan layak dikonsumsi. Beras Bulog adalah beras medium yang ditentukan oleh Inpres tahun 2015 dan Keppres No. 15 dengan standar broken (patah) 20 persen dan menirnya 2 persen, sehingga total yang patah terdapat 22 persen.

“Inilah yang dianggap oleh masyarakat, kok beras Bulog itu banyak patah-patahnya. Sebagai pembanding, masyarakat selalu menggunakan beras premium, yang hanya satu persen menirnya,” ujar Sugit saat Pendistribusian Raskin Wilayah Kota Yogyakarta di Kelurahan Patehan, Kamis, (28/1/2016).

Ia menjelaskan, secara visual, beras Bulog memiliki derajat sosok (DS) atau keputihan tidak 100 persen tetapi hanya 95 persen.

“Sehingga memang ada sisa yang agak garis garis itu. Itulah sisa-sisa gabah. Itu yang biasa disebuat oleh teman penerima manfaat kok enggak bisa putih. Itulah kualitas yang ada di kami (Bulog). Ini yang harus dipahami oleh teman penerima manfaat bahwa itulah kualitas Bulog sebenarnya,” ungkap Sugit.

Jadi, sambungnya, beras yang dibagikan kepada warga miskin memiliki kandungan gizi sangat tinggi dibanding beras premium lain. Karena, butiran raskin yang disediakan Bulog tidak habis terkikis saat gabah digiling.

Selama ini, sambungnya, banyak anggapan bahwa beras Bulog kurang putih.

“Kalau mau jujur, itulah beras yang bergizi. Karena, beras yang bergizi adalah beras yang tidak habis terkikis butirnya pada saat gabah digiling,” ucap Sugit.

Menanggapi pertanyaan akan adanya kondisi beras yang berulat, berubah warna, dan berbau apek, Sugit menuturkan, penyimpanan beras di gudang Bulog tidak melebihi 6 bulan.

“Selama ini, hanya 4 bulan berada di gudang, Jadi, kalau ada keluhan ada ulat dan lain sebagainya, ini perlu dikaji lagi,” paparnya.

Apabila pada saat pembagian terdapat kerusakan pada berasnya, tambahnya, saat itu juga semua beras akan dikembalikan ke gudang dan diganti dengan yang baru. Untuk itu, masyarakat penerima manfaat diharap untuk tidak merasa khawatir.

Pendistribusian raskin tahun anggaran 2016 diluncurkan di Kelurahan Patehan Kecamatan Kraton. Masing-masing penerima mendapat jatah 15 kilogram beras dengan hanya menebus Rp1.600 per kilogramnya.

Kartu Penerima Raskin

Asisten I Sekda Kota Yogyakarta, Ahmad Fadli, menginformasikan alasan dipilihnya Kelurahan Patehan sebagai tempat di-launching-nya pendistribusian raskin Kota Yogyakarta tahun 2016.

“Kelurahan Patehan merupakan kelurahan terbaik se-Kota Yogyakarta dalam tertib administrasi raskin pada 2015. Terbaik yang dimaksud adalah dalam pendistribusian dan tepat waktu dalam pembayarannya,” katanya.

Pemerintah Kota Yogyakarta kini telah menerbitkan kartu bagi para penerima manfaat Raskin. Hal ini dimaksudkan agar lebih tertib dan terbuka pada saat pendistribusiannya.

“Memang diakui selama ini sudah berjalan tertib. Namun, dengan kartu itu, diharapkan penerima lebih tertib lagi. Di dalam kartu tersebut sudah tertera bukti penerimaan yang ditandatangani oleh petugas, sehingga petugas maupun penerima itu lebih tertib; terbuka bahwa setiap bulan sudah diterima atau belum,” terang Fadli.

Penerima Raskin: 16.031 Orang

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta, Hadi Mochtar, mengatakan, penerima raskin adalah warga yang tercatat pada survei Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

“Boleh dikatakan, orang miskin lapis bawah. Di kota Yogyakarta terdapat 16.031,” kata Hadi.

Selain raskin, tuturnya, upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengentaskan kemiskinan adalah dengan memberikan bantuan modal kerja sebesar Rp1 juta. Dana tersebut berasal dari Pemerintah DIY yang dialihkan ke Kota Yogyakarta.

Dinas Dinsosnakertrans memberikan program pelatihan untuk angkatan kerja atau para pencari kerja, dengan prioritas anak dari keluarga yang berkategori miskin.

“Tujuannya adalah supaya dia punya keterampilan, bisa cari kerja, dan dapat menolong keluarganya agar tidak miskin lagi,” pungkasnya.