Kadin DIY, Akselerator Pertumbuhan Kualitatif Berbasis Sumberdaya Lokal

Pelantikan Kadin DIY 2015-2020. (Foto: Humas DIY)
Pelantikan Kadin DIY 2015-2020. (Foto: Humas DIY)

Kepatihan, JOGJADAILY ** Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta (Kadin DIY) diharapkan mampu menjadi akselerator pertumbuhan kualitatif berbasis sumberdaya lokal. Selain itu, Kadin DIY bukan hanya berperan sebagai pilar utama organisasi, tetapi juga pilar utama bisnis.

“Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional merupakan akumulasi dari pertumbuhan daerah maka kewajiban Kadin Daerah, yaitu membantu Pemerintah Daerah dalam mengakselerasi pertumbuhan daerah endogen, yaitu pertumbuhan kualitatif yang berbasis pada sumberdaya lokal,” ujar Gubernur DIY Hamengku Buwono X saat Pelantikan Pengurus Kadin DIY 2015-2020, Kamis (21/1/2016), di Bangsal Kepatihan, dirilis Humas DIY.

Ia menerangkan, Kadin sebagai lembaga strategis harus peka dan tanggap terhadap laju perkembangan pembangunan di DIY, baik dalam skala maupun bentuknya.

“Kadin harus antisipatif terhadap booming turisme dan big-push pembangunan bandara baru yang memerlukan kesiapan infrastruktur, baik berupa kelembagaan dan manusianya, maupun prasarana dan sarana fisiknya. Sebab jika tidak, dikhawatirkan peluang yang terbuka hanya akan diisi oleh pihak luar yang lebih siap,” ungkap Sultan.

Gubernur menambahkan, responsi atas tantangan ini sejak dulu telah dimiliki, yang secara implisit built in dalam kesinambungan Tri Matra kebijakan pemerintah.

“Bung Karno dengan Tri Sakti, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya, dilanjutkan oleh Pak Harto dengan Trilogi, yakni stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan. Selanjutnya di masa SBY diterjemahkan dengan strategi Triple Track, yakni pro-poor, pro-growth, dan pro-job,” paparnya.

Presiden Joko Widodo, sambungnya, mencetuskan Nawa Cita atau Sembilan Jalan Perubahan. Merujuk butir (3) Nawa Cita, ‘membangun Indonesia dari Pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan, Gubernur memandang, peran Kadin Daerah menjadi strategis.

“Oleh karena itu, Kadin Daerah harus kuat, baik sebagai organisasi maupun bisnis yang digeluti oleh pengurusnya. Saya yakin bila Kadin mampu berperan seperti itu dan bisa membantu pertumbuhan ekonomi regional DIY,” tuturnya optimis.

Bersaing dalam MEA

Ketua Kadin DIY, GKR Pembayun, berharap agar segenap pengurus Kadin Kota dan Kabupaten se-DIY mampu menyiasati dan menyikapi segala tantangan yang dihadapi.

“Persatuan dan kesatuan sesama pengusaha serta mitra kerja tetap diutamakan, terutama dalam setiap mengambil kebijakan dan program yang ditetapkan,” katanya.

Dengan kata lain, GKR Pembayun menegaskan bahwa kepentingan bersama harus lebih prioritas daripada kepentingan pribadi atau pun kelompok-kelompok tertentu.

Ia menyadari, dunia usaha nasional yang tangguh merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang sehat dan dinamis dalam mewujudkan pemerataan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam upaya meningkatkan ketahanan nasional dalam percaturan perekonomian regional, nasional, dan internasional.

Dengan kesadaran itu, menurutnya, peran pengusaha yang tergabung dalam Kadin dapat mengikuti perkembangan dan perubahan serta melakukan inovasi dalam menjalankan usahanya, serta tidak bosan mencari metode yang lebih efektif.

“Karena aktivitas dan efisiensi merupakan kunci keberhasilan dalam bersaing di era global ini dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” tegasnya.

Peran Strategis Daerah

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani, menyampaikan harapan dan kepercayaannya pada rakyat Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi 2016 akan lebih baik daripada 2015.

“Pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2016 yaitu sekitar 5,3 persen sampai dengan 5,5 persen. Hal ini lebih meningkat daripada tahun 2015, sekitar 4,7 persen. Kadin melihat tahun 2016 akan lebih baik, karena beberapa program investasi sudah tersedia, infrastruktur juga sudah berjalan,” ungkapnya.

Rosan berpendapat, pertumbuhan ekonomi Tiongkok membawa pengaruh bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Apabila pertumbuhan ekonomi Tiongkok baik maka negara-negara lain juga baik. Pada 2015, pertumbuhan ekonomi Tiongkok hanya 6,5 persen, karena harga komoditas batubara dan kelapa sawit sangat tinggi.

Menurut Rosan, ada tiga hal yang diharapkan pemerintah pusat untuk pertumbuhan ekonomi, yaitu penyerapan anggaran, domestik konsumsi, dan investasi. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini, pemerintah pusat sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi daerah-daerah di Indonesia.

“Oleh karena itu, apabila ada permasalahan di level daerah, dimohon untuk segera koordinasi dengan pusat, agar pertumbuhan ekonomi tetap lancar,” pungkasnya.