MEA Dibuka, UNY Bertekad Cetak Guru yang Mampu Bersaing

Pembagian Rapor SM-3T LPTK UNY A IV 2014/2015 di Pegunungan Bintang Papua. (Foto: YouTube/Suraban Bend)
Pembagian Rapor SM-3T LPTK UNY A IV 2014/2015 di Pegunungan Bintang Papua. (Foto: YouTube/Suraban Bend)

Depok, JOGJADAILY ** Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau Economic ASEAN Community (AEC) telah dibuka. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bertekad untuk mencetak guru yang mampu bersaing di ASEAN.

“Tantangan global yang perlu kita hadapi, antara lain kecepatan perkembangan Iptek yang sangat tinggi, kemudian tuntutan untuk layanan profesional, dan sebagainya,” ujar Satoto Endar Nayono, wakil dari Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan UNY pada Workshop Pengembangan Kerja Sama Internasional di ruang sidang FMIPA UNY, Selasa (5/1/2016), dirilis Humas UNY.

Dengan demikian, sambungnya, penyesuaian diri harus dilakukan. Mobilitas orang dan ilmu pengetahuan pun akan dapat dengan mudah dilakukan.

“Karena kompetensi kita adalah pencetak guru, kita harus bisa mencetak calon guru yang bisa bersaing di ASEAN. Jangan sampai nanti kita sudah mencetak, nanti malah yang masuk, misalnya Filipina. Kalau bisa, kita yang keluar ke Filipina yang memberikan gaji guru lebih tinggi. Tapi tentunya harus ada syarat-syaratnya. Syarat-syarat ini yang harus kita siapkan bersama untuk anak-anak kita nanti,” terang Satoto.

Satoto menjelaskan manfaat internasionalisasi, yaitu membuat sivitas akademika lebih percaya diri, seperti pemuatan artikel di jurnal internasional, konferensi internasional, sit-in program dan student exchange, serta lomba-lomba di luar negeri.

Selain itu mendapatkan peluang kerja sama penelitian dengan institusi asing, seperti universitas internasional, AusAid, USAID, JICA. Sedangkan keuntungan finansial bisa didapat dari mahasiswa asing yang datang untuk belajar.

“Peluang bagi kita, yaitu sumberdaya alam yang sangat beragam dan bonus geografi dengan jumlah penduduk lebih 250 juta orang. Bonus tersebut tergantung kita yang menyiapkan kemudian peluang untuk mendapatkan pendidikan tinggi akan semakin baik. Peluang lain adalah terbukanya akses ke dunia internasional,” ungkap Satoto.

Seperti diketahui, delapan bidang kerja yang bersaing dalam MEA, yaitu insinyur ke-rekayasa-an, arsitek, akuntan, land- surveyor, dokter dan dokter gigi, perawat, guru, serta pekerja pariwisata.

Guru Bersertifikat Pendidik

Sebelumnya, Rektor UNY Prof Rochmat Wahab, mengatakan, pada 2016, pemerintah hanya akan menerima guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik. Ia menyampaikannya dalam acara Monitoring, Pembekalan dan Doa Bersama Menjelang Ujian Nasional Pendidikan Profesi Guru Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (PPG-SM3T), di Auditorium UNY Kampus Wates, Minggu (3/1/2016).

“Ini merupakan kabar gembira bagi teman-teman semua. Sementara ini, sertifikat pendidik hanya diberikan kepada lulusan PPG SM-3T angkatan I, II, dan kepada Anda semua kelak sebagai angkatan ke III setelah lulus Ujian Tulis Nasional,” ucap Rektor.

Para lulusan PPG SM-3T dapat mendaftar menjadi guru di daerah terpencil melalui program Guru Garis Depan. Program Guru Garis Depan merupakan program dari Kemdikbud untuk menyebar guru ke pelosok daerah 3T.

“Alumni dari PPG SM-3T jika ingin kembali mengajar di daerah terpencil dapat mendaftar Guru Garis Depan. Guru Garis Depan ini juga mensyaratkan harus memiliki sertifikat pendidik,” kata Rochmat.

Ia menerangkan, lulusan PPG SM-3T telah mengalami masa pengemblengan pada saat mengajar di daerah 3T. Lulusan ini telah teruji memiliki kemampuan fisik yang kuat, kemampuan akademik yang mumpuni, juga keunggulan moril dan karakter yang tidak diragukan lagi.