Muhammad Jadul Maula: Jalan Kebudayaan Adalah Pemersatu Bangsa

Ki-ka: Muhammad Jadul Maula, Mohamad Sobary, Wahyudi Anggoro Hadi. (Foto: Arif Giyanto)
Ki-ka: Muhammad Jadul Maula, Mohamad Sobary, Wahyudi Anggoro Hadi. (Foto: Arif Giyanto)

Sewon, JOGJADAILY ** Jalan kebudayaan menjadi cara ampuh dan efektif untuk mempersatukan bangsa yang tercerai-berai akibat konflik. Dahulu, Walisongo konsisten membangun peradaban dengan kebudayaan.

“Akibat Perang Paregreg, Majapahit di ambang kehancuran. Banyak kerajaan kecil yang memisahkan diri. Masyarakat tidak tertata. Walisongo hadir melalui jalan kebudayaan untuk tetap mempersatukan masyarakat,” ujar Budayawan Jogja, Muhammad Jadul Maula, dalam Jagongan Mocopatan Bumi Panggung, semalam, Selasa (5/1/2016), di Balai Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Hal tersebut relevan dijadikan rujukan saat ini, ketika Bangsa Indonesia dilanda saling tidak percaya, dikarenakan perilaku para pemimpinnya yang berimbas pada rendahnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Jadul mengkritisi definisi kebudayaan yang telah tereduksi sedemikian rupa, hanya sebagai hasil, bukan proses. Padahal, final dari kebudayaan adalah peradaban yang mulia.

“Kebudayaan itu proses manunggalnya cipta, rasa, dan karsa untuk kemakmuran dan kesejahteraan sebuah bangsa. Prosesnya itu yang kini dihilangkan. Kebudayaan sering dianggap sebagai hasil. Bahkan tujuan kebudayaan juga tidak disebut lagi,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Kaliopak tersebut.

Sementara itu, Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, mengatakan, tema yang dipilih, yakni ‘Menggagas Jalan Kebudayaan di Lumbung Padi’ bermaksud untuk mendialogkan peran kebudayaan dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.

“Menyelesaikan persoalan bangsa tidak lagi kita harapkan dari jalan politik, karena terlalu banyak apus-apusan (saling menipu—red). Jalan kebudayaan diharapkan dapat membenahi keadaan bangsa dan berbuah keadilan dan kesejahteraan,” ucap Wahyudi.

Jagongan Mocopatan Bumi Panggung menghadirkan Budayawan, Mohamad Sobary, serta menampilkan Orkes Tradisi Tombo Ati, Grup Mocopatan, dan Not Biru.

Desa Budaya

Agenda Jagongan Mocopatan adalah satu dari sekian program menarik Pemerintah Desa Panggungharjo sebagai Desa Budaya. Bumi Panggung sebagai brand telah berhasil mengukuhkan desa kreatif tersebut sebagai salah satu rujukan paling berpengaruh di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mocopatan Bumi Panggung. (Foto: Arif Giyanto)
Mocopatan Bumi Panggung. (Foto: Arif Giyanto)

Untuk eksis sebagai Desa Budaya, Desa Panggungharjo memiliki dua elemen penting. Pertama, Pamangku Esthi Budhaya, sebuah lembaga penggali dan pengkaji budaya-budaya yang menyangkut adat dan tradisi, seperti tata krama, tata nilai, tata wicara, unggah-ungguh, slogan-slogan, dan tata pergaulan lain, yang wajib dilestarikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bagi seluruh warga dan organisasi kemasyarakatan di desa Panggungharjo.

Untuk memperkuat hasil kajian ini lalu dilegalkan dalam bentuk produk-produk hukum, berupa Perdes, Peraturan Lurah, Ketetapan Lurah, Surat Edaran, Surat Himbauan, dan peraturan-peraturan lain yang akan mempengaruhi dan mengarahkan masyarakat Panggungharjo kembali pada jati diri budayanya.

Kedua, Pamangku Krida Budhaya, yaitu lembaga pendesain dan penggagas kegiatan, event budaya, serta perancang tata-ruang dan arsitektural, agar potensi desa agar dapat lestari dan berkembang.