Pasca-Evakuasi, Pakar UGM Sarankan Pendampingan Berkelanjutan Bagi Eks-Anggota Gafatar

Pengamat Sosial UGM, Prof Susetiawan. (Foto: Humas UGM)
Pengamat Sosial UGM, Prof Susetiawan. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Setelah melakukan evakuasi, pemerintah diharapkan melakukan pendampingan berkelanjutan bagi mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Selain program pemberdayaan, bimbingan psikologi sangatlah penting dilakukan.

“Pemerintah perlu membuat program pemberdayaan bagi eks-pengikut Gafatar. Bukan dalam bentuk pemberian bantuan secara fisik saja, akan tetapi bantuan yang lebih berkelanjutan. Salah satu yang penting adalah memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup mereka agar tidak terjerat kemiskinan,” ujar Pengamat Sosial Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Susetiawan, dirilis Humas UGM, Jumat (29/1/2016).

Menurutnya, pemerintah patut memikirkan penyediaan lapangan kerja bagi pengungsi eks-Gafatar. Mereka perlu diberikan pembekalan dan pembinaan, sebelum dikembalikan ke masyarakat. Hal tersebut dibutuhkan agar dapat kembali ke jalan yang benar.

“Tidak hanya ditanamkan tentang ideologi keindonesiaan saja, tetapi juga dipersiapkan agar bisa kembali bergaul di masyarakat,” tuturnya.

Selain memberikan pemahaman ke mantan anggota Gafatar, sambungnya, masyarakat perlu diberikan pengertian agar tidak melakukan tindakan bersifat memojokkan maupun menganggap sesat mereka. Susetiawan berpandangan, tindakan itu justru akan semakin menjauhkan mantan anggota Gafatar dari kehidupan masyarakat.

“Masyarakat harus diberikan pemahaman agar tidak melakukan tindakan yang memarginalkan mereka,” terang dosen Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIPOL UGM ini.

Masyarakat diharapkan dapat menerima kembali para eks-Gafatar. Adanya penolakan dari masyarakat maupun keluarga, lanjutnya, justru akan membuka peluang bagi mereka untuk kembali ke kelompok-kelompok yang menyimpang.

“Keluarga dan masyarakat secara bersama-sama harus bisa menerima mereka kembali. Bagaimana membuat eks-Gafatar dan masyarakat bisa hidup bersama kembali adalah hal utama yang perlu dilakukan,” jelas Susetiawan.

Bimbingan Psikologi

Sementara itu, Psikolog Sosial UGM, Prof Faturochman, berpendapat, penerimaan oleh keluarga dan lingkungan merupakan cara yang cukup efektif untuk memulihkan kembali eks-anggota Gafatar untuk kembali hidup bermasyarakat.

“Kalau sudah ada kesadaran untuk kembali, yang paling pokok adalah dukungan dari keluarga, tetangga, serta lingkungan untuk mereka,” ungkapnya.

Ia memaparkan, pendekatan psikologis diperlukan untuk para eks-Gafatar. Bimbingan psikologi perlu diberikan oleh psikolog agar mereka yakin menjalani kehidupan lagi di masyarakat secara normal.

“Bisa dilakukan melalui pendekatan realistis dengan meyakinkan mereka bahwa tidak mudah untuk mewujudkan keinginan memperoleh kehidupan yang sempurna seperti yang dijanjikan kelompok Gafatar,” pungkasnya.