Prof Suratman: Eksistensi Pasar Beringharjo Merepresentasi Keistimewaan Yogyakarta

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Prof Suratman. (Foto: Arif Giyanto)
Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Prof Suratman. (Foto: Arif Giyanto)

Depok, JOGJADAILY ** Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Suratman, berpandangan, eksistensi Pasar Beringharjo merepresentasi keistimewaan Yogyakarta.

“Sejarahnya, Pasar Beringharjo tidak dapat dilepaskan dari peran raja-raja di Yogyakarta. Bukan hanya pasar tradisional terbesar, pasar tersebut harus membawa identitas Yogyakarta, mulai dari display, komunikasi publik, hingga ke pelayanan kepada konsumen,” ujarnya, di Rektorat UGM, Senin (25/1/2016).

Ia menjelaskan, secara karakter, orang Jawa adalah pekerja keras. Dengan berbagai ekspresi, mereka mewarnai wajah Jogja melalui transaksi bisnis yang dibuat dalam berbagai skala.

“Kita sangat mungkin mengembangkan industri rakyat (people industry) dengan pasar tradisional sebagai tempat terbaik penjualan. Semua orang kemudian bekerja keras. Akhirnya, etos kerja bangsa ini dapat terus meninggi dan kemandirian terwujud,” tutur Ketua Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY ini.

Lebih lanjut, Prof Suratman berpendapat, Pasar Beringharjo dapat menjadi ruang ekspresi ekonomi kreatif dan teknologi tepat guna. Ekonomi kreatif dan teknologi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi signifikan.

“Sekarang ini dunia online sudah sangat diterima masyarakat. Pasar Beringharjo sebaiknya juga tampil online dengan meniadakan penipuan serta mengutamakan kenyamanan pengunjung. Pasar tradisional bisa menjadi sumbangsih budaya dan sosial dalam interaksi itu,” ucapnya.

Prof Suratman bersaran, Pasar Beringharjo dapat mencoba pengelolaan dengan cara baru. Salah satunya, memberi kesempatan kelompok usaha masyarakat untuk membuka display produk mereka. Selain secara organisatoris akan memudahkan maintenance, cikal bakal koperasi akan menjadi garapan baru yang juga menguntungkan.

Cara baru lain adalah sertifikasi. Potensi kecurangan penjual atau ketidakpuasan konsumen dapat diminimalisasi dengan sistem ini. Ada fungsi kontrol pihak lain untuk meraih keseimbangan interaksi bisnis.

“Pada prinsipnya, saya dan UGM sangat concern pada pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pasar tradisional. Revitalisasi Pasar Beringharjo akan menjadi model terbaru, menata pasar tradisional di berbagai tempat,” pungkasnya.

Kenyamanan Bertransaksi

Sebelumnya, ketika ditemui di kantornya, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo, menyampaikan pentingnya kenyamanan pengunjung. Pihaknya bekerja keras untuk terus berinovasi, agar penjual dan pembeli dapat bertransaksi dengan nyaman.

Ia menjelaskan, akses jalan menuju Pasar Beringharjo kini tidak lagi semerawut, meski belum sempurna. Setidaknya, sebagian ruas jalan yang biasanya digunakan sebagai parkir luar, kini tidak lagi ada. Tempat penurunan barang pun mulai diatur sedemikian rupa agar tak memacetkan jalan.

“Saya minta ke keamanan untuk memantau ketertiban, bukan hanya penjual di luar pasar tanpa retribusi, tapi juga keamanan pasar dan antisipasi kemacetan. Petugas keamanan lebih proaktif jadinya,” ucap Gunawan.

Bukan hanya jalan, sambungnya, pengunjung Beringharjo dapat menikmati suasana dan berfoto ria. Taman, kursi, dan tulisan besar ‘Beringharjo’ tak jauh dari pasar menjadi background menarik untuk mendokumentasikan kunjungan atau berlatih fotografi.

“Ada lagi yang menarik. Bila biasanya pengunjung hanya beredar di lantai satu, karena udara yang terasa panas, silakan mencoba berbelanja ke lantai di atasnya. Kami telah memasang AC. Jarang-jarang kan, pasar tradisional dilengkapi AC?” papar Gunawan sembari tersenyum.

Semua itu, menurut Gunawan, didedikasikan kepada pengunjung pasar. Suhu udara dapat mendukung transaksi lebih menyenangkan, dan tentu, menguntungkan.

One thought on “Prof Suratman: Eksistensi Pasar Beringharjo Merepresentasi Keistimewaan Yogyakarta

  1. Pasar Tradisional di Kota Yogyakarta sangat berpotensi untuk dijadikan salah satu penggerak ikon wisata belanja untuk mendukung keistimewaan Jogjakarta tercinta

Comments are closed.