Animo Masyarakat Tinggi, Ana Haryadi: PBTY Selayaknya Masuk Agenda Pariwisata Nasional

Penutupan PBTY XI 2016. (Foto: Coki Anwar)
Penutupan PBTY XI 2016. (Foto: Coki Anwar)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Menilik tingginya animo masyarakat serta kualitas, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) selayaknya termasuk dalam agenda parwisata nasional. Sementara ini, baru perayaan Tahun Baru Imlek di Singkawang Pontianak Kalimantan Barat yang masuk agenda pariwisata nasional.

“PBTY akan kami ajukan ke Kementerian Pariwisata supaya bisa masuk ke dalam agenda pariwisata nasional. Semoga dalam pelaksanaannya tahun depan, PBTY sudah masuk dalam agenda nasional,” ujar Ketua Panitia PBTY XI 2016, Tri Kirana Muslidatun atau akrab disapa Ana Haryadi, Senin (22/2/2016).

Masuknya PBTY ke dalam agenda nasional, sambungnya, akan menaikkan angka kunjungan wisatawan serta memperkuat akulturasi.

PBTY merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan sebagai bagian perayaan Tahun Baru Imlek di Yogyakarta. Saat ini, PBTY memasuki pelaksanaannya yang ke-11.

Pelaksaaan PBTY merupakan kerja sama antara Pemerintah Daerah DIY, Pemerintah Kota Yogyakarta, serta berbagai paguyuban Tionghoa yang ada di Yogyakarta.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, bertepatan dengan Tahun Monyet Api, PBTY menghadirkan bazaar kuliner, konsultasi feng shui, serta berbagai pertunjukan kesenian dan lomba.

Selain itu, Jogja Dragon Festival yang menampilkan aksi puluhan kelompok Barongsai turut menyemarakkan pelaksanaan PBTY setiap tahunnya.

Pelaksanaan PBTY XI 2016 digelar 5 hari sejak Kamis (18/2/2016) di Kampung Ketandan dan resmi ditutup, Senin (22/2/2016).

“Dalam lima hari pelaksanaannya, PBTY XI berhasil melampaui target yang diperkirakan panitia. Animo masyarakat terhadap pelaksanaan PBTY XI sangat tinggi. Bisa dilihat dari ramainya pengunjung serta omset yang dihasilkan oleh stand yang hingga kemarin sudah mencapai Rp1,8 miliar,” terang Ana Haryadi.

Dengan tingginya apresiasi masyarakat terhadap perhelatan tahunan ini, pelaksanaan PBTY tahun depan dipertimbangkan untuk diperpanjang menjadi tujuh hari.

“Sesuai dengan masukan dari Ngarsa Dalem, pelaksanaan PBTY XII mendatang akan dilaksanakan selama tujuh hari. Kita tunggu perkembangan ke depan. Namun, dengan melihat antusiasme warga masyarakat, sudah sepantasnya PBTY mendatang diperpanjang menjadi tujuh hari,” kata Ana.

Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam laporan tertulis yang dibacakan Asisten II Sekda DIY, Gatot Saptadi, mengapresiasi penuh keberhasilan pelaksanaan PBTY kali ini. Menurut Ngarsa Dalem, kehadiran PBTY merupakan bentuk nyata dari akulturasi budaya Tionghoa dan budaya Jawa di DIY.

“Budaya Tionghoa turut andil membentuk DIY dari sisi budaya, melalui akulturasi yang terjadi. Pada tahun-tahun sebelumnya, warga Tionghoa sempat tercabut dari akar budayanya, sehingga banyak generasi muda yang asing dengan budaya Tionghoa itu sendiri. Namun kini, kehadiran PBTY turut menjadi elemen penting dalam pelestarian budaya Tionghoa, sekaligus menjadi wadah akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa,” jelas Gubernur.

Sultan berharap, pada pelaksanaan mendatang, PBTY tidak berhenti pada aspek seremonial belaka, namun juga mampu menjelaskan makna filosofis budaya Tionghoa.

“Perhelatan ini jangan berhenti pada aspek seremoni maupun pertunjukan saja, namun juga mampu memberikan makna filosofis budaya Tionghoa, sehingga pemahaman dan rasa memiliki dapat tumbuh dengan positif dan diterima sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Untuk mewujudkan hal ini, tentu diperlukan adanya sesepuh yang terus aktif mendampingi pelaksanaan PBTY,” pungkasnya.