Bahas Perencanaan Kota Komprehensif, UKDW Undang Bupati Hasto Wardoyo

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo (kanan) dalam Kuliah Umum bertema ‘Urban Explosion, Tantangan Perencanaan Kota yang Komprehensif’, Magister Arsitektur UKDW. (Foto: Humas UKDW)
Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo (kanan) dalam Kuliah Umum bertema ‘Urban Explosion, Tantangan Perencanaan Kota yang Komprehensif’, Magister Arsitektur UKDW. (Foto: Humas UKDW)

Umbulharjo,, JOGJADAILY ** Rabu (3/2/2016), dalam kuliah umum bertema ‘Urban Explosion, Tantangan Perencanaan Kota yang Komprehensif’, Magister Arsitektur Univeritas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengundang Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo untuk berurun rembuk.

Selain Dokter Hasto, diundang pula Dosen Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM, Eugenius Pradipto.

Kuliah umum berlangsung di Ruang Harun Hadiwijono dan diharapkan dapat menggali berbagai ide dan gagasan dalam menjawab tantangan perencanaan kota yang komprehensif.

Selain dihadiri mahasiswa S-2 Magister Arsitektur, kuliah umum mengundang kalangan praktisi, dosen, serta mahasiswa S-1 tingkat akhir dengan tujuan berbagi wawasan serta mendapatkan umpan balik dalam merespons permasalahan perkotaan.

“Kuliah umum ini untuk memberi wawasan kepada mahasiswa S2, apa yang sekarang ini sedang menjadi topik permasalahan di perkotaan. Mahasiswa diharapkan punya insight untuk menyelesaikan masalah itu,” ujar Ketua Program Studi Magister Arsitektur UKDW, Profesor Titien Saraswati, dirilis Humas UKDW.

Dosen Magister Arsitektur UKDW, Eko Prawoto, mengatakan, tema Kuliah Umum diambil dengan melihat perkembangan kota yang semakin pesat.

“Beban serta tekanan yang dihadapi kota bisa-bisa melampaui daya dukung serta kapasitasnya kota menjadi sangat sarat, rentan terhadap persoalan-persoalan kehidupan, kota menjadi tegang dan meregang, akumulasi tekanan himpitan dan desakan semakin kompleks, tak terkendali lagi, urban explosion,” terangnya.

Menurutnya, persoalan perkotaan yang semakin kompleks menjadi tantangan bagi setiap kalangan dan membutuhkan penyelesaian secara komprehensif.

“Semua sendi kehidupan seolah begerak semakin pesat. Periode transisi ini sangat penting untuk bergerak dengan mengatur strategi secara tepat. Berbagai model pendekatan perlulah menjadi kajian untuk mendapatkan capaian yang terbaik dalam artian memenangkan semua aspek kehidupan,” papar Eko.

Kompleksitas budaya dan kekayaan alam, sambungnya, sering kali tidak disikapi dengan bijak. Berbagai kesenjangan menjadi terbuka menganga semakin melebar, dan akan menyisakan persoalan di masa depan.

Permukiman Desa-Kota

Sebelumnya, pada Milad Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (FTSP UII) ke-51, sejumlah 45 pakar bertukar pikiran membahas restorasi permukiman desa-kota dalam Konferensi Nasional Inovasi Lingkungan Terbangun (KNILT) 2015.

Acara digelar di Ruang Auditorium Lantai 2, Gedung Moh. Natsir, Kampus FTSP UII, Senin (12/10/2015). KNILT tahun ini merupakan konferensi nasional tahunan kali ketiga.

“Hasil KNILT ini seyogianya dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan dalam menata infrastruktur atau pun kebijakan bagi pengembangan daerah, sehingga dapat mewujudkan konsep permukiman yang madani,” ucap Ketua Panitia, Yunalia Muntafi.

Menurutnya, kegiatan ini juga ditujukan untuk memberikan apresiasi kepada pihak dan lembaga terkait yang telah memberikan sumbangsih dalam bidang permukiman di perdesaan dan perkotaan.

Konferensi nasional tahunan tersebut merupakan kelanjutan dari Innovation on Built Environment (IBE) seminar dan salah satu rangkaian acara Milad FTSP UII ke-51.

“Restorasi permukiman merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memprakarsai atau mempercepat pemulihan permukiman desa-kota yang telah mengalami perubahan atau kerusakan akibat aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung,” tutur Yunalia.

KNILT 2015 yang ke-3 tersebut mengambil tema ‘Restorasi Permukiman Desa-Kota’. Tema ini menekankan pemulihan entitas permukiman penduduk desa-kota Indonesia dalam penghidupan dan kehidupan yang bersentuhan dengan lingkungan terbangun.

Sejumlah 45 pakar menyampaikan makalah terkait. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, instansi pemerintah, dan beberapa pusat studi. KNILT diselenggarakan sebagai wadah bertukar informasi, ide, pengalaman, dan ilmu pengetahuan untuk mendukung perkembangan permukiman masyarakat desa-kota.