Darurat Sampah Nasional, UGM Bertekad Pelopori Kampus Swakelola Sampah

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof Suratman. (Foto: Humas UGM)
Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof Suratman. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Merespons situasi darurat sampah nasional, Universitas Gadjah Mada (UGM) bertekad menjadi pelopor kampus swakelola sampah. Lebih dari itu, UGM diharapkan mampu menjadi pelopor pengelolaan sampah nasional.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion ‘Menuju UGM sebagai Pelopor Kampus Swakelola Sampah’, Kamis (4/2/2016), di Ruang Sidang Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT).

Diskusi menghadirkan peneliti dari berbagai pusat studi, serta perwakilan direktorat dan departemen di lingkungan UGM. Para ahli bersama-sama merumuskan masterplan pengelolaan sampah serta roadmap untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dan berwawasan lingkungan, sehingga dapat menjadi contoh bagi pengelolaan sampah di tempat-tempat lain.

“Saya harap diskusi ini bukan hanya membawa UGM sebagai pelopor bagi kampus dengan swakelola sampah, tetapi juga sebagai pelopor dalam pengelolaan sampah nasional,” ujar Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof Suratman, dirilis Humas UGM.

Diterangkan, pada tahun lalu, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, mengatakan bahwa Indonesia dalam keadaan darurat sampah. Persoalan sampah banyak terjadi di daerah perkotaan padat penduduk, termasuk lingkungan kampus.

Depo-depo pembuangan sampah di lingkungan UGM sebagai tempat penampungan sampah dari fakultas dan berbagai unit, sebelum dibawa ke tempat pembuangan atau pengolahan sampah, belum dimanfaatkan dengan baik. Banyak sampah yang hanya ditumpuk di luar depo.

Sampah-sampah ini belum diolah secara maksimal. Padahal, jika diolah dengan benar, sampah dapat memberikan banyak manfaat.

Revitalisasi Fasilitas Laboratorium

Sejak 2011, Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM telah memiliki fasilitas pengolahan sampah organik yang dapat menghasilkan pupuk kompos. Namun, fasilitas ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Fasilitas berkapasitas hingga 30 ton tersebut hanya dipakai untuk mengolah 5-10 ton sampah organik.

“Sekarang, dengan bergantinya KP4 menjadi PIAT, saya harap pengelolaan sampah dapat digarap dengan lebih baik. Tidak hanya untuk sampah organik, tapi juga sampah non-organik. Setidaknya, 70 persen dari keseluruhan sampah dari UGM bisa dikelola di sini,” terang Kepala PIAT UGM, Bambang Suhartanto, dirilis Humas UGM.

Ia memaparkan, sampah yang berasal dari lingkungan UGM mencakup beberapa jenis sampah, mulai sampah rumah tangga, sampah organik, hingga sampah laboratorium. Bambang menekankan perlunya revitalisasi fasilitas Laboratorium Daur Ulang Sampah di PIAT untuk pengolahan sampah yang lebih terpadu dan komprehensif.

“Sampah-sampah non-organik, seperti plastik yang jumlahnya cukup banyak dapat didaur ulang; bukan hanya dibuang ke tempat pembuangan akhir,” ungkap Bambang.

Sementara Kepala Bidang Energi dan Pengelolaan Limbah PIAT, Chandra Wahyu Purnomo, menambahkan, salah satu kendala yang dihadapi selama ini adalah peralatan yang tidak bekerja secara optimal.

“Peralatan yang ada masih terbatas dan kurang efektif. Teknologi sampah seharusnya dapat didesain dengan matang serta membutuhkan kajian dan penelitian yang intensif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

One thought on “Darurat Sampah Nasional, UGM Bertekad Pelopori Kampus Swakelola Sampah

  1. marri wujudkan lingkungan sekitar kita yg bersih dan sehat, bebaskan sampah, tata kota yg baek, infrastuktur yg mendukung kelangsungan hidup. trus kampanyekan kpd masyarakat akan kesadaran sampah,beri pelatihan pengolahan dan pemberdayaanya klo bisa.

Comments are closed.