Seminar UII, Gus Mus Paparkan Tiga Modal Utama Sinergisitas NU-Muhammadiyah

Seminar FIAI UII membahas Sinergisitas NU dan Muhammadiyah. (Foto: nu.or.id)
Seminar FIAI UII membahas Sinergisitas NU dan Muhammadiyah. (Foto: nu.or.id)

Ngaglik, JOGJADAILY ** KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus, berpandangan, sinergisitas NU-Muhammadiyah dapat terwujud karena setidaknya, memiliki tiga modal utama. Sinergi tersebut dapat membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Sinergi NU dan Muhammadiyah, menurut Gus Mus, telah terjalin sejak kedua pendiri, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama menuntut ilmu di Negeri Hijaz atau yang sekarang disebut Arab Saudi.

“Beliau berdua belajar kepada Kiai Ahmad Khotib al Minangkabawi, seorang ulama besar di Hijaz yang berasal dari Indonesia. Beliau memiliki pemikiran maju, kedalaman ilmu. Murid-muridnya banyak menjadi tokoh. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, keduanya yang paling menonjol,” ujarnya dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII).

Dirilis Humas UII, seminar bertajuk ‘Sinergi NU dan Muhammadiyah dalam Membangun Peradaban Rahmatan Lil ‘Alamin’, digelar Sabtu (6/2/2016), di Kampus Terpadu UII.

Menurut tutur mantan Rais ‘Am PBNU ini, sebagai organisasi besar, menjadi hal biasa bila ada perbedaan-perbedaan. Meski demikian, perbedaan-perbedaan harus disikapi dengan bijak dan tidak menimbulkan perpecahan.

Gus Mus mencontohkan bagaimana KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan mendahulukan sikap bijak dalam memandang perbedaan di antara keduanya.

“Dalam menghadapi perbedaan yang sering terjadi di kalangan warga NU dan Muhammadiyah, mereka juga tidak kagetan. Perbedaan adalah fitrah maka dibutuhkan sikap yang menyegoro sebagaimana kedua tokoh tersebut,” terangnya.

Kiai yang mahir berpuisi itu lantas memaparkan tiga modal utama sinergisitas NU dan Muhammadiyah.

“Kalau kita lihat, NU dan Muhammadiyah untuk bersinergi sudah memiliki modal yang sama. Pertama, karena NU dan Muhammadiyah mempunyai tradisi pendalaman ilmu keislaman,” ucapnya.

Baik pendiri NU maupun Muhammadiyah, sambungnya, memiliki ilmu keislaman yang autentik. Keduanya memiliki sanad ke atas, hingga sahabat Nabi Muhammad SAW. Beliau berdua sama-sama pernah belajar dari Muhammad Abduh tentang Al-Manar.

Modal kedua, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu, pendiri NU dan Muhammadiyah memiliki hubb al-watan. Tokoh dari dua ormas ini banyak menjadi pemimpin dan terlibat perjuangan kemerdekaan.

“Kedua organisasi ini sama-sama mencintai Indonesia. Tanah Indonesia menjadi rumah bersama bagi NU dan Muhammadiyah. Seorang pengamat pernah mengatakan kalau saja tidak ada NU dan Muhammadiyah maka tidak ada NKRI,” jelasnya.

Sementara modal ketiga, kedua organisasi memiliki ruh al-dakwah yang sama. Gus Mus menerangkan, NU dan Muhammadiyah berdakwah dengan semangat mengajak, bukan menghakimi. Dakwah dengan cara-cara bijaksana membuat penduduk Nusantara tempo dulu mau menerima ajaran Islam secara lapang dan damai.

Fastabiqul Khoirot sebagai Ruh

Narasumber kedua, Ketua PP Muhammadiyah, Profesor Syafiq A. Mughni, mengatakan, NU dan Muhammadiyah telah mencapai tingkat dengan banyak kesamaan, baik dalam hal fiqih hingga aqidah.

“Oleh karena itu, yang terpenting adalah saling memahami, saling menghargai, dan ta’awun. Fastabiqul khoirot harus menjadi ruh kita. Keduanya hendaknya tidak hanya kompetisi, tapi juga ta’awun. Jika tidak ta’awun maka tidak mungkin bisa menyangga bangsa ini,” kata Syafiq.

Ia tidak memungkiri bahwa banyak persoalan antara NU dan Muhammadiyah yang sampai saat ini belum terselesaikan. Hal tersebut penting untuk disadari agar sama-sama berupaya memperbaiki dan meningkatkan sinergi. Salah satu persoalan, terkait bidang politik.

“Politik sering membuat kita terlena. Politik itu jangka pendek dan sering merugikan yang jangka panjang. Jika dalam politik sering diasosiasikan bahwa NU ke PKB dan Muhammadiyah ke PAN maka jika ada persoalan dalam politik di lapangan maka bisa menyeret kedua ormas Islam ini dan mengakibatkan sulit bersinergi. Maka politik seharusnya dibangun atas ukhuwah, bukan urusan jangka pendek,” pungkasnya.