Beri Kuliah di UGM, Dubes Belarus Komitmen Kembangkan Start Up Indonesia

Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Vladimir Lopato Zagorsky, memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM. (Foto: Humas UGM)
Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Vladimir Lopato Zagorsky, memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Pemerintah Belarus kini tengah menjalin kerja sama Iptek dan ekonomi digital dengan Indonesia. Salah satu perusahaan multinasional dari Belarus, Fenox Venture Capital, telah menanamkan investasi dengan para pebisnis pemula atau start up di Indonesia.

“Sudah ada ada 6 project untuk bisnis start up yang nilai investasinya masing-masing US$50 ribu,” ujar Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Vladimir Lopato Zagorsky, saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Selasa (22/3/2016), di ruang seminar timur Fisipol.

Kuliah umum bertajuk ‘Posisi Republik Belarus dalam menjalin hubungan internasional dan kemitraan strategis dengan Indonesia’.

Dubes Zagorsky mengatakan, hubungan diplomatik dengan Indonesia telah dimulai sejak 1993, namun kantor Kedutaan Besar Belarus di Jakarta baru dibangun 2011 lalu.

“Sudah ada 24 hasil kerja sama yang ditandatangani dalam berbagai aktivitas di bidang ekonomi, perdagangan, dan sebagainya. Baru-baru ini, Belarus juga membangun kantor konsulat di Surabaya,” ungkapnya, dirilis Humas UGM.

Indonesia merupakan salah satu negara tujuan dagang yang paling strategis bagi Belarus. Berdasarkan nilai volume perdagangan, posisi Indonesia berada di peringkat 41 dari 174 negara yang menjalin hubungan dagang dengan Belarus.

“Nilai volume perdagangan mencapai US$193,7 juta, naik 0,6 persen dibanding tahun lalu,” kata Zagorsky.

Menurutnya, Indonesia merupakan pangsa pasar potensial bagi produk ekspor Belarus, di antaranya produk berupa alat pertanian, seperti traktor, pupuk pertanian, dump truck, dan produk teknologi digital.

Sementara Indonesia banyak mengekspor produk pertanian, tekstil, dan hasil hutan, seperti kakao, kopi, tekstil, sepatu, alat musik, dan kertas.

“Ada sekitar 200-an produk dari Indonesia yang dijual ke Belarus,” tuturnya.

Mengenal Belarus Lebih Dalam

Dekan Fisipol UGM, Erwan Agus Purwanto, mengatakan, penyampaian kuliah umum dari Zargosky di hadapan mahasiswa Fisipol adalah dalam rangka memperluas wawasan mahasiswa tentang studi kebijakan luar negari yang diterapkan Belarus.

“Saya kira, tidak semua mahasiswa mengenal Belarus. Dari sini, mereka bisa mengetahui kebijakan diplomatik Belarus yang bisa dipelajari,” ucapnya.

Belarus merupakan salah satu negara di tengah Benua Eropa. Secara administratif, negara berpenduduk 9,5 juta jiwa tersebut terbagi menjadi 6 provinsi dan 118 kabupaten dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun.

Berdasarkan laporan Human Development Index (HDI) rangking, Belarus berada di peringkat 50 dari 188 negara.